Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Ise Goarmu?

Ise Goarmu?
Dalam tata pergaulan sosial masyarakat Batak (Toba), pertanyaan "Ise goarmu?" (siapa namamu?) tak santun bila ditanyakan seorang anak remaja kepada orang dewasa yang sudah menikah.

Kalau enggak didamprat, ya minimal diomelin (dipissang). Aturan ini tergolong sangat ketat. Efeknya juga luarbiasa.

Sejauh aku lihat dan alami sendiri sih belum pernah tuh seorang anak bertanya "Siapa namamu?" kepada orang yang lebih tua atau sudah menikah.

Sebaliknya, tak ada yang melarang seorang dewasa mengutarakan pertanyaan "Ise goarmu?" kepada anak kecil atau kepada orang yang lebih muda darinya, kecuali yang sudah menikah.

*****

Ini juga kisah menarik. Waktu masih kelas 1 SMP, aku punya teman sekelas yang menikah gara-gara 'serangan sperma' pacaranya. Nah, karena masih tinggal di desa yang sama, aku masih terbiasa memanggil nama aslinya. Sebut saja namanya Dormarhallet.

Eh, beberapa orangtua menegurku begini, "Unang sai jou goarna i. Ai satokin nari marpese-pese nama i. Bereng ma siubeonna i. Sabulan nai hipas na ma ibana. "Namboru" nimmu do antong tu ibana.

(Hushhh. jangan biasakan panggil dia dengan nama aslinya, Dormarhallet. Ntar lagi dia dah mau punya anak loh. Tuh, liatin perutnya udah buncit. Mungkin sebulan lagi dia sudah punya anak. Makanya, kamu harus panggil dia "Namboru".)

Intinya, selain karena usia yang lebih tua, seseorang dianggap dewasa dan terhormat dalam tata pergaulan sosial masyarakat Batak juga ditentukan oleh status perkawinan.

Seorang yang sudah kawin, oleh karenanya, pastilah sudah dewasa. Termasuk seperti temanku tadi, yang menikah setelah lulus 5 bulan dari SD. Ia harus dipanggil ito, namboru, eda, nantulang, pariban, inang bao, dst.

Ini lantas berarti, bagi orang Batak, seseorang diapandang atau disebut dewasa itu disebabkan oleh dua unsur: umur dan status perkawinan.

Misalnya, Dosmar Simanungkalit yang sudah seumur HUT-RI, tapi belum menikah tak layak lagi memanggil nama asli dari adiknya yang berusia 35 tahun tapi sudah beranak pinak hingga 5 orang. Ia harus memanggil "anggi" kepada adik kandungnya dan "anggi boru" kepada adik iparnya.

Perkawinan itu sangat esensial bagi orang Batak, Selain menjadi sebuah prasyarat menjadi "manusia yang lengkap" juga karena perkawinan sendiri juga berfungsi untuk mempercepat laju kedewasaan seseorang.

Buktinya, tak jarang terjadi ketika para orangtua yang sudah uzur tak jadi meninggal hanya karena menanti saat anaknya menikah. Juga, sering terjadi beberapa orangtua Batak melihat perkawinan sebagai kutuk atau berkat.

Bila 10 anaknya yang sudah dewasa belum menikah itu derita tingkat 1. Sedangkan bila 9 dari 10 anaknya sudah menikah tetapi ada 1 lagi belum menikah, maka itu derita tingkat 2. Sementara bila ke-10 anaknya belum menikah padahal sudah pada tua, maka itu adalah derita tingkat tinggi.

Entah ini fenomena atau tidak, tetapi selepas abad millenium kedua, pria dan wanita Batak rata-rata baru menikah di usia 30 tahun atau di atasnya. Kecuali yang masih bersemayam di kampung halamannya yang belum tersentuh Facebook dan Twitter. Hehehe.

Maka, orang tua mereka yang rata-rata lahir di tahun 1930an hingga 1950an biasanya mulai resah Begini cara mereka mengeluh,

"Ai holan ho na ma holsokku, anaku/boru-ku. Nanggo apala hatop ma nian ho mangoli/muli, ase lambas pakkilaan ni bapa dohot omamu molo naeng mate. Sipata sai sukkun-sukkun roha namu nadua, amang/inang: "Ai na so lakku do naen anak/boruku i? Atik pen nian dang lakku tu naposo i, bah atik na duda manang janda pe taho dang pola boah nian. Napenting asal ma kawin ho, amang/inang."

Terjemahannya kurang lebih begini: "Hanya kamulah satu-satunya ganjalan hidupku hingga kini, anakku/putriku. Ayah-ibumu ingin sekali kamu cepat-cepat menikah, biar kami siap bila ajal menjelang.Kadang sih terpikir juga oleh kami, jangan-jangan kamu itu sudah tak laku sama perjaka/gadis, tetapi kalaupun akhirnya kamu harus menikahi duda/janda taka apalah. Yang penting kamu menikah."

*****

Entah karena 'iman' orang Batak yang percaya bahwa "sangap ni sasahalak jolma, ima molo nunga mangoli/muli ibana jala dapot pasu-pasu: godang anak godang boruna" (kehormatan seseorang ditentukan apakah ia sudah menikah dan punya banyak anak).

Ya, mungkin itu alasan mengapa teman SD ku tadi rela memutus masa remaja, masa dewasa dan masa depannya hanya karena ia tak ingin lagi dipanggil Dormarhallet Wati.

Benar saja, ia kini sudah dipanggil dengan sebutan Oppung Dorsukaman br. Siburian. Padahal saat aku SMA hingga kuliah, ia masih dipanggil dengan sebutan Nai Bursikman br. Siburian.

Amang tahe...
Beta hamu tu Samosir bo....

#SaiNaAdongDoHalakHitaOn



Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter