iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

Kontestasi Politik Lebih Butuh "Omon-omon" Daripada Rekam Jejak

Kontestasi Politik Lebih Butuh "Omon-omon" Daripada Rekam Jejak


Awanya Presiden Jokowi lah mempersiapkan Ganjar sebagai penggantinya. Namun Megawati tersinggung. Ia merasa dilangkahi. Mega merasa kalau hak preogratifnya sebagai ketum partai diusik petugas partainya yang kebetulan seorang Presiden.

Mega tak peduli kalau Jokowi berhasil mengorbitkan nama Ganjar sebagai capres jagoannya. Toh itu bukan jagoan partainya pada pemilu 2024. Benar bahwa di pasar politik saat itu Ganjar telah memenangkan survei dan makin disukai oleh rakyat. Intinya, survei sangat berpihak pada Ganjar kala itu.

Semua berjalan apik, rapih. Tapi, sekali lagi, Mega tetap saja tak berkenan. Profesor doktor honoris causa itu tak mau titahnya (hak preogratif) diambil-alih oleh petugas partai bernama Jokowi.

Jelas, ia tak mau kecolongan. Ganjar boleh saja diorbitkan Jokowi. Tapi hal itu tak lantas berarti Ganjar sudah pasti ditetapkan jadi capres partai karena Jokowi. "Sorry...", kata Mega dengan kesan tak rela kuasanya diambilalih oleh Jokowi.

Saat Ganjar semakin identik dengan "penerus Jokowi", Mega memainkan perhelatan WorldCup FIFA World Cup U-20 yang hampir pasti akan diadakan di Indonesia tahun lalu. Keikutsertaan timnas Israel dalam piala dunia itu dijadikan pemantik psikologi masyarakat Indonesia. Toh kita semua tahu kalau Israel bukan kawan Indonesia,

Di sinilah politik dimainkan. Mega mengirimkan bogem kiri dari petugas partai yang kebetulan gubernur Bali (Koster) dan bogem kanan dari petugas partai lain yang saat itu kebetulan gubernur Jateng (Ganjar) ke Jokowi. Upsaya dan kerja kerasa Jokowi pun pasti akan diabaikan partai pendukungnya.

Hasrat pada kekuasaansangatlah menentukan saat itu. Ganjar pengen jadi presiden. Tapi a harus memilih sebagai capres yang direkomendasikan ketum partai (Mega) atau petugas partai yang kebetulan presiden (Jokowi).

Mega ingin menunjukkan kepada Jokowi kalau Ganjar lebih butuh ketuk partai daripada presiden, dalam mewujudkan hasratnya menjadi calon presiden pada pemilu 2024 mendatang

Jelas Ganjar lebih memilih partai. Ia pengen jadi penguasa. Itu hasrat besarnya, Hanya, ia tak sadar kalau kekuatan partai pimpinan Mega jauh dibawah kekuasaan yang dimilik presiden.

Ketaatan demi kekuasaan itulah awal kehancuran Ganjar. Ia salah memilih jalan. Pasar politik berubah drastis. Di survei ia makin anjlok hingga urutan ketiga. Benar bahwa Mega "berhasil membatalkan" FIFA WC U-20, tapi disaat yang sama kader dan pemilih partainya justru menentang keputusan itu.

Mega sempat bersukaria. Tapi hanya sekejap. Jokowi membalas dengan elegan dan taktis. Dukungan ke orang yang menghianatinya "dicabut" secara halus, lalu mengarahkan dukungannya ke Prabowo, mantan kompetitornya di 2 pilpres sebelumnya.

Hasilnya, partai yang jumawa itu kini malah tampil sebagai partai pecundang. Kader-kadernya bermigrasi ke partai lain, dan para calegnya satu per satu merasa asing hingga urung mencalonkan diri. Dan, tak sedikit yang membelot dan mendukung paslon no. 02.

Inilah politik. Hanya dalam partai politik, seseorang boleh memuji diri dihadapan dan merasa paling berkuasa dihadqpan kadernya. Itu karena tujuan politik adalah meraih kekuasaan tak berbatas untuk dirinya.

Benar bahwa di sisi lain politik selalu terbuka kesempatqn untuk memperjuangkan kemaslahatan orang banyak (bonum communae), tapi hal itu tak mungkin terjadi selama perebutan kekuasaan antar elit tak pernah tuntas.

Meminjam kalimat Prabowo), (sebab) politik itu bukan hanya soal "omon-omon saja".
#sainaadongdo

lusius-sinurat
Lebih lamaTerbaru

Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.