iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

Air Suci: Makna dan Penggunaannya Dalam Perayaan Ekaristi

Air Suci: Makna dan Penggunaannya Dalam Perayaan Ekaristi
Seturut tradisi, kita menempatkan bejana-bejana air suci dekat pintu masuk gereja. Penempatan dan penggunaan air suci sesungguhnya berhubungan dengan praktek pentahiran (pembersihan diri) bangsa Yahudi Perjanjian Lama.

Kitab Imamat menjelaskan berbagai macam ritual pentahiran mempergunakan air untuk menghapus “kenajisan” tertentu, misalnya akibat menyentuh jenazah, haid, melahirkan atau terjangkit kusta (bdk. Imamat 12-15).

Orang juga membersihkan diri dengan air sebelum memasuki pelataran Bait Allah, memanjatkan doa dan mempersembahkan kurban, juga sebelum makan. Karena alasan inilah, dalam Balai Imam (area sebelum bangungan Bait Allah yang sesungguhnya) ditempatkan bejana perunggu yang sangat besar berisi air. 

Di sini para imam membersihkan tangan serta kaki mereka sebelum mempersembahkan kurban di altar di dekatnya, menyucikan diri sebelum memasuki Bait Allah, dari sana juga diambil air untuk keperluan pentahiran lainnya seperti ditetapkan dalam ritual-ritual bangsa Yahudi. 

Yang menarik, komunitas Qumron, yang tinggal dekat Laut Mati dan yang membuat Gulungan Laut Mati (Dead Sea scrolls), juga memiliki kolam-kolam pentahiran untuk membersihkan diri bukan saja dari “kenajisan” luar, tetapi juga dari dosa.
Kita juga mempunyai bejana-bejana berisi air suci untuk berkat karena tiga alasan: sebagai tanda sesal atas dosa, sebagai perlindungan dari yang jahat dan sebagai tanda peringatan akan pembaptisan kita. Sesal atas dosa digambarkan dengan membersihkan diri dengan air seperti dinyatakan dalam Mazmur 51: 
“Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!” (3-4, 9). 
(*Hisop adalah tumbuh-tumbuhan yang kecil, yang batang dan daunnya dipergunakan untuk memercikkan barang cair). 

Air suci ajakan untuk bertobat

Ingat juga bagaimana St. Yohanes Pembaptis memanggil semua orang untuk bertobat dengan menggunakan ritual membersihkan diri dengan air sebagai tanda sesal atas dosa dan penyucian diri.Tindakan-tindakan ini dimasukkan dalam Misa kita. 

Dalam Ritus Tobat, salah satu cara menyatakan tobat adalah Asperges, yang terdiri dari Ritus Berkat dan Memerciki dengan Air Suci.

Sementara imam berjalan melewati umat sambil memerciki mereka dengan air suci, umat biasanya memadahkan Asperges Me (= Percikilah Aku), yang disusun berdasarkan Mazmur 51. Bersama-sama, setiap jemaat menyatakan sesal dan tobat atas dosa.

Air suci melindungi kita dari yang jahat

Dalam doa pemberkatan air dalam ibadat, kita berdoa: “Tuhan, Allah yang Mahakuasa, pencipta segala yang hidup, baik tubuh maupun jiwa, kami mohon sudilah memberkati air ini, yang kami gunakan dalam iman untuk mengampuni dosa-dosa kami dan melindungi kami dari segala kelemahan dan kuasa jahat. 

Tuhan, karena belas kasihan-Mu berilah kami air hidup, yang senantiasa memancar sebagai mata air keselamatan; bebaskan kami, jiwa dan raga, dari segala mara bahaya, dan ijinkan kami menghadap hadirat-Mu dengan hati yang murni.”

Air suci mengingatkan kita akan pembaptisan kita

Ketika oleh karena seruan kepada Tritunggal Mahakudus dan penuangan air suci, kita dibebaskan dari dosa asal dan dari segala dosa, dicurahi rahmat pengudusan, dipersatukan dalam Gereja, dan diberi gelar putera-puteri Allah. 

Dengan membuat Tanda Salib dengan air suci, kita disadarkan bahwa kita dipanggil untuk memperbaharui janji-janji baptis kita, yakni menolak setan, menolak segala karya-karyanya, dan segala janji-janji kosongnya, serta mengaku syahadat iman kita.

Sekali lagi, kita menyesali dosa-dosa kita, agar kita dapat memanjatkan doa-doa kita dan beribadat kepada Tuhan dengan hati murni dan penuh sesal. 

Seperti air dan darah yang mengalir dari Hati Yesus yang Mahakudus sementara Ia tergantung di atas kayu salib - yang melambangkan Sakramen Baptis dan Sakramen Ekaristi Kudus yang sungguh luar biasa, tindakan mengambil air suci dan membuat Tanda Salib mengingatkan kita akan Baptis kita dalam mempersiapkan diri menyambut Ekaristi Kudus.

Janganlah pernah kita meragukan kuasa sakramentali yang mengagumkan ini. St. Theresia dari Avila, dalam otobiografinya: 'Buku Riwayat Hidupnya', menulis tentang kuasa air suci: 
“Suatu ketika aku sedang berada di oratorium, dan [iblis] menampakkan diri kepadaku dalam bentuk yang sangat menjijikkan di samping kiriku. Karena ia berbicara kepadaku, aku melihat terutama bagian mulutnya - yang adalah bagian yang paling mengerikan. Tampaknya suatu bara yang dahsyat, yang seluruhnya menyala-nyala, memancar dari tubuhnya. 
Ia mengatakan kepadaku dengan cara yang sangat mengerikan bahwa aku telah sungguh berhasil meloloskan diri dari cengkeramannya, tetapi ia akan menangkapku kembali dengan cakar-cakarnya. Aku tergoncang hebat karena ngeri dan segera memberkati diri sebaik yang dapat kulakukan; setan lenyap, tetapi segera kembali lagi.  Hal ini terjadi hingga dua kali. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. 
Ada air suci di sana, dan aku memercikkan air suci ke arahnya; ia pun tidak pernah kembali lagi…. Seringkali kualami bahwa tak ada yang membuat iblis lari terbirit-birit - tanpa pernah kembali lagi - selain dari air suci. ” (bab 31). 
Dari kesaksian seorang santa besar, kita tahu betapa pentingnya bukan saja berhenti sejenak untuk memberkati diri kita dengan air suci sementara kita masuk maupun keluar Gereja, tetapi juga pentingnya menyediakan air suci di rumah-rumah kita.


Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.