Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Akulah Jalan, Kebenaran dan Hidup

Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup
Foto: Koleksi Prbadi Lusius Sinurat
Hari-hari ini sikap percaya itu tampak begitu mahal, bahkan ketika di dunia bisnis kita akrab dengan filosofi “based on trust” itu. 

Benar saja, kepercayaan itu mutlak diamini oleh segenap stakeholder yang terlibat dalam sebuah korporasi atau seluruh anggota masyarakat dalam konteks hidup bernegara. 

Jujur saja, mmang tak mudah mempercayai atau dipercayai oleh orang lain di saat berbagai kepentingan pribadi/kelompok begitu merasuki diri kita. 

Syahdan, ketika kepercayaan begitu mahal, lewat kecanggihan teknologi, para pemilik modal justru selalu mengintip setiap pegawai atau karyawannya  lewat kamera CCTV. 

Bagi pengusaha dan penguasa, kamera CCTV seakan lebih berkuasa dari mata manusia sekalipun. Begitu mahalnya kepercayaan itu hingga banyak orang lebih memilih untuk memasang alarm di tiap barang mewah miliknya, atau bahkan di kamar mandinya. 

Bila perlu kedalam tubuh anak, karyawan, bawahan, anggota gang ditanam CHIP agar mereka berada dalam jangkauan si empunya yang mempekerjakannya, yang memilikinya.

Teknologi peranti komunikasi yang kian hari kian canggih seringkali kita imani sebagai salah satu kemajuan terbesar dalam peradaban dunia. Tentu, karena dengannya, kita komunikasi dan relasi antar kita semakin lancar dan tanpa penghalang.

Benar saja. Semua orang yang hidup di lapisan bumi ini begitu menikmati kemudahan itu. Dengannya, kejadian di satu tempat nun jauh di sana bisa kita saksikan secara live (langsung) dari dan di tempat kita, hic et nunc

Luarbiasa. Kemajuan teknologi itu bahkan serentak melahirkan pergeseran paradigma (shitf paradigm) tentang banyak hal, tak terkecuali pemahaman tentang makna hidup. Lantas, di mana posisi Kristus yang bangkit dalam kehidupan kita?


Percaya Saja !
Sikap terbaik dalam menanggapi peristiwa kebangkitan Kristus adalah PERCAYA KEPADA YESUS dan MENGIKUTINYA: "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” (Yoh 14:1). 

Dalam kaitannya dengan kebangkitan, Injil Yohanes (Yoh 14:1-6) menegaskan bahwa sikap PERCAYA akan kebangkitan Tuhan mengandaikan 2 hal penting berikut:

(1) Kebangkitan Yesus adalah jaminan keselamatan kita: “Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.” (Yoh 14:2-3).

(2) Kebangkitan Kristus memperjelas visi dan misi hidup kita: “Hai saudara-saudaraku, baik yang termasuk keturunan Abraham, maupun yang takut akan Allah, kabar keselamatan itu sudah disampaikan kepada kita.” (Kis 13:26). 

Di titik ini Yesus menegaskan alasan untuk mempercayai Dia. Pertama, melalui peristiwa kebangkitanNya, Yesus telah membuka Pintu keselamatan bagi kita: “...dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ." (Yoh 14:4), bahkan ketika kita sedang galau. 

Kedua, sepanjang hidupNya Yesus sungguh menghadirkan Allah dalam diriNya. Tak heran bila Ia mengatakan: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh 14:6)


Kita harus kembali kepada Yesus

Di saat kultur zaman larut dalam selimut sibernetika menggiring kita menuju intensifikasi interaksi mendunia lewat layar monitor tak berwajah, tak bernyawa, perangkat canggih, teknologi wicara, masih perlukah kita berkomunikasi dengan Kristus yang Bangkit?

Memang kita telah banyak berdiskusi dan berjibaku mengenai eksistensi manusia sebagai ciptaan Allah di media massa dan elektronik, tapi hanya sedikit yang mau datang menemui Allah di rumahNya yang kudus. 

Bisa jadi di komunitas-komunitas Kristiani, kehadiran Allah enggak mendapat kesempatan. Tak heran kalau semangat dari komunitas-komunitas itu pun belum sungguh katolik. Mengapa? Bisa jadi karena mereka tak membukakan pintu bagiNya. 

Bagaimana mungkin Allah datang ketika yang kita bicarakan melulu organisasi tanpa pernah membangun pribadi? Yesus sering kita bela di pertemuan-pertemuan agama, di tempat kos yang banyak non-katolik nya, di kampus yang notabene banyak islamnya, dst. Namun Yesus yang kita bela tadi rupanya bukan Yesus yang kita kenal.

Satu-satunya cara untuk bangga sebagai pengikut Kristus adalah dengan kembali kepada Yesus, sang Lentera Hidup kita. Untuk sampai ke arah sana, kita harus terelebih dahulu mengenal siapa diri kita sesungguhNya. 

Akhirnya, sebagai pengikut Yesus, tindakan “mengenal diri” harus dalam konteks mengnela Yesus. Dan dari Yesus kita bisa belajar membangun mentalitas seperti yang dimiliki Yesus. Semoga.


Lusius Sinurat
** tulisan ini juga dapat dilihat di Fesbuk Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter