Entri yang Diunggulkan

Kita Sedang Memproduksi Diri Kita Sendiri

Sejalan dengan Michel Foucault, di dunia postmodern, orang tak ingin menemukan dirinya sendiri, rahasia-rahasianya dan kebenarannya yang tersembunyi. Orang justru merasa diwajibkan untuk menciptakan dirinya sendiri. Melalui kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi, relasi antar manusia semakin…

Maaf, Anda Siapa?

Maaf, Anda Siapa?
Sebetulnya jauh lebih nyaman dan tenang hidup sebagai orang biasa. Tapi entah kenapa hanya sedikit orang yang seperti ini. Di mana-mana orang lebih suka dikenal dan dihormati.

Para dokter muda, misalnya, suka mengenakan jas putih sampai di jalan di luar rumah sakit, supaya orang tahu dan segan, "Wah ada dokter lewat..."

Padahal, para dokter spesialis senior justru tampil sangat sederhana, dengan pakaian biasa tanpa jas putih mereka. Contoh lain, beberapa mobil ditempeli stiker khusus polisi atau pangkat militer. Itu supaya orang yang melihatnya takut dan menyingkir, memberi jalan pada penegak hukum dan pembesar. Dan masih banyak contoh lain. Mungkin kita juga ingin begitu? 

Kalau bicara soal kebanggaan dan penghormatan, tak habis-habisnya. Ini bukan melulu soal profesi, tapi soal bagaimana kita melihat diri sendiri. Dan kita melihatnya seringkali terlalu tinggi. Gaya bicara dan gerak gerik kita pun cukup untuk membuktikan hal itu. 

Coba kita sadari cara kita bicara kepada pelayan di restoran, cara memberikan uang kepada tukang parkir, cara melambai kepada satpam di kantor, sampai pada tingkah laku kita saat antri di loket bank. Mungkin tidak disadari, tapi semua itu seakan berbicara "tolong hormati saya." 

Coba bayangkan kalau keyakinan diri kita (yang berlebihan) itu suatu saat membuat orang mempertanyakan "Maaf, Anda ini siapa?" Hampir pasti, kita akan naik darah, bersikap kasar, dan melecehkan orang lain.

Pengajaran Yesus hari ini membuat orang bertanya-tanya. Tidak bolehkah kita menyebut siapapun 'guru' atau 'bapa'? Tidak bolehkah kita menghormati imam atau pemimpin kita? Tunggu dulu. Nampaknya kita terlalu memperhatikan larangan-larangan yang disampaikan Yesus. 

Mungkin karenanya kita melewatkan satu kalimat penting yang adalah inti ajaran Yesus kali ini. Kalimat ajaib ini berbunyi: "Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu."

Perhatikanlah, kata-kata itu bukan pengandaian. Ia tidak berbunyi "kalau kamu ingin jadi besar, jadilah pelayan". Bukan. Bukan begitu. Tidak ada kata 'kalau'. Kalimat Yesus itu langsung menunjuk pada semua orang yang merasa dirinya 'besar' atau merasa 'paling besar'. 

Siapapun yang berpikir begitu, harus belajar untuk melayani. Semakin merasa diri 'besar', semakin besar pula tuntutan untuk melayani. Karena bukan pengandaian, kalimat ini hanya membawa konsekuensi. Dan konsekuensi itu, entah kita suka atau tidak, akan terjadi.

Sebenarnya sikap ingin dihormati itu berakar pada 'idolatri'. Apapun bisa menjadi 'idol' atau 'idola' kita. Karenanya, idol bukan hanya barang atau uang, tapi juga orang, bahkan, diri sendiri pun bisa jadi idol kita. 

Kita sudah tahu bahwa orang ingin disegani karena pakaian yang dikenakannya, karena pangkat yang ditunjukkan lewat stiker, atau barang-barang mahal yang ditentengnya. Ada juga orang yang menuntut hormat karena dia itu ajudan atau bahkan (pasukan) pengawal orang besar. 

Kadang-kadang seorang pengawal pun lebih kejam daripada atasannya sendiri. Akhirnya kita bisa mengidolakan diri sendiri, menempatkan dan menilai diri terlalu tinggi, terlalu 'berharga' dan 'berjasa' atas diri orang lain.

Teguran Maleakhi dalam bacaan pertama benar-benar keras terhadap para imam. Teguran ini menyiratkan juga kemunafikan di antara para imam yang terlalu kentara. 

Mereka pikir mengajar itu sekedar berbicara, sementara kelakuan mereka melecehkan perjanjian dengan Tuhan. Tentu saja, bicara itu gampang, apalagi kalau kita punya posisi dan kewenangan. Yang sulit adalah 'berbicara' melalui tindakan. 

Masalahnya, kalau orang sudah jadi pemimpin atau punya kedudukan, biasanya semakin banyak bicara dan semakin gengsi melakukan pekerjaan bawahan. Ia mengidolakan dirinya sendiri. Ia sudah 'berubah'.

Sebuah 'peringatan' yang boleh membuat kita hati-hati, ialah kalau orang sampai mengatakan kepada kita bahwa kita sudah 'berubah'. Pasti ada sesuatu yang membuat kita berubah, dan dalam hal ini perubahan itu tidak baik. 

Yang pertama harus kita teliti ialah apa 'idol' kita saat itu. Adakah posisi, kewenangan, kemampuan, uang, gelar, keberhasilan, atau relasi dengan orang tertentu, yang membuat kita jadi 'lain'? Adakah sesuatu yang membuat kita tiba-tiba merasa hebat? 

Di seluruh Injil, tidak satu kalipun Yesus merasa diri hebat. Kuasa yang diterima-Nya dari Bapa justru membuat-Nya mampu melayani, memberikan diri, membela mereka yang dipojokkan dan ditindas.

Tidak perlu menerapkan sabda Tuhan ini kepada orang lain. Kita keliru kalau mengira seakan-akan kita tidak termasuk yang ditegur Tuhan. Tapi kita bisa mencoba sebuah tips yang sederhana ini: jadilah orang biasa. 

Apapun yang kita miliki, setinggi apapun gelar kita, se-elit apapun profesi kita, sebagus apapun mobil atau handphone kita, secanggih apapun keahlian kita -- jadilah orang biasa. Itu artinya, kita tetap mau berdiri di antrian meskipun panjang, mau tampil tanpa atribut-atribut, dan tak usah naik darah kalau orang tidak mengenali kita.

Kalau saja kita sadar dan rela bersikap demikian, kita sudah mengalahkan idol-idol itu. Percayalah, kita hanya bisa melayani, kalau kita menjadi orang biasa, di hadapan Tuhan maupun sesama. Amin.

*Bacaan: Mal 1:14b--2:2b.8-10; 1Tes 2:7b-9.13; Mat 23:1-12 


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter