iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

Pembahasan APP Keuskupan Bandung 2011

Pembahasan APP Keuskupan Bandung 2011

Kerangka Dasar APP Keuskupan Bandung 2011

I. Pokok Pikiran:
  • Tema:“Kesejatian Dalam Mewujudkan Diri Menuju Perwujudan Komunitas Basis”
  • Landasan Umum: Mengupayakan terjadinya pertobatan demi Kerajaan Allah: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat!” (Mat 4:17)

II. Aksi: “3M”
  • M.1. MEMBANGUN sikap tobat melalui pewartaan
  • M.2. MENGUNGKAPKAN sikap tobat melalui peribadatan
  • M.3. MEWUJUDKAN sikap tobat melalui tindakan amal kasih bagi sesama

III. Fokus dan Langkah Praktis
  • Fokus: Pelayanan pemberdayaan Komunitas Basis
  • Langkah Praktis:

    Keuskupan memfasilitasi umat untuk aksi di atas (“3M”) dengan meletakkannya dalam kesejatian diri sebagai Anggota Gereja, menjawab

    Panggilan Yesus: “Mari ikulah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” (Mat 4:9).

    Anggota Tubuh Kristus: “Ya” - sebuah jawaban yang tercermin dalam janji Baptis yang kita ucapkan menggiring kita menjadi anggota keluarga Allah, sekaligus juga menjadi murid Yesus.

    Saudara dalam Kristus: sebagai sesama Murid Yesus kita dihimpun olehNya dalam jemaat/persaudaraan/komunitas yang sejati. Dari sinilah lahir istilah: “Saudara seiman”, “saudara dalam Kristus”, “persaudaraan”, “paguyuban”, dst.

    Langkah praktis ini kemuidan menghantar kita menjadi orang Katolik sejati yang hidup dalam komunitas hidup sejati pula.

IV. Kebutuhan dan Tantangan:
  • Hidup menggereja atau berkomunitas hari-hari ini dihadapkan pada persoalan pelik dan rumit. Salah satu aspek dominan adalah pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi. Tak dapat kita sangkal bahwa dengan kemajuan teknologi (khusunya teknologi komuniakasi) itu manusia dikerangkeng dalam dunia tanpa wajah, nan abstrak, pun nyaris tak terlihat.

  • Akibat tragisnya ialah orang menjadi jenuh berkomunitas (dalam arti hidup dalam komunitas yang nyata). Kok bisa? Ya, lewat media komunikasi yang tersedia dan terjangkau, orang menjadi lebih tertarik pada pola pragmatisme nan semu.

  • Semua hal dan personal dipahami dan dihidupi hanya berdasarkan fungsi (fungsional) dan kegunaannya saja (utilitarian): “Sejauh tidak menguntungkan saya, buat apa berteman/berkomunitas?”

  • Kenyataan pahit ini seakan tak terhindarkan, termasuk juga dalam kehidupan menggereja. Sebab, sebagaimana kita amati, gereja pun dipahami dan dihidupi sebagai sebuah “pilihan” belaka: boleh ikut atau boleh tidak ikut.

Ringkasnya, gereja pun dipandang mulai kehilangan jati dirinya sebagai komunitas. Gereja seakan kehilangan muka: tak lagi menarik apalagi menggetarkan hidup manusia, termasuk orang yang berada di lingkaran dalam gereja itu sendiri. Bukti nyata yang mengarah ke fenomena ini antara lain:
  • semakin menurunnya kehadiran dan partispasi umat Katolik dalam perayaan-perayaan sakramen dan sakramental;
  • semakin minimnya perhatian dan kepeduliaan umat Katolik terhadap sesamanya yang miskin dan membutuhkan pertolongan.
Bukti nyata menurunnya kesejatian diri sebagai murid Kristus di atas membuat Gereja sebagai komunitas kaum beriman menjadi kurang berdaya. Gereja tak lagi menjadi “tabib” yang menyembuhkan dan menyelamatkan mereka yang telanjang, bodoh, lapar, terpenjara, dst.
  • Satu hal yang masih tersisa adalah masih adanya kepedulian Paroki sebagai komunitas besar terhadap mereka yang miskin, pun mereka yang terasing (loneliness) dan tersingkir (aloneliness). Kendati, sebagai komunitas sejati, (Gereja-) seharusnya mampu berbuat lebih banyak lagi dan lagi.

  • Satu hal yang harus kita sadari di Keuskupan Bandung (juga di keuskupan lain tentunya), banyak kegiatan amal dan sosial dilangsungkan hanya sebagai “selimut” yang menutupi kelemahan gereja.

  • Ini ibarat orang kaya yang tampil sederhana supaya daripadanya tidak dituntut apa-apa, bahkan mengharap dirinya turut dibantu juga. Untuk itu, lewat aksi pertobatan di Masa Prapaska ini kita diajak untuk (kembali) menjadi manusia sejati, baik secara personal maupun secara komunal, entah di lingkungan keluarga, masyarakat, khusunya di lingkungan Gereja.

Kesejatian ini dapat kita perjuangkan dengan beberapa langkah perwujudan berikut ini:

1. Perwujudan Diri sebagai Manusia Sejati dengan menyadari dan menghidupi diri sebagai manusia yang:
  • se-Citra dengan Allah
  • selalu mengupayakan hal-hal baik
  • hidupnya terarah pada kesejahteraan bersama
  • hidup dalam komunitas / paguyuban
2). Perwujudan Diri Sebagai Putera Allah dengan kembali pada eksistensi kita sebagai orang-orang yang dibaptis (dalam Gereja Katolik) yang:
  • adalah putera-putri Allah
  • melalui Sakramen Baptis dilahirkan kembali
  • dinamika hidupnya sebagai putra-putri Allah tampak nyata dalam kesatuan sebagai umat beriman di dalam komunitasnya masing-masing (Komunitas Basis Gerejani).
3. Perwujudan Diri Sebagai Anggota Gereja yang menyadari kesejatian dirinya (lih poin 1) dan eksistensinya sebagai putera-puteri Allah (lih poin 2). Selanjutnya, perwujudan diri dalam kesejatian itu terungkap lewat:
  • Ketergerakan hati untuk mewujudkan komunitas basis Gerejani di komunitas kita masing-masing. Sebagaimana kita yakini, hal inilah yang menjadi akar bagi eksistensi Komunitas Basis Gerejani;
4. Perwujudan Diri Sebagai Anggota Masyarakat dengan menyadari dan menghidupi:
  • Komunitas Basis Gerejani adalah sarana yang baik untuk mewujudkan diri kita.
  • Komunitas Basis Gerejani sekaligus merupakan perwujudan perutusan gereja.

V. PENUTUP

Yang diharapkan dari kita pada masa puasa ini baik oleh Gereja secara universal maupun Keuskupan Bandung ialah aksi-nyata “3M” sebagaimana telah disebut di atas
  1. MEMBANGUN sikap tobat melalui pewartaan,
  2. MENGUNGKAPKAN sikap tobat melalui peribadatan, dan
  3. MEWUJUDKAN sikap tobat itu melalui tindakan amal kasih bagi sesama).
Dalam kaitannya dengan bidang-bidang aksi pelayanan Gereja (Paroki - Wilayah – Stasi/Lingkungan), maka pertanyaan reflektif-konkritnya adalah:
  • Bagaimana kegiatan pewartaan dapat membantu umat untuk merefleksikan kesejatian hidupnya sebagai murid Kristus?
  • Bagaimana kegiatan liturgi dapat menolong umat untuk mengungkapkan / merayakan kesejatian hidupnya?
  • Bagaimana kegiatan pelayananb (diakonia) dapat menolong umat membuahkan kessejatian hidup dalam bentuk perbuatan amal-kasih bagi sesama?
Akhirnya, Gereja mengajak kita untuk melakukan 3 kesatuan aksi di atas:
  • Aksi pewartaan,
  • Aksi peribadatan, dan
  • Aksi amal kasih.
Semoga Allah senantiasa menggiring kita menjadi puteraNya, yang setia mengikti Yesus Kristus dan hidup berlandaskan penyertaan Roh Kudus hingga kita mampu berbuat (lebih banyak lagi) bagi mereka yang miskin dan tertindas (bdk. Mat 25:45).

Lewat tema APP Keuskupan Bandung 2011, Gereja ingin membangung pribadi-pribadi (personae) menjadi bait Allah yang kecil untuk kemudian dijaidkan batu-batu hidup yang mau datang dan membiarkan diri diletakkan di atasYesus Kritus sebagai batu penjuru:
  1. untuk menjadi Gereja Keluarga,
  2. untuk menjadi persekutuan keluarga-keluarga dalam Komunitas Basis,
  3. untuk menjadi Paroki sebagai persekutan dari komuntas-komunitas basis, dan
  4. untuk menjadi suatu Keuskupan sebagai persekutan dari Paroki-paroki.
Semoga deh!

Catatan: Sukses untuk para fasilitator: Anda adalah orang-orang terpilih. Bantulah umat di Wilayah/Stasi/Lingkungan Anda dengan cara orang terpilih ! God bless you all.

*) Diberikan pada pertemuan fasilitator APP Keuskupan Bandung 2011 di Paroki St. Ignatius Cimahi tanggal 28 Februai 2011,  pkl. 18.00 wibb.


Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.