Ad Unit (Iklan) BIG

Liturgi Perkawinan Abad IV – XIV

Liturgi Perkawinan Abad IV – XIV
Dalam kurun waktu ini terjadilah perkembangan tahap demi tahap ke arah pembentukan unsur-unsur dan penyusunan tata upacara perkawinan sebagai sauatu liturgi sakramen. Unsur-unsur yang dimaksud ialah:

Perjanjian Nikah.

Pemakaian unsur ini tak bisa dilepasakan dari pengaruh hukum Romawi yang menganggap bahwa yang paling penting dalam peresmian perkawinan hanyalah perjanjian nikah. Sedangkan keberadaan unsur-unsur lain hanyalah tambahan saja.

Pada masa ini, simbol cincin, penyerahan mahar, perarakan dan penyerahan pengantin wanita, kesaksian dari orang tua dan kaum kerabat, belum mendapat arti atau fungsi liturgis. 

Hal-hal pada mulanya dibuat di rumah dan biasanya dihadiri oleh imam. tetapi dalam perkembangan selanjutnya, unsur-unsur ini diterima sebagai bagian dari liturgi perkawinan. 

Misalnya pada Carolingga (IX-X) Gereja menegaskan bahwa ia memiliki wewenang yuridis terhadap perkawinan dan menuntut agar Perjanjian Nikah dan Penyerahan Jaminan Perkawinan dilaksanakan di depan umum di hadapan imam, entah di dalam geduing gereja ata di depan pintu gereja.

Selubung dan Pemberkatan Nikah dalam Gereja.

Rumus berkat imam yang menyertai penyerahan kerudung sudah ada sejak abad IV. Pada masa itu, ritus ini wajib dilakukan bila seorang klerus menikah, dan tidak boleh dibuat bila seorang pelacur atau yang pernah berzinah atu pernah menikah meresmikan pernikahannya.[1] Sebenarnya ritus ini pada mulanya hanya merupakan suatu tanda “penghormatan”. 

Pemakaian selubung oleh pengantin wanita dimengerti dalam hubungan dengan tudung para perawan yang menguduskan dirinya bagi Allah. Selanjutnya, selubung dimaknai sebagai simbol penyerahan total, kekudusan, kesucian, dan kemurnian. Dalam hal ini perkawinan dapat menjadi sacramentum atau kenyataan simbolis dalam dunia tentang Kristus dan Gereja.

Rituale 1614

Upacara perkawinan dalam rituale 1614 dipraktikkan hingga tahun 1969.[2] Dalam rituale ini terdapat unsur-unsur perayaan nikah abad pertengahan, yakni Perjanjian Nikah, upacara “di depan pintu gereja”, jabat tangan dengan rumusan “Ego Coniungo vos”, pemberkatan cincin pengantin wanita dan rumusan doa penutup. > Lanjut Baca!
__________

[1] Bernard Boli Ujan SVD, “Ke Arah Perkawinan Inkulturatif dan suatu upaya proses di Keuskupan Agung Ende” di Jurnal SAWI N0.8/1993, hlm. 139.


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Subscribe Our Newsletter