Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Adorasi Sakramen Mahakudus - 3

EKARISTI DALAM KITAB SUCI

Sejak awal mula Gereja telah memuliakan “roti” dan “anggur” Ekaristi sebagai benar-benar Tubuh dan Darah Yesus Kristus, karena demikianlah yang diajarkan oleh Kristus Sendiri.

Tuhan Yesus tahu betapa iman yang mendalam diperlukan untuk menerima ajaran ini, jadi pertama-tama Ia mempersiapkan para murid-Nya dengan mukjizat penggandaan roti dan ikan (Mat 14:15-21).

Kemudian Ia menubuatkan bahwa Ia akan memberikan daging-Nya sendiri serta darah-Nya “sebagai makanan dan minuman”. Itulah saat yang menentukan bagi banyak pengikut-Nya: 
“Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: `Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?' … Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia” (Yoh 6:60,66). 
Mereka bukannya salah paham dengan-Nya; melainkan mereka benar-benar tidak mau menerima apa yang dikatakan Yesus. Meskipun begitu, Kristus tidak menawarkan penjelasan untuk memperlunak perkataan-Nya atau pun memberikan arti simbolik kepada mereka. Malahan, 
“Kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: "Apakah kamu tidak mau pergi juga?" (Yoh 6:67). 
Penetapan Ekaristi Kudus terjadi pada saat Perjamuan Malam Terakhir yang digambarkan oleh St. Matius sebagai berikut: 
“Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: `Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.' Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: "Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.'” (Mat 26:26-28). 

Peristiwa penting ini juga dicatat oleh St. Markus (Mrk 14:22-24), St. Lukas (Luk 22:17-20) dan St. Paulus (1Kor 11:23-26). Kata-kata Kristus ini sejak dahulu hingga sekarang senantiasa diterima dalam arti yang sebenarnya dan sesungguhnya oleh segenap umat Katolik. 


GEREJA PERDANA DAN EKARISTI 

St. Ignatius dari Antiokia (wafat tahun 170) mencatat mengenai mereka yang menentang ajaran Ekaristi pada masa itu sebagai berikut: 
“Mereka menjauhkan diri dari Ekaristi dan doa, karena mereka tidak mengakui bahwa Ekaristi adalah tubuh Juruselamat kita, Yesus Kristus.” 
St. Efrem (wafat th 373) mengatakan: 
“Tetapi jika seseorang menghinanya atau menolaknya atau melecehkannya, dapat dipastikan bahwa ia menghina Sang Putera, yang menyebutnya dan sesungguhnya menjadikannya Tubuh-Nya.” 
Dan St. Yustinus (wafat th 165) menegaskan: 
“Kita menyebut roti ini `Ekaristi' di mana tidak akan ambil bagian di dalamnya seorang pun yang tidak mengimani kebenaran ajaran kita, yang belum dibersihkan dari dosa dengan dilahirkan kembali dan diampuni dosa-dosanya, serta yang hidupnya tidak sesuai dengan ajaran Yesus Kristus, karena kita tidak menyantapnya sebagai makanan dan minuman biasa, melainkan karena Sabda Allah: Yesus Kristus mengambil rupa tubuh dan darah demi keselamatan kita. Kita tahu juga bahwa makanan ini yang secara alami akan menjadi tubuh dan darah kita, dengan dikonsekrasikan oleh doa yang menggunakan kata-kata Ilahi-Nya Sendiri, menjadi tubuh dan darah yang sama yang menjadikan Yesus manusia.”

PARA KUDUS DAN AJARAN-AJARAN MEREKA TENTANG EKARISTI 

Para kudus dari abad-abad sesudahnya, juga secara terus-menerus dan tegas mengungkapkan iman mereka tentang kehadiran Yesus secara nyata dalam rupa Hosti sederhana yang telah dikonsekrir. St. Fransiskus dari Asisi (1181-1226), dalam salah satu dari sedikit suratnya yang masih tersimpan, menulis bahwa 
“Segenap keberadaan manusia hendaklah sujud menyembah. Biarlah seluruh dunia berguncang dan biarlah Surga bersukacita ketika Kristus, Putera Allah Yang Hidup hadir di sana, di atas altar, dalam tangan imam.” 
St. Fransiskus percaya bahwa tidak ada martabat yang lebih tinggi dari martabat seorang imam “oleh karena hak istimewanya yang agung dan luhur untuk mengkonsekrasikan Tubuh dan Darah Kristus.” 

St. Antonius dari Padua (1195-1231) menegaskan: 
“Kita harus teguh mengimani dan dengan terus terang menyatakan bahwa tubuh yang sama yang dilahirkan oleh Sang Perawan; yang digantung di kayu salib; yang dibaringkan dalam makam; yang bangkit pada hari ketiga dan naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa; diberikan sebagai santapan kepada para Rasul, dan sekarang Gereja sungguh mengkonsekrasikannya serta membagikannya kepada umat beriman.” 
St. Thomas Aquinas (1225-1274) adalah seorang filsuf dan teolog besar dari abad ke-13 yang digelari “Doktor Ekaristi”, bukan saja karena tulisan-tulisan teologinya yang penuh semangat tentang Ekaristi dalam Summa Theologica, tetapi juga karena madah pujian Ekaristinya, dan tata Perayaan Misanya untuk Pesta Tubuh dan Darah Kristus. 

St. Thomas dianggap oleh banyak orang sejajar dengan Plato dan Aristoteles, yaitu salah seorang dari filsuf terbesar sepanjang masa. Di pembaringannya, saat menjelang ajal, St. Thomas mengatakan: 
“Andai saja di dunia ini ada pengetahuan tentang Misteri ini yang lebih hebat daripada iman, sekarang ini aku hendak menegaskan bahwa aku mengimani Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Sakramen Ekaristi, sungguh Allah dan sungguh manusia, Putera Allah, Putera Perawan Maria. Inilah yang aku imani dan aku pegang teguh sebagai kebenaran sejati.” 
Warga Amerika pertama yang dinyatakan kudus, St. Elizabeth Ann Seton (1774-1821), ketika masih menjadi jemaat gereja Episcopal, menghadiri Misa saat kunjungannya ke Italia. Ketika pada saat konsekrasi teman Katoliknya berbisik, “Inilah Tubuh Kristus,” Elizabeth sangat tersentuh hatinya. Kemudian, ia menulis kepada saudari iparnya: 
“Alangkah bahagianya kita, jika saja kita mengimani apa yang diimani jiwa-jiwa terkasih ini, yaitu bahwa mereka mempunyai Tuhan yang hadir dalam Sakramen dan bahwa Ia senantiasa tinggal dalam gereja-gereja mereka dan dihantarkan kepada mereka ketika mereka sakit! Oh, sungguh luar biasa! Ketika mereka membawa Sakramen Mahakudus melewati jendela rumahku, saat aku merasa sedih dan ditinggalkan karena masalahku, aku tidak dapat berhenti meneteskan air mata sementara aku berpikir. 
'Ya Allahku, alangkah bahagianya aku, bahkan ketika aku jauh dari mereka semua yang aku kasihi, jika saja aku dapat menemui-Mu di gereja seperti mereka….. Di lain hari, saat kesedihan yang luar biasa sedang mencekam, tanpa kusadari aku jatuh berlutut ketika Sakramen Mahakudus lewat, dan aku berseru dalam kesesakanku kepada Tuhan untuk memberkati aku jika Ia hadir di sana, hingga seluruh jiwaku hanya mendambakan Dia saja.” 
Setelah mengalami perkembangan iman dan pada akhirnya menjadi Katolik, tampaknya St. Elizabeth hampir-hampir tidak dapat menahan dirinya ketika ia berseru, 
“Tuhan ada di mana-mana, di udara yang aku hirup -- ya, di mana saja, tetapi dalam Sakramen-Nya di altar, Ia sungguh hadir secara nyata seperti jiwa dalam tubuhku, yaitu dalam Kurban-Nya yang dipersembahkan setiap hari, kurban yang sungguh sama seperti yang dikurbankan di kayu salib.”


1 < 2 <  Adorasi Sakramen Mahakudus > 4 
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter