Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Gokhon Dohot Joujou

Gokhon Dohot Joujou
"Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya." (Mat 22:2) 
"Gokhon Dohot Joujou" adalah istilah yang digunakan orang Batak Toba untuk "Undangan". Lihat saja di kartu-kartu undangan perkawinan orang Batak yang mungkin pernah Anda terima.

Menarik bahwa orang Batak menggunakan dua kata untuk undangan, yakni "GOKHON" (gok = penuh, gokhon = pemenuhan) dan (dohot) "JOU-JOU" (panggilan, ajakan, undangan). Istilah Gokhon Dohot Jojou bisa diterjemahkan sebagai undangan secara penuh atau undangan yang (semestinya) disanggupi; atau dalam bahasa marketing-nya bisa diterjemahkan sebagai “Anda Datang, Kami Senang". 

Istilah Gokhon Dohot Jojou menyiratkan satu hal penting dalam tradisi Batak. Bagi orang Batak, pesta adat begitu penting. Suka atau tidak suka, pesta adat adalah salah satu bagian yang sangat penting dalam kehidupan sosial orang Batak. 

Demikian penting hingga demi sebuah pesta, orang Batak rela menghabiskan energi dan materi, mulai dari persiapan hingga hari-H pesta. Maka, buat orang non-Batak, mikir lagi deh kalau mau menikah dengan orang Batak. Hahahaha....

Kembali ke notebook. Saya tertarik dengan istilah Gokhon Dohot Jojou yang tertera pada surat-surat undangan (perkawinan) orang Batak ini. Sejauh saya pahami, bagi orang Batak, mengundang orang lain untuk menghadiri sebuah pesta adalah hal yang sangat penting; tetapi jauh lebih penting ialah kegembiraan yang luarbiasa pada saat orang yang diundang menyanggupi undangan tersebut. 

Tak heran, untuk undangan khusus tertentu (VVIP), orang Batak tak bisa hanya mengirim kartu undangan. Keluarga yang akan berpesta harus datang secara langsung dan secara adat mereka harus mengajak sembari memohon. Lihatlah, betapa undangan adalah sebuah ajakan yang menuntut tanggapan.

Alangkah menyakitkan hati bila mengundang orang ke pesta Anda, tetapi orang itu tak bisa datang karena alasan yang dikarang-karang (excuse / berdalih)! Sementara di pihak lain, ada orang yang mengamini bahwa undangan itu hanya tindakan "bayar utang", karena sebelumnya si pengundang pernah menghadiri pesta Anda sebelumnya. Tindakan "bayar utang" juga sering diasosiasikan oleh masyarakat kita bila mendapat undangan pesta; dan bila ini yang terjadi maka ia akan datang ke pesta dengan "dandanan orang tak layak dalam perjamuan pesta”: fisiknya hadir di sana, tetapi sesungguhnya jiwanya melayang entah ke mana. 

Tak hanya orang Batak tentunya. Kita semua pernah merasa curiga, berpikiran a priori, bahkan paranoia dengan pesta tertentu. Mungkin ada banyak orang yang 'terpaksa' datang, tetapi tidak berani makan (takut kena efek makanan haram), dan tindakan curiga lainnya. Inilah yang terjadi hari-hari ini. 

Menolak sebuah undangan dengan dalih kecurigaan adalah tindakan yang menolak kebaikan dan rahmat melimpah yang telah ditawarkan Allah. Bila Anda tidak datang, bukan hanya makanan yang telah disediakan menjadi mubazir, tetapi juga kekecewaan dan sakit hati si orang yang mengadakan pesta bisa membanjir.

Demikian juga dengan undangan Tuhan. Tuhan menawaran keselamatan bagi kita semua: "Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini." (Mat 22:4).

Undangan Tuhan adalah undangan untuk menikmati keselamatan dan rahmat berlimpah secara gratis. Tetapi sekali lagi, kecurigaan berlabel a priori ditambah kenyataan hari-hari ini yang berselimutkan kekerasan dan kekejaman yang mewarnai relasi satu sama lain, maka ajakan Tuhan tadi tidak kita penuhi, bahkan dianggap asing dan aneh.

Sebenarnya kita sadar bahwa dengan undangan (jou-jou) tersebut kita dianggap sebagai orang istimewa. Tetapi anggapan-anggapan bertabur kecurigaan tadi membuat kita kehilangan keistimewaan itu. Ya, karena kita tak memenuhi (manggokhon) undangan (jou-jou) dari Tuhan.

Kita kerap berdalih (marsantabi, kulo nuwon, punten) untuk menolak tawaran agung itu: "Maaf, saya sangat sibuk dengan pekerjaan saya, jadi aku tak bisa datang", dst. Namanya dalih, ya kagak bener dong. Coba deh aja cermati lagi bacaan injil hari ini: Mat 22:1-14

Perjamuan kawin biasa diadakan malam hari, saat di mana orang beristirahat dari kerja. Tapi lihat saja fakta ini: orang berdalih mau pergi ke ladangnya, mau mengurus usahanya, bahkan malah menyakiti dan membunuh para utusan yang datang mengundangnya. 

Sumpeh loe, orang ke ladang malam hari, sampe tega banget menolak undangan pesta perkawinan anak dari rajanya sendiri? Untung saja si raja yang mengadakan pesta tak habis akal. Di saat undangan berkelas VVIP, VIP, dan Business Class tidak datang, sang raja pun mengundang orang-orang kelas Economy, yakni mereka yang ada di jalanan, baik yang jahat maupun yang baik; tapi serentak dari antara mereka, ada yang datang tanpa menyiapkan diri dengan tidak berpakaian pesta. 

Golongan terakhir ini sama saja dengan kelas VVIP, VIP atau kelas bisnis di atas: mereka yang tidak punya respek terhadap yang mengundang. Sepele banget gitu loh.

Akhirnya, pesan injil dan bacaan-bacaan hari minggu ini mengajak kita untuk menghilangkan rasa curiga terhadap undangan atau kebaikan orang lain, karena orang belum tentu punya 'maksud' seperti yang kita sangka (a priori). 

Demikian juga dengan undangan dari Tuhan, yang 'mengundang’ dengan caraNya sendiri, dan datang 'melalui orang-orang lain' yang diutusNya. "Maaf, saya tak bisa datang rapat karena acara keluarga" atau kalimat-kalimat permohonan maaf penuh dalih lainnya bisa mengiring diri kita pada penyesalan diri. Kesempatan tak datang bertubi-tubi. Mungkin hanya datang satu kali. 

Demikian juga tawaran dan undangan dari Tuhan: "Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan. Inilah TUHAN yang kita nanti-nantikan; marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita oleh karena keselamatan yang diadakan-Nya!" (Yes 25:9).

Menghadiri Pesta Tuhan berarti menikmati kebahagiaan, karena “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus. (Flp 4:19 ). Toh Gokhon Dohot Jou-Jou atau undangan pesta bukan hal jahat yang harus dihindari. 

Toh, kita tak diundang menjadi 'pengantin bom' yang berkeliaran di negara kita. Kita hanya diminta menghadiri dan menyanggupi undangan Tuhan. Memang, tak banyak dari kita yang mengerti dan tanggap atas undangan ini. Sebagaimana kata Yesus, “...banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih." (Mat 22:14).


Inspirasi:
Hari Minggu Biasa XXVIII , 9 Oktober 2011 : Yes 25:6-10a; Mzm 23:1-3a,3b-4,5,6; Flp 4:12-14,19-20; Mat 22:1-14


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter