Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Ketika yang Sosial Mirip degan yang Asosial

Ketika yang Sosial Mirip degan yang Asosial
"Ketika yang sosial itu membuatmu asosial", itulah dunia maya. Media sosial telah berhasila mengaburkan makna, bahkan kata itu salah digunakan, entah karena keseleo lidah atau memang karena itu datang dari otak dan hatinya.

Sebutlah kata "Tuhan" yang terkadang diganti dengan kata "hantu", kata seru "Ya Allah" bahkan kerap berarti sama dengan "Ya elah, ya iayalah".

Tak hanya salah penggunaan, atau salah pengertian, tetapi juga pereduksian. Ratna Sarumpaet dan para anggota DPR yang tak ada lagi yang menghormati, dll adalah contoh terdepan dalam tindakan mereduksi ini.

Ratna Sarumpaet cs itu memaksa mulutnya menjadi mulut rakyat, otaknya otak rakyat, emosinya emosi rakyat, telinganya telinga rakyat, dan semua kediriannya adalah representasi kata "rakyat" yang sesungguhnya.

Media sosial sangat rawan menjadikan kata-kata mengalami degradasi makna, tetapi serentak juga gradasi makna. Dan pemenangnya adalah kata-kata yang paling banyak digunakan.

Atau dalam istilah kekinian, sang juara itu bernama ‪#‎TrandingTopic‬. Bisa jadi ini yang menjadi alasan Budi Sambazy menggelari mayorites netizen Indonesia dengan istilah jarpendos (jari-jari penuh dosa), khususnya kepada netizen yang main hantam tanpa sensor, menebar fitnah, gosip, bahkan memposting sesuatu yang dilarang.

Tentu saja masih banyak dari pengguna media sosial di negara kita yang berpikir fesbuk itu pengganti agen hariannya, twitter itu sebagai pengganti buku puisinya, instagram itu sebagai pengganti album foto yang biasa dipajang di ruang tamu rumahnya, BB/WA sebagai alarm pengingat siapa saja kenalannya, dan seterusnya.

Seorang profesor tua pernah mengatakan ini kepada semua netizen :

Jangan berdoa di fesbuk, bukan karena Tuhan tak punya akun fesbuk, tetapi karena Tuhan tak ada digenggaman Mark Zukeberg atau pemiliki medsos lainnya
Jangan pacaran di fesbuk atau media sosial lainnya, bukan pertama-tama karena itu bisa membahayakan, tetapi karena kalian tak akan pernah mempunya keturunan setelah Anda menikah di fesbuk.

Jangan mengumbar seluruh aktivitas hidupmu di fesbuk atau media sosial, karena semakin hari tak ada lagi yang tersisi dari hidupmu selain apa yang telah kau Anda posting di akun sosial Anda.

Juga tak perlu mengaku dosa di fesbuk dengan tujuan agar semua orang tahu Anda bukan seorang pendendam, sebab hal itu justru mengakibatkan si 'korban' (orang yang anda sakiti, misalnya) akan merasa Anda mengumbar penderitaannya.

Akhirnya tulisan ini hanya mengingatkan bahwa fesbuk dan media sosial lainnya adalah sarana atau media. Tak lebih dari itu. Kecuali Anda memperlakukan fesbuk sebagai alun-alun kota, bahkan sebagai rumah Anda sendiri.
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter