Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Menjadi Anak Kecil Di Hadapan Allah

Menjadi Anak Kecil Di Hadapan Allah
Analisa Injil Matius 18:1-5
Ay 1: Bandingkan dengan Mark 9:33-34 dan Luk 9:46-47:
  • Mrk 9:33-34, urut-urutannya adalah sebagai berikut: mereka berdebat - Yesus bertanya - mereka diam - Yesus mengajar menggunakan anak kecil.
  • Luk 9:46-47, urut-urutannya adalah sebagai berikut: mereka berdebat - Yesus tahu apa yang mereka - perdebatkan - Yesus mengajar menggunakan anak kecil.
  • Mat 18:1-2, urut-urutannya adalah sebagai berikut: murid-murid datang kepada Yesus dan bertanya - Yesus mengajar menggunakan anak kecil.

Narasi Injil Matius 18:1-5
  1. Mereka berdebat tentang siapa yang terbesar.
  2. Yesus tahu apa yang mereka perdebatkan.
  3. Yesus bertanya apa yang mereka perdebatkan.
  4. Mula-mula mereka diam (karena malu).
  5. Lalu mereka menjelaskan dan menanyakan pandangan Yesus.
  6. Yesus mengajar menggunakan anak kecil.

Eksepsi:

  • Markus hanya menceritakan: 1, 3, 4, 6.
  • Lukas hanya menceritakan: 1, 2, 6.
  • Matius hanya menceritakan: 5, 6.


Ay 1-5 dianggap penting karena pada bab terakhir Matius lebih banyak menonjolkan Petrus:
  1. Mat 14:28-29 - Petrus berjalan di atas air.
  2. Mat 15:15 - Petrus bertanya tentang ajaran yang sukar.
  3. Mat 16:16-20 - Pengakuan Petrus tentang kemesiasan Yesus.
  4. Mat 17:1-13 - Petrus ikut ke gunung bersama Yesus.
  5. Mat 17:24-27 - Yesus membayar pajak untuk diriNya dan Petrus.
Semua ini bisa menimbulkan kesan bahwa Matius menganggap Petrus sebagai murid / rasul yang terbesar. Tetapi dengan adanya perdebatan di antara murid-murid tentang hal ini, jelaslah bahwa murid-murid tidak menganggap bahwa Petrus adalah yang terbesar. 

Dari jawaban Yesus, maka jelaslah bahwa Yesuspun tidak beranggapan bahwa Petrus adalah yang terbesar. Dari semua ini jelaslah bahwa Kitab Suci memang tidak mengajarkan adanya satu manusia yang terbesar (paling tinggi pangkatnya) dalam gereja Tuhan!

Perdebatan murid-murid ini (bdk. Luk 9:46) jelas adalah sesuatu yang berdosa! Mengapa? Karena perdebatan itu menunjukkan adanya ambisi dalam diri mereka untuk menjadi yang terbesar. Karena itulah maka mereka terdiam ketika Yesus menanyakan apa yang mereka perdebatkan. 

Ambisi adalah sesuatu yang berbahaya karena akan menyeret kita ke dalam dosa-dosa yang lain! Ambisi bisa terjadi dalam bermacam situasi dan bersifat:
  • jasmani / duniawi -- misalnya: ambisi untuk menjadi kaya, terkenal, kedudukan tinggi dsb;
  • bersifat rohani -- misalnya: ingin menjadi orang kristen yang paling mengerti Kitab Suci / Firman Tuhan, ingin menjadi jemaat yang paling rajin, ingin menjadi orang yang memberi persembahan paling besar, ingin menjadi pengkhotbah top, dsb. 
Mari kita periksalah diri kita masing-masing. Ambisi apa yang ada dalam diri saudara? Mintalah ampun kepada Tuhan dan mintalah supaya Tuhan membuang ambisi-ambisi yang tidak sesuai kehendakNya itu.


Ay 2 
a. Siapa anak kecil itu? 
  • Tradisi mengatakan bahwa anak itu adalah Ignatius (bishop di Antiokhia yang mati syahid pada tahun 107 M pada jaman pemerintahan Kaisar Trajan). 
  • Ignatius mempunyai julukan THEO PHOROS. THEOPHORUS yang berarti ‘God carried’ (=Allah membawa / menggendong) dan tradisi lalu berkata bahwa ia mendapat julukan itu, karena Yesus memeluk / menggendongnya di sini. 
  • Ada juga yang menganggap bahwa anak itu adalah anaknya Petrus. Siapa anak itu, adalah sesuatu yang tidak bisa dipastikan, dan disamping itu, hal itu juga sama sekali tidak penting. Yang penting adalah apa yang Yesus ajarkan dengan menggunakan anak itu!
b. Yesus memakai anak itu sebagai simbol kerendahan hati
  • Memang harus diakui bahwa anak itu, sebagai keturunan Adam, adalah anak yang lahir dalam dosa dan mempunyai kecondongan pada dosa, dan karena itu pasti mempunyai benih-benih kesombongan dalam dirinya. 
  • Tetapi bagaimanapun juga, Yesus menggunakan anak kecil ini sebagai simbol kerendahan hati, karena dibandingkan dengan orang dewasa, anak kecil adalah seseorang yang rendah hati (Catatan: anak berusia 8-10 tahun jelas bisa saja sudah sombong, tetapi kalau anak itu berusia 3-4 tahun, sekalipun benih-benih kesombongan ada dalam dirinya, tetapi pasti belum dimanifestasikan keluar).

Ay 3-4a. Ay 3: ‘Menjadi seperti anak kecil’.
  • Ini tentu tidak berarti bahwa kita harus bersikap kekanak-kanakan (childish)! Ini juga tidak berarti bahwa dalam segala hal, kita harus menjadi seperti anak kecil! 
  • Dalam 1Kor 14:20, Paulus berkata: “Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!” 
  • Penekanan Yesus adalah bahwa kita harus menjadi seperti anak kecil dalam kerendahan hati. Ini terlihat dari kata-kata ‘merendahkan diri’ dalam ay 4 [NIV/NASB: ‘humbles himself’ (= merendahkan dirinya sendiri)].
b. Ay 4: jawaban atas pertanyaan murid-murid dalam ay 1
  • Bandingkan dengan Luk 9:48 & Mark 9:35. Jelas bahwa penilaian Yesus tentang besar tidaknya seorang manusia, berbeda sekali dengan penilaian manusia pada umumnya. 
  • Karena itu berhati-hatilah dengan kehidupan saudara, supaya saudara jangan sekedar dianggap besar / hebat oleh manusia, tetapi dianggap tidak berarti oleh Tuhan!

Ay 5 Menyambut anak kecil dalam nama Yesus. 
  • Apa artinya? Tentu ini tidak berarti bahwa kita harus menyambut seorang anak kecil sambil mengucapkan kata-kata ‘dalam nama Yesus’! 
  • Tetapi ini berarti bahwa kita harus menerima / menyambut seorang anak ‘demi / karena Yesus’. Jadi, bukan sekedar karena kasihan, atau karena anak itu lucu, atau karena saudara senang pada anak kecil, tetapi karena / demi Yesus.
  • Menyambut anak dalam nama Yesus berarti menyambut Yesus sendiri. Ini menekankan kesatuan Yesus dengan orang percaya. Bdk. Kis 9:4-5 Mat 25:40,45.

Renungan pada_Pesta St. Teresia dr kanak-kanak Yesus
Bacaan: Sir 66:10-14c, Mzm 131:1,2,3, Mat 18:1-5
Lingkungan St. Helena, Medan, 01.10.2010



lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter