iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

9 Jatidiri Orang Batak Toba


Sinurat sebagai kumpulan orang Batak Toba bermarga Sinurat kini sedang memasuki era aufklarung (masa kegelapan). Sebagai bagian dari Sinurat, kita harus mengakui kalau punguan kita sedang bergumul dalam konflik internal.

Ini fakta. Bukan isapan jempol belaka. Stakeholders Punguan Sinurat Dohot Boru (PSDB) se Indonesia, anggota grup percakapan WhatsApp PSDB (1-2), SBI (Pusat, Sumut, Medan, dll), DPP PSDB, Pembina/Penasihat, Grup Facebook Sinurat, Boru, dan Bere se-Indonesia, grup percakapan di telegram dan berbagai group online lainnya mengakui fakta di atas. 

Sekali lagi, di tataran internal Sinurat sedang terjadi konflik. Ada dua, bahkan tiga kelompok yang sedang bertikai: 
  1. DPP PSDB sebagai pihak yang punya legal standing, 
  2. kelompok Sibisa yang merasa pernah diminta mencari tanah di Sibisa dan akhirnya dihianati, dan
  3. pihak yang dikorbankan karena merasa tanahnya dicaplok demi pembangunan Tugu Sinurat.   

Akar persoalan konflik antar ketiganya adalah hasrat untuk mempertontonkan status dan kekuasaan dalam punguan

Konflik ini semakin ramai karena sebagai orang Batak Toba kita memiliki "watak minus" bernama HOTEL (hosom, teal, dan late). 

Makin hari makin banyak Sinurat yang terseret kedalam arus pertikaian ini, hingga mereka mulai lupa akan identitas ke-sinurat-an mereka. 

Para pemicu konflik ini bahkan tak sempat memikirkan efek negatif dari tindakan mereka

Harusnya mereka bertanya kepada diri mereka, "Benarkah saya dan Sinurat yang lain itu pomparanni ompunta Raja Sinurat?

Kalau iya, mengapa saya tega menyakiti, merendahkan dan sipanggaron dihadapan sesama Sinurat?"

Bagaimana pun juga kita sendiri yang dapat memurnikan identitas kita sebagai Sinurat. Bukan orang lain, juga bukan marga lain diluar Sinurat, apalagi hanya mengandalkan kebijaksanaan Tulang kita.

Benar bahwa konflik ini dipicu oleh adanya pelanggaran konsensus (kesepakatan) antar pihak-pihak yang bertikai. 

Kemungkinan besar memang ada kesepakatan yang dilanggar atau pengubahan kesepakatan secara tiba-tiba tanpa pernah membicarakannya. 

Konflik ini bahkan telah memasuki relung terdalam kedua pihak, hingga sangat sulit bagi mereka untuk berinisiatif mengaku salah dan membangun ulang komitmen antara keduanya. 

Sejauh ini memang belum ada niat baik untuk menuntaskan konflik di atas. Sebaliknya, konflik justru semakin runyam, karena pihak-pihak yang bertikai berupaya berebut massa Sinurat. 

Tindakan ini persis sebagai tindakan memecah belah ala Hindia Belanda, devide et impera! 

Berikut ini adalah muatan konflik yang sedang terjadi saat ini:

Pertama, lokasi bonapasogit dan lokasi pembangunan Tugu Parsadaan Pomparanni Ompunta Raja Sinurat. 
    1. DPP PSDB se Indonesia sepakat memnentuk #TimTarombo dalam hal penentuan bonapasogit Raja Sinurat, yakni Harangan Parik. Tetapi sebelum buku ditulis, DPP telah sepakat bahwa  monumen Sinurat akan dibangun di Bonan Dolok. Jauh sebelum ada kelompok Sibisa, DPP sudah membuat proposal pengumpulan dana pembangunan monumen Sinurat Bonan Dolok. Anehnya, tak sedikit marga Sinurat yang berpikir bahwa  Bonan Dolok adalah bonapasogit Sinurat.
    2. Proses pembangunan tugu di Bonan Dolok ternyata juga mengalami hambatan. Klaim atas lahan bermasalah. Ada dongantubu yang tak terima tanahnya diklaim sebagai bagian dari lahan pembangunan tugu. Sebaliknya ada pihak-pihak yang mengklaim tanah ulayat tanpa punya bukti kalau mereka punya tanah.    
    • Kelompok Sibisa bersikeras mengatakan bahwa bonapasogit Sinurat adalah Sibisa. Itu berarti tugu harus dibangun di Sibisa! Proposal pengumpulan dana pembangunan tugu sudah diedarkan dan kini sedang tahap pengumpulan.
Kedua, penulisan Sejarah dan Tarombo turut terpengaruh. #TimTarombo yang seharusnya independen dalam melakukan penelitian lapangan dan penelitian pustaka justru disusupi oleh DPP dan mengatakan bahwa tujuan penulisan buku tak lebih dari sekedar program kerja DPP Punguan Sinurat dan Noru se Indonesia.

Bagaimana pun juga ketidaksepakatan soal bonapasogit yang diikuti pembangunan tugu akan menggiring banyak Sinurat ke jurang pragmatis

#TimTarombo hanya berharap agar Punguan Sinurat tidak saling ngotot membangun tugu masing-masing hingga rakyat Sinurat harus menyumbang dua kali. 
    1. Di satu pihak, finisihing buku Sejarah dan Tarombo Raja Sinurat masih menunggu kesepakatan internal antar Horong, mulai dari horonh pomparan Raja Tano  horong pimparan Raja Pagi, dan  horong Batumamak dari pomparan Ompu Gumbok Nabolon. Di dalam buku hanya 5 generasi per horong dari Raja Sinurat.
    2. Arsip berupa print out atau catatan historis mengenai sejarah punguan Sinurat sejak awal di kota Medan hingga terbentuknya DPP PSDB se Indonesia masih terkesan belum fix, karena saling klaim oleh mereka yang ingin namanya masuk kedalam buku.

Way Out

DPP PSDB se Indoensia diharapkan segera mencegah konflik semakin mendalam. Harus kita akui bahwa DPP PSDB sempat terjebak dengan konflik yang turut ia ciptakan sendiri.

Tak hanya itu, Pembina dan Penasihat PSDB se Indonesia juga tidak didengar pihak-pihak yang berkonflik. Parahnya lagi, para Penasehat justru iktu terbawa arus konflik.

Konflik ini bermula dari mis-komunikasi antara Sinurat di media sosial. 

Di media sosial kita yang tidak saling kenal dan belum pernah bersua sedetikpun sudah meminta orang lain menghormatinya. 

Begitu juga, di media sosial kita merasa paling hebat tanpa tahu bahwa "masih ada langit di atas langit". 

Sebaliknya, niat untuk bersatu kembali memang mustahil apabila pihak-pihak yang bertikai bersikeras menampilkan kepongahan mereka. 

Kendati demikian, kita tak boleh berputus asa. Parsadaan Sinurat memang belum terwujud, tetapi kita seadang on going process menuju ke sana. 

Solusi atas konflik-konflik yang terjadi dalam tubuh Sinurat selama ini berakar pada "pentingnya status dan kekuasaan bagi seorang Batak Toba", termasuk marga Sinurat. 

Di tingkat praksis, peristiwa konflik berlangsung dalam konteks mempertahankan atau memperebutkan jabatan kepemimpinan (Bungaran A. Simanjuntak  Konflik Status dan Kekuasan Orang Batak Toba. Yogyajarta: Jendela, 2002, hlm 261-357) 

Mari kita kembali pada jatidiri kita sebagai orang Batak Toba, yang berupaya merawat relasi penuh cinta dengan Tuhan, sesama dan diri sendiri. 

Berikut 9 jatidiri positif orang Batak: 
  1. Hapantunon: sopan santun yang terpuji. 
  2. Halambohon: kelemahlembutan dalam menghadapi sesama. 
  3. Lambas ni roha: lapang hati dalam menghadapi persoalan. 
  4. Habasaon: baik hati, berbudi pekerti, dan rela berkorban
  5. Partamueon: suka menerima tamu dan memberi bantuan. 
  6. Hamaloon maghatai: cakap dan bijak bertutur, menasihati dan menghibur. 
  7. Habisuhon: berhikmat dan bijaksana. 
  8. Habaranion: gagah berani membela sesama demi kebenaran. 
  9. Hatigoran: jujur dalam perilaku dan pembelaan kebenaran dan keadilan. 

Semoga. 

Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.