iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

Dunia Membutuhkan Yohanes Pembaptis

Dunia Membutuhkan Yohanes Pembaptis

Melihat realitas yang ada, dunia sedang membutuhkan tokoh sekaliber Yohanes Pembaptis. Mengapa? Harus kita akui bahwa makin hari dunia makin akrab dengan kekerasan dan kejahatan. Yohanes adalah tokoh kontroversial, yang tegas dan lugas mengajak dunia untuk bertobat dan berbalik kepada Allah.

Kita tahu bahwa kekerasan (dalam berbagai bentuknya) semakin mewarnai pergaulan antar-manusia di jagad ini. Bukan saja menyangkut kejahatan politik, ekonomi, sosial, atau budaya; melainkan juga kekerasan yang dipicu oleh perbedaan ideologi dan agama. Mau tidak mau, kondisi ini membutuhkan sosok berani yang mengatakan, "Kapak telah tersedia!"

Dunia sedang mencari dan membutuhkan Yohanes pembaptis-yohanes pembaptis baru yang begitu percaya diri dalam mengubah dunia menjadi lebih baik dari sekarang.

Dunia kita sedang membutuhkan Yohanes Pembaptis, sosok yang begitu percaya diri merintis misi penyelamatan dunia yang akan dilengkapi oleh Mesias nantinya (cf. "Aku bukan Mesias" dalam Yoh 1:20).

Ya, dunia menginginkan nabi sekaliber Yohanes Pembaptis yang begitu tegas, lugas, tapi juga dengan jujur mengajak dunia untuk segera berbenah bila tidak mau ditebas oleh kapak yang telah tersedia. Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya." (Yoh 1:25).

Lihatlah betapa dunia di seputar kita makin hari makin mengaburkan makna kebaikan dan ketidakbaikan. Kenyataannya, dalam banyak kasus manusia semakin hari semakin jahat, tak saja kepada sesama manusia, tapi juga terhadap mahluk lain dan alam semesta tempat ia berdiam.

Demi memuaskan hasratnya yang selalu bertambah besar, banyak orang lantas dengan sengaja melarutkan diri dalam abiguitas yang tampil kabur dalam posisi vs ambisi, status vs rakus, cinta vs uang, teman vs rasa aman, dst.

Demikianlah dunia sedang membuthkan Yohanes Pembaptis, sosok garang dan kadang berang memilah mana hal yang seturut kehendak Allah dan mana hal yang tidak seturut kehendak Allah. Pendeknya, dunia sedang membutuhkan sosok yang tegas dan lugas memberantas sikap mendua yang tampil demi memuluskan hasrat akan uang, kuasa, dan birahi.

Sungguh, dunia sedang membuthkan Yohanes Pembaptis, sosok yang sangat jujur dengan tugas dan tanggungjawabnya, termasuk soal keterbatasan yang ia miliki dan 'batasan-batasan" yang telah ditetapkan Allah baginya. Kendati dukungan massa kian waktu kian mengalir untuknya, Yohanes Pembaptis tidak mau takabur dan lantas mengamininya.

Dengan sikap rendah hati dan tahu diri ia malah buka kartu kepada para pendukungnya tentang siapa sesungguhnya yang akan datang sebagai Mesias : "Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku.

Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak." (Yoh 1: 26-27). Tentu tak mudah menjadi sosok setulus Yohanes Pembaptis; kendati bukan sesuatu mustahil, tentunya.

Kunci keberhasilan itu justru berasal dari kedalaman iman kita yang dengan rela membiarkan diri dibimbing Roh Tuhan: "Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara, untuk memberitakan tahun rahmat TUHAN dan hari pembalasan Allah kita, untuk menghibur semua orang berkabung. (Yes 61: 1-2).

Dunia sedang membutuhkan Yohanes Pembaptis untuk memunahkan segala keraguan kita pada kekuatan Allah. Kalau boleh jujur, dunia sonari (=sekarang, Batak) lambat laun mulai mengubah kiblatnya dari realtiasnya sebagai Ciptaan Allah menuju Pencipta Allah: keberhasilan atau kegagalan itu selalu tergantung dari sedikit atau banyaknya modal yang dimiliki.

Kalau pun ada orang yang berhasil atau gagal di luar formula itu dipandang tak lebih karena hoki, dan tidak ada urusan dengan Tuhan. Demikian juga dengan respek atau hormat selalu diidentikkan dengan apa atau siapa yang sedang kamu miliki saat ini.

Kiranya inilah penyebab semua konflik dan kekerasan yang sedang berlaku di jaman ini. Tak ada lagi rasa takut dan rasa kejut dalam hidup kita. Sebab, orang tak lagi percaya pada keajaiban, selain keajaiban di tataran bisnis; bukan pada munculnya sosok yang berhasil, tapi pada sebab keberhasilannya itu sendiri.

Tak lagi ada kamus bagi seseorang untuk membanggakan orang lain hanya karena ia baik, jujur, tulus, dst. Mereka yang layak dibanggakan ialah mereka yang memang sudah terkenal, atau minimal sudah ada tanda-tanda ia bakal terkenal kelak. Misalnya, anak orang kaya, anak pejabat, anak penguasa, dll.

Sekali lagi, Yohanes Pembaptis menunjukkan kepada kita bahwa orang yang hebat itu bisa saja orang yang samasekali belum kita kenal, atau bahkan Anda sendirilah orang hebat dan berhasil itu: "....tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal... "(Yoh 1:27).

Yohanes Pembaptis kembali mengingatkan kita bahwa keberhasilan atau ketidakberhasilan selalu erat terkait dengan ketentuan Allah, bukan melulu tergantung pada modal yang dimiliki.

Kejahatan yang terjadi di sekitar kita sungguh tak pernah bermula dari kejahatan itu sendiri. Kejahatan itu bukan barang pesanan, atau sesuatu yang bisa dibeli karena Anda memiliki modal yang melimpah.

Kejahatan itu bermula dari diri kita sendiri - sebagaimana juga kebaikan bersumber dari titik yang sama. Baru-baru ini, melalui media televisi dan koran, kita menyaksikan betapa kekerasan tak hanya merasuki orang dewasa, tapi juga anak-anak kecil dan remaja.

Bersamaan dengan itu muncul kejahatan baru, yakni saling menuduh antara pengamat kriminal dan pemerhati anak-anak tentang siapa yang bisa disalahkan dalam hal ini. Selanjutnya tindak kejahatan dan kekerasan juga turut merasuki orang-orang yang menyebut dirinya sebagai nabi penerus atau utusan Allah.

Kalau mau jujur, sumber dari semua kejahatan dan kekerasan ini adalah diri kita sendiri. Kejahatan itu timbul karena satu sama lain saling curiga: "Siapakah engkau?" (Yoh 1:19b); "Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?" (Yoh 1:25).

Dunia sonari sangat membutuhkan Yohanes Pembaptis, sosok yang jujur pada dirinya dan tampil apa adanya di tengah dunia. Tak saja tegas dan lugas saat mewartakan misinya, tetapi juga lembut mengakui statusnya yang hanya lah "semut" atawa hanya seorang perintis yang ditugaskan Allah untuk meluruskan jalan yang berlekak-lekuk dan meratakan yang berlubang-lubang.

Inilah kesaksian yang sangat komplit dari seorang nabi besar. Yohanes Pembaptis seakan menyindir kita semua, khususnya para pemimpin yang sering lupa diri hingga tega bercampur lega saat meraup apa saja yang bukan miliknya dan menguasai apa saja yang bukan wewenangnya.

Dunia jaman ini butuh Yohanes Pembaptis yang rela dan membiarkan layu setiap ambisi yang senantiasa merayu, pun tak tergiur oleh besarnya dukungan massa agar ia mau menjadi figur.

Sungguh memang tak mudah menjadi seorang perintis atau pioneer; tapi serentak juga ia harus menyadari betapa beratnya juga melanjutkan apa yang telah dirintisnya.

Entah sebagai perintis atau sebagai penerus, kita semua dipanggil menjadi Yohanes pembaptis-yohanes pembaptis lain di dunia kita saat ini. Paulus, dalam suratanya kepada uamt di Tesalonika memberikan kita tips menjadi nabi di jaman ini : Bersukacitalah senantiasa (1Tes 5:16). Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu (1Tes 5:17-18).

Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya (1Tes 5:23-24).
  • Janganlah padamkan Roh, dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat (1Tes 5:19-20).
  • Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik (1Tes 5:21).
  • Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan (1Tes 5:22).


Selamat Datang, Yohanes Pembaptis !


Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.