Ad Unit (Iklan) BIG

Katakan Cinta

Katakan Cinta
Hampir semua orang pernah jatuh cinta, tapi tidak semua mengatakannya. Banyak pasangan mengikat janji untuk selalu setia, tapi tidak semua mau mengulanginya kembali. Entah mengapa, cinta seperti menjadi 'kesalahan', menjadi rahasia yang tak mau dikatakan, rahasia yang akhirnya hanya menyakitkan.

Syair lagu dari KLA Project ini mengungkap sebuah ironi: "Seandainya saja mampu bibirku 'tuk menuai kata, niscaya hatimu kan terkesima sebuah rahasia, rahasia s'lama ini terpendam dalam harap.. Diriku yang seolah sekedar sahabatmu, namun sesungguhnya inginkanmu." Ah, sebutlah itu romantisme. 

Tapi kita sendiri sebenarnya sudah terperangkap di dalamnya. Sekelompok remaja tertawa dan memprotes pemberi renungan dalam acara Hari Cinta Kasih. Mereka tertawa geli karena dikatakan bahwa kalau punya pacar itu jangan cuma satu, tapi banyak. Tapi pembicara itu tidak sedang bercanda.

Ia punya keyakinan, bahwa kelemahan anak muda ialah tidak mampu 'mengatakan' perasaan mereka. Atau, mereka mengungkapkannya dengan intensif, tapi hanya pada satu orang. Cinta menjadi eksklusif, milik sendiri, sebuah rahasia, yang akhirnya dilakukan sembunyi-sembunyi. 

Lihatlah, persoalannya bukan lagi sekedar 'cinta tak sampai', melainkan cinta yang egoistis. Mari kita renungkan, bahwa Natal adalah cinta yang apa adanya, yang diungkapkan bukan karena nafsu, bukan karena sebuah egoisme.

Injil Yohanes sama sekali tidak mengisahkan tentang kelahiran Yesus. Dalam Injilnya, Yohanes melihat Sang Sabda, The Word, Sang Kata, Kata Cinta yang Menjadi Manusia. "Sabda telah menjadi daging, dan tinggal di antara kita."

Sabda itulah "Terang yang bercahaya dalam kegelapan, dan kegelapan tidak mampu menguasainya." Apa maksudnya? Mari memusatkan perhatian pada 'Sabda' itu. Sabda itu menjadi manusia, menjadi seperti kita sendiri. 

Ia 'mengatakan' siapa diri-Nya, supaya kita mengenali-Nya dan tahu seperti apa rasanya diampuni, diterima, dipeluk, dan dicintai oleh Tuhan. Setiap kali kita 'mengatakan' cinta pada seseorang, kita 'mengatakan' Tuhan!

Apa yang terjadi pada Natal menurut Injil Yohanes ialah "Allah kini beserta kita." Allah yang serba tak terbatas itu 'tertangkap' dalam dunia pengalaman kita, kisah hidup kita sehari-hari, kegelisahan dan sukacita kita yang demikian sementara ini. Sebetulnya, Ia membiarkan diri-Nya kita tangkap dengan indera kita, kita lihat dan kita ajak bicara. 

Yohanes tidak suka romantisme Natal, tapi sekaligus ia mengungkapkan cinta Allah yang sangat menyentuh hati. Ketika Yesus tidak digambarkan sebagai seorang bayi, Ia hadir serentak dan berulang kali dalam diri manusia-manusia yang riil di sekeliling kita, mereka yang menyayangi kita tidak secara rahasia melainkan terang-terangan.

Sungguh banyak kata-kata kita ucapkan sepanjang hari ini, dan masih banyak lagi esok hari, di rumah, di tempat kerja, di telepon, di jalan, di tempat kita menghabiskan waktu luang. Berapa banyak sms, obrolan, e-mail yang kita ketik untuk mengucapkan selamat Natal? 

Sebagian besar itu semua adalah 'copy and paste', kita terima dari seseorang dan kita kirimkan lagi kepada orang lain. Dari ratusan, atau ribuan, perkataan kita setiap hari, berapa banyak yang mengungkapkan cinta dan perhatian kita secara pribadi? 

Berapa persen yang menunjukkan hati kita yang berbunga-bunga, tatapan penuh rasa sayang, senyum tulus yang menghangatkan jiwa? Kita mungkin akan heran, betapa 'pelit' kita selama ini mengatakan Cinta kepada orang lain.

Yesaya, dalam bacaan I, memuji-muji betapa indahnya kedatangan "pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, berita keselamatan: Allahmu itu Raja!" Kabar baik yang diungkapkan itu indah, menyenangkan, menyelamatkan. 

Di kala yang kita dengar dari dunia ini semata-mata kabar buruk dan menyedihkan, Allah tetap menyampaikan kabar baik yang menguatkan dan memberi harapan baru kepada kita. Masalahnya, siapa yang akan mengatakannya? Siapa yang akan 'mulai' berbicara tentang kebaikan dan harapan di tengah pesimisme yang nampaknya sudah sehari-hari?

Harus ada yang 'mulai' berbicara. Harus ada kerelaan, keberanian, kesetiaan untuk mengungkapkan Cinta. Ingat, kita akan selalu ditekan oleh rasa curiga orang lain, dipandang sebagai 'orang aneh', dianggap punya masa kecil yang kurang bahagia, bersikap 'murahan' dan gampangan, sentimentil, sampai bahkan dianggap menyebalkan. 

Itu semua karena orang zaman ini serba mencurigai Cinta, berprasangka terhadap setiap ungkapan kasih yang sebetulnya tulus dan apa adanya. Tentu saja, kita punya plih: mengalah terhadap prasangka itu dengan diam, atau mengungkapkan kasih dengan segala risikonya.

Natal bukanlah sebuah rahasia. Natal adalah ungkapan cinta yang didengar oleh semua orang. Tidak ada yang rahasia di sana. Tidak usah ditahan-tahan dan dipendam. Katakanlah Cinta tanpa khawatir akan kehilangan apapun. Kita hanya akan khawatir kalau mulai menuntut atas nama Cinta. 

Buanglah tuntutan dan nafsu kita jauh-jauh, dan ungkapkanlah 'siapa' Tuhan kita Yesus Kristus yang hari ini kita rayakan kelahiran-Nya. Ungkapkanlah 'Kata Cinta' itu kepada mereka yang selama ini belum pernah mendengarnya dari mulut kita. Sungguh tidak sulit untuk melakukannya. Amin.

*Bacaan: Yes 52:7-10; Ibr 1:1-6; Yoh 1:1-18


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter