Merawat Iman Katolik Dalam Keluarga

Merawat Iman Katolik Dalam Keluarga
Keluarga muda katolik yang baru selesai melangsungkan perkawinan sering kali jarang tampak pergi ke Gereja. Hal ini wajar saja karena sedang mabuk suka cita, kegembiraan, dan sedang saling membuka jati diri sesungguhnya. Seringkali masing menjadi satu tinggal bersama saudara, mertua atau orang tua sendiri.

Terlena tinggal lama dengan keluarga besarnya sering tidak mandiri dalam kehidupan suami istri, semestinya tanggung jawab keluarga muda ini besar untuk mau belajar hidup rumah tangga yang terpisah dari keluarga besarnya tidak menyadari bakal mempunyai anak dan mengurus keluarga sendiri.

Alangkah baik kalau ada salah satu anggota keluarga besar yang mengingatkan untuk selalu mengajak kegiatan Lingkungan dan ke Gereja setiap minggu maksudnya agar keimanan mereka tetap terjaga.


(1) Aktif Di Lingkungan/Stasi dan Paroki
Memang pada awalnya hidup mandiri sebagai keluarga muda baru agak merepotkan. Dengan susah-payah mereka harus mengatur kehidupan bersama, baru menyesuaikan karakter masing masing dan secara perlahan melupakan orang tua dan saudara.

Dalam masa penyesuaian ini lama sehingga agak sulit bergaul dengan anggota Gereja di Lingkungan-nya dan yang sering terjadi sembunyi dari Lingkungan gereja Katolik selama tidak ada masalah besar dalam keluarga. Jika ada masalah besar baru mencari pengurus lingkungan Gereja Katolik yang terdekat.

Selama pacaran dan mengikuti Kursus Persiapan Perkawinan (KPP), seringkali para Pembina dan pastor yang mengajarkan menganjurkan setelah menikah untuk bergabung dengan Lingkungan terdekat di mana domisili sekarang. Maksudnya, agar pasutri baru itu diakui eksistensinya sebagai keluarga mandiri yang beriman.

Selama masih bergabung dalam Lingkungan, mereka akan diajak keterlibatan kegiatan gereja. Hal ini semua agar kebersamaan dengan masyarakat gereja menjadi padu dan tetap beriman katolik setidaknya.

Mendaftarkan diri menjadi anggota Gereja di Lingkungan di mana keluarga muda tinggal memang dianjurkan, agar semua pengurus lingkungan dapat berbagi kebersamaan sebagai masyarakat Gereja Katolik.

Kerukunan dalam kebersamaan masyarakat Gereja sangat penting mengingat jumlah yang sedikit dan berjauhan akan saling punya ikatan batin sebagi anggota Gereja. Suka dan duka akan saling berbagi dengan saudara seiman dan saling melayani lebih diutamakan.
"Ikatan anggota Gereja Katolik yang kuat akan menumbuhkan kepercayaan diri bahwa keluarga muda baru tidak hidup sendiri ditengah masyarakat yang majemuk, terlebih ada yang saling mengingatkan dari anggota lingkungan jika ada anggota yang akan pindah keyakinan. Anggota masyarakat yang tidak seiman sering kali tidak ada cuek , tidak mempedulikan orang yang tidak seiman , pada kesempatan inilah menjadi anggota lingkungan akan menjadi solid di tengah masyarakat yang majemuk."

(2) Keluarga dan Doa

Keluarga muda seringkali banyak godaan dalam memulai kehidupan baru, terutama hal duniawi memang wajar mereka masih memikirkan harta benda yang diperlukan untuk membantu dalam proses kehidupan.

Godaan duniawi yang mereka cari masih menjadi impian yang terkadang menjadi batu sandungan dalam mulai proses hidup bersama, tetapi kita harus melibatkan Tuhan dalam segala persoalan duniawi. Dengan berdoa (berdialog dengan Tuhan) ia memohon Allah untuk membantu mengatasi persoalan hidupnya.

Orang beriman mempercayakan diri penuh pada Allah , sebagaimana Ia berkenan menyatakan diri melalui ciptaan-Nya Tuhan Yesus Kristus, dan pertolongan pun akan datang segera. Membangun keluarga baru melalui ikatan perkawinan yang sah menurut Gereja dan Negara memang banyak rintangan, untuk melalui berbagai rintangan memang diperlukan tahan uji diri yang kuat, untuk membentengi keutuhan rumah tangga terutama yang masih baru diperlukan keteguhan iman.

Kitab suci yang merupakan modal awal kerohanian pasangan setelah pemberkatan sering kali tidak pernah disentuh , juga Rosario jarung digunakan untuk berdoa. Perangkat ini memang sering terabaikan , karena tidak menyadari kehadiran Tuhan yang selalu menyertai kita sepanjang hidup. Kitab Suci dan Rosario bahkan hanya digunakan jika ada hal hal yang tidak dapat diselesaika bersama, dan sudah tidak mampu menyelesaikan persoalan secara nalar manusia.

Dari persoalan inilah peran Tuhan diperlukan , yang sebetulnya peran Tuhan dalam membangun keluarga baru dimulai setelah selesai pemberkatan. Kealpaan ini karena diantara anggota keluarga besar pasangan tidak ada yang mengingatkan untuk berdoa. Kebersamaan dalam membangun keluarga baru merupakan pelajaran hidup pasangan yang sah, dalam perjalanan hidup setiap pasangan banyak perbedaan.
Pelajaran ini juga untuk mempertahankan hidup yang bertanggung jawab terhadap sesama dan Allah.  Segala aktifitas keluarga baru mesti dipertanggung jawabkan. Jika salah dalam mengambil sikap keputusan akan beresiko yang tidak baik hal ini yang terkadang sulit diterima akal sehat manusia. Lagi-lagi, di sini, Tuhan dihadirkan untuk menolong menyelesaikan persoalan kehidupan rumah tangga.

Allah Tuhan kita tak pernah mengeluh dan tidak menghentikan permohonan manusia. Maka yakinlah Tuhan pasti menolong hidup kita , melalui iman yang telah dimiliki pasangan keluarga baru.  Setiap manusia Dia berikan talenta masing-masing, begitu juga dengan pasangan keluarga baru katolik dalam membangun keluarga dengan talenta masing-masing. 

Sekarang bagaimana talenta itu dapat diberikan pada keluarga besarnya, seperti keluarga dalam Lingkungan Gereja Paroki dan keluarga pribadi ? Dari keluarga baru ini diharapkan oleh Tuhan, yang dahulu melalui Petrus membangun gereja Allah sampai sekarang untuk meneruskan karya Tuhan di dunia ini tidak terputus.

Seperti janji Tuhan bahwa kerjaanNya tak kan berakhir, jadi keluarga keluarga Katolik merupakan penerus atau pewaris kerjaan Allah melalui iman Tuhan Yesus Kristus. Begitu juga Gereja, keluarga merupakan pendukung utama kehidupan Gereja, ini karena Injil yang diwartakan tergantung dari Gereja rumah tangga.


Harapan Bagi Keluarga Katolik

Harapan bagi keluarga baru katolik adalah: dikaruniakan anak anak yang sehat yang lahir dari keluarga beriman. Kehidupan dalam keluarga juga menjadi sekolah atau pelajaran harian bagi anak anak sehingga orang tua bertanggung jawab pendidikan tentang bagaimana menjalani kehidupan sebagi orang beriman.

Pada janji pernikahan nantinya setelah menjadi orangtua karena dikaruniai anak dan dipercayakan Tuhan, akan bertanggung jawab mendidik anak anaknya dengan baik termasuk keimanannya. Dengan pelajaran harian dan merupakan pengalaman hidup yang sangat berharga untuk membangun keluarga yang beriman dalam anggota masyarakat yang majemuk disekitar kita.

Sebagai anggota gereja yang baru dan sangat penting adalah kesediaan pengorbanan segala hal dan mau saling melayani. Seperti Tuhan Yesus Kristus mengorbankan diriNya untuk kita: Ia mengorbankan nyawaNya demi menebus dosa dosa kita umat manusia biasa yang tidak kalah penting semasa Tuhan masih berkarya mau melayani umat yang berdosa, menjadi panutan kita sampai sekarang.

Begitu juga kita sebagai anggota gereja sebaiknya mau mau mengorbankan sebagian talenta kita untuk melayani sesama agar semua umat beriman memperoleh kasih karunia Allah dan diselamatkan dalam hidup penuh rahmat. Marilah kita mulai menjadi pelayan Tuhan pada saat yang tepat dalam PASKAH untuk memulai pengorbanan dan pelayanan yang dengan kedamaian.


Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter