Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Pola Asuh Anak dalam Keluarga

A. Pola Asuh Anak-anak Hari Ini

Akhir-akhir ini banyak bermunculan kasus-kasus kekerasan terhadap anak baik yang ditayangkan lewat media televisi maupun media cetak. Kekerasan itu terungkap dalam kekerasan fisik, seksual, bahkan peniadaan nyawa anak oleh orangtua tertentu. Jenis kekerasan yang menonjol ada dua yaitu kekerasan fisik dan ekonomi. Namun pada dasarnya kedua jenis ini saling berkaitan satu sama lain, disamping juga bisa menjadi menjadi hubungan sebab-akibat. Kekerasan fisik yang banyak dijumpai seperti pemukulan terhadap anak, penyiksaan lain dengan membakar anak dan sebagainya. Hal ini tentu mengundang keprihatinan yang mendalam. Penyebabnya terkadang sepele, ketika orangtua jengkel karena si anak terus saja merengek meminta uang jajan, maka dari situlah si orangtua kemudian naik pitam yang berujung pada penyiksaan fisik pada anak. Apabila dirunut lebih jauh, krisis ekonomi yang berkepanjangan turut menyebabkan kondisi ini terjadi.

Relasi antara keluarga dan pemerintah sudah semestinya seiring-sejalan. Tak heran bila kebijakan-kebijakan pemerintah di bidang ekonomi sangat mempengaruhi keberlangsungan hidup keluarga-keluarga. Misalnya saja kenaikan BBM dan harga-harga kebutuhan yang terus menukik. Implikasinya, rakyat, dalam hal ini adalah keluarga-keluarga semakin menjerit ( terutama dari kalangan menengah ke bawah ). Terlebih lagi bagi masyarakat yang hidupnya pas-pasan. Sebagai orangtua mereka mungkin tidak menghendaki, tetapi dalam keterpakasaan itu, banyak orangtua yang akhirnya mengkaryakan anak-anak mereka secara paksa, mulai dari menyuruh anak mengamen, menyemir sepatu, atau bekerja sebagai pembantu. Bahkan saat ini banyak anak kecil yang masih sangat dini usianya sudah berkeliaran di perempatan jalan tepatnya di dekat traffic light, mereka menengadahkan tangan menunggu beberapa rupiah dari para pengguna jalan. Sementara si orangtua terkadang berada di pinggir trotoar jalan menunggu sampai si anak mendapatkan uang yang diinginkannya.

Anda bisa melihat betapa situasi ekonomi ( baca: kemiskinan ) begitu berpengaruh pada pola asuh orangtua kepada anak-anak mereka. Si anak hanya tahu bahwa ia harus selalu menuruti apa yang diperintahkan oleh orangtuanya. Tanpa keluhan si anak terus saja mengemis tanpa tahu bahwa ia sebenarnya mempunyai hak untuk menikmati masa kecilnya. Masa kanak-kanaknya terampas oleh kejamnya perjuangan menghadapi hidup di bawah bayang-bayang orangtua. Dunia anak yang semestinya diisi dengan bermain, justru diganti dengan berpanas-panas di tengah jalan raya.


B. Orang Tua Adalah Pengasuh Utama

Bukan terapis, bukan konselor anak, apalagi sekolah yang pertama dan terutama bertanggung jawab dalam hal pengasuhan anak. Orangtua, ya orangtua lah yang harus bertanggung jawab dalam pengasuhan anak. Hal ini mengandaikan bahwa para orangtua harus memiliki pengetahuan mengenai pola asuh anak yang tepat dan benar, mulai dari pola asuh di bidang pendidikan, kesehatan, pergaulan dan religius. Di samping itu, para orangtua juga harusmemiliki pengetahuan mengenai hak-hak anak sesuai dengan KHA (Konvensi Hak Anak). Pertanyaannya adalah di mana para orangtua akan mendapatkan pengetahuan-pengetahuan tersebut ? Lagi, bukankah tidak ada sekolah khusus menjadi orangtua ?

Memang ada berbagai jalan keluar bila para orangtua menghadapi tingkah anak-anak mereka, khususnya tingkah anak-anak yang ekspresinya tergolong 'ganjil'. Misalnya dengan mengikuti berbagai kegiatan pelatihan yang disediakan oleh lembaga-lembaga psikologi atau lembaga lain sejenis yang secara khusus memberi perhatian kepada perkembangan psikologis anak-anak. Dengan metode-metode atau pendekatan-pendekatan tertentu seperti metode ceramah, brainstorming, curhat, mind mapping, body mapping, dialog, dan lain-lain. Namun, sebagai orangtua kita juga perlu mempehatikan satu hal bahwa lembaga-lembaga di atas plus metode-metode atau pendekatan-pendekatan yang mereka gunakan pertama-tama bukanlah solusi terbaik. Sekali lagi, orangtua lah yang harus membuat target dalam pola pengasuhan mereka. Target yang dimaksud ialah keberhasilan yang diperoleh melalui pola asuh anak dalam keluarga.


C. Pengertian Pola Asuh

Dalam mengasuh anak-anaknya, para orangtua selalu menerapkan pola asuh yang berbeda. Ada yang menerapkan pola permisif, otoriter dan demokratis. Sebagian besar dari mereka menerapkan pola otoriter pada berbagai bidang. Pola asuh dalam keluarga berarti usaha orangtua dalam membina anak dan membimbing anak baik jiwa maupun raganya sejak lahir sampai dewasa (18 tahun).[1]

Pola asuh ini dapat diklasifikasikan ke dalam 3 (tiga) kategori besar, yakni :
  1. Pola Asuh OTORITER, di mana setiap orangtua dalam mendidik anak mengharuskan setiap anak patuh tunduk terhadap setiap kehendak orangtua. Anak tidak diberi kesempatan untuk menanyakan segala sesuatu yang menyangkut tentang tugas, kewajiban dan hak yang diberikan kepada dirinya.
  2. Pola Asuh DEMOKRATIS, yakni sikap orangtua yang mau mendengarkan pendapat anaknya, kemudian dilakukan musyawarah antara pendapat orangtua dan pendapat anak lalu diambil suatu kesimpulan secara bersama, tanpa ada yang merasa terpaksa.
  3. Pola Asuh PERMISIF yang tampil dalam sikap orangtua dalam mendidik anak memberikan kebebasan secara mutlak kepada anak dalam bertindak tanpa ada pengarahan sehingga bagi anak yang perilakunya menyimpang akan menjadi anak yang tidak diterima di masyarakat karena dia tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan. 
Secara sosiologis, pola asuh keluarga di atas menuntut peran dan fungsi keluarga dalam mencapai suatu masyarakat sejahtera yang dihuni oleh individu (anggota keluarga) yang bahagia dan sejahtera. Fungsi keluarga perlu diamati sebagai tugas yang harus diperankan oleh keluarga sebagai lembaga sosial terkecil.



D. Fungsi Keluarga


Pola asuh di atas harus disesuaikan dengan determinasi yang jelas antara hak dan kewajiban anak; tetapi terutama hak anak. Hak anak yang dimaksud ialah bermain, belajar, kasih sayang, nama baik, perlindungan, dan perhatian.


Berdasarkan pendekatansosio-kultural, dalam konteks bermasyarakat, keluarga memiliki fungsi berikut :

1. Fungsi Biologis

Tempat keluarga memenuhi kebutuhan seksual ( suami - istri ) dan mendapatkan keturunan (anak); dan selanjutnya menjadi wahana di mana keluarga menjamin kesempatan hidup bagi setiap anggotanya. Secara biologis, keluarga menjadi tempat untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, dan papan dengan syarat-syarat tertentu. Berkaitan dengan fungsi ini, pola asuh anak di bidang kesehatan juga harus mendapat perhatian para orangtua. Pola hidup sehat perlu diterapkan di dalam keluarga yang bisa dilakukan dengan cara :
  • Memberitahukan pada anak untuk mengurangi konsumsi makanan instan atau cepat saji. Mengapa hal ini penting ? Kita tahu, bahwa di dalam makanan instan terdapat zat pengawet yang jika dikonsumsi secara berlebihan akan membahayakan bagi kesehatan, 
  • Memberitahukan pada anak untuk berolah raga secara rutin. 
  • Menyediakan sayuran dan buah bagi anak untuk dikonsumsi. 
  • Memberitahukan pada anak untuk memperbanyak minum air putih. 

2. Fungsi Pendidikan

Keluarga diajak untuk mengkondisikan kehidupan keluarga sebagai “institusi” pendidikan, sehingga terdapat proses saling belajar di antara anggota keluarga. Dalam situasi ini orangtua menjadi pemegang peran utama dalam proses pembelajaran anak-anaknya, terutama di kala mereka belum dewasa. Kegiatannya antara lain melalui asuhan, bimbingan dan pendampingan, dan teladan nyata. Dalam bidang pergaulan pun, anak tetap dikontrol. Sebagian peserta mengungkapkan bahwa mereka biasa mengontrol melalui teman si anak, serta menghubungi ibu/bapak guru melalui HP. Di samping itu, setalah anak pulang sekolah, para peserta juga memeriksa tas sekolah anak, kalau-kalau si anak membawa sesuatu yang tidak wajar. Adapun suka-duka para peserta dalam mendidik anak sangat bervariasi. Sebagian peserta menyatakan sangat senang bila anak-anak mereka menurut terhadap apa yang mereka sarankan. Namun di sisi lain, peserta merasa sedih bila si anak terkadang membantah perkataan mereka, ngambek tidak mau belajar, salah pergaulan dan sebagainya.  

3. Fungsi Religius

Para orangtua dituntut untuk mengenalkan, membimbing, memberi teladan dan melibatkan anak serta anggota keluarga lainnya mengenal kaidah-kaidah agama dan perilaku keagamaan. Di sini para orangtua diharuskan menjadi tokoh inti dan panutan dalam keluarga, untuk menciptakan iklim keagamaan dalam kehidupan keluarganya. Berkatian dengan pola asuh anak di bidang agama, banyak orangtua sepakat bahwa agama adalah solusi terakhir dan tertinggi bagi setiap persoalan hidup anak-anak mereka. Masalahnya justru terletak pada tantangan yang mereka hadapi dalam mensosialisasikan ajaran agama dimaksud. Hari-hari ini ada fenomena bahwa agama seakan-akan tidak lagi menarik perhatian anak-anak. Pesan moral dari kisah-kisah yang mempesona dari kitab-kitab suci tidak lagi sampai kepada anak-anak di jaman ini. Memang sih hal ini erat terkait dengan mandegnya progressivitas pihak agama dalam mencari pola-pola pengajaran terkini. Maka tidak mengherankan bila sebagian besar orangtua sangat sulit mengajak anak-anaknya untuk beribadah. Banyak anak justru tidak merasa nyaman di gereja atau tempat ibadah agamanya. Di titik ini para orangtua harus menyadari fungsi mereka sebagai teladan atau pemberi contoh terlebih dahulu. Bagaimana anak akan menurut pada ajakan orangtua bila si orangtua sendiri tidak menjalankannya.


4. Fungsi Perlindungan

Fungsi perlindungan dalam keluarga ialah untuk menjaga dan memelihara anak dan anggota keluarga lainnya dari tindakan negatif yang mungkin timbul. Baik dari dalam maupun dari luar kehidupan keluarga. Selama ini dalam mendidik anak, banyak orangtua mendidik anak-anak mereka dengan sabar dan telaten, agar anak menurut sesuai dengan yang diinginkan. Namun tidak jarang pula mereka menggunakan cara-cara yang sedikit otoriter, agar anak tidak bandel dan menurut apa yang kita perintah. Fungsi perlindungan juga menyangkut pola asuh orangtua di bidang kesehatan. Pola ini bisa dicermati dari kegiatan keseharian anak, antara lain :
  • Selama ini ketika anak pulang dari sekolah langsung pulang ke rumah atau bermain dulu di tempat temannya. Dalam hal ini juga harus diperhatikan apakah anak tersebut sudah makan siang atau belum. Artinya kontrol terhadap pola makan anak dijalankan dengan baik. Apabila anak pulang sampai sore atau malam hari maka orangtua perlu menanyakan kemana saja seharian anak tersebut. 
  • Selama ini ketika anak pulang dari sekolah, apakah langsung membantu orangtua atau bermain. Hal ini ditinjau dari pandangan orangtua jelas tentunya lebih senang ketika anak langsung membantu orangtua dalam hal pekerjaan di dalam rumah. Lalu bagaimana bila ternyata anak membantu orangtua dalam arti ikut bekerja mencari uang ? Tentunya hal ini sebaiknya belum boleh dilakukan oleh anak, mengingat anak masih tumbuh dan berkembang dan mempunyai hak untuk menikmati dunia bermainnya. Bisa dibayangkan betapa anak nantinya akan terbebani ketika harus memikirkan pelajaran di sekolah, namun di sisi yang lain masih harus bekerja mencari uang. Sudah menjadi kewajiban orangtualah untuk membiayai segala macam keperluan anak sehari-hari termasuk pula dalam hal biaya sekolah. 
  • Anak dipastikan mandi sehari dua kali. Dalam hal ini orangtua senantiasa mengontrol apakah anak sudah mandi atau belum. 
  • Asupan gizi yang dikonsumsi anak juga harus diperhatikan. Apabila anak setiap hari diberi lauk daging, tentunya tidak bagus. Akan lebih baik bila diimbangi dengan sayur, buah dan susu. Dalam arti makanan yang dikonsumsi sehari-hari memenuhi 4 sehat 5 sempurna. Sesekali anak diberi lauk ikan, telur, tempe, tahu dan lainnya. Hal ini dimaksudkan agar terdapat variasi menu makanan anak agar anak tidak bosan. 

5. Fungsi Sosialisasi

Para orangtua dituntut untuk mempersiapkan anak untuk menjadi anggota masyarakat yang baik, kalau tidak mau disebut warga negara kelas satu. Dalam melaksanakan fungsi ini, keluarga berperan sebagai penghubung antara kehidupan anak dengan kehidupan sosial dan norma-norma sosial, sehingga kehidupan di sekitarnya dapat dimengerti oleh anak, sehingga pada gilirannya anak berpikir dan berbuat positif di dalam dan terhadap lingkungannya.


6. Fungsi Kasih Sayang. 

Keluarga harus dapat menjalankan tugasnya menjadi lembaga interaksi dalam ikatan batin yang kuat antara anggotanya, sesuai dengan status dan peranan sosial masing-masing dalam kehidupan keluarga itu. Ikatan batin yang dalam dan kuat ini, harus dapat dirasakan oleh setiap anggota keluarga sebagai bentuk kasih sayang. Dalam suasana yang penuh kerukunan, keakraban, kerjasama dalam menghadapi berbagai masalah dan persoalan hidup.


7. Fungsi Ekonomis
Fungsi ini menunjukkan bahwa keluarga merupakan kesatuan ekonomis. Aktivitas dalam fungsi ekonomis berkaitan dengan pencarian nafkah, pembinaan usaha, dan perencanaan anggaran biaya, baik penerimaan maupun pengeluaran biaya keluarga.


8. Fungsi Rekreatif

Suasana Rekreatif akan dialami oleh anak dan anggota keluarga lainnya apabila dalam kehidupan keluarga itu terdapat perasaan damai, jauh dari ketegangan batin, dan pada saat-saat tertentu merasakan kehidupan bebas dari kesibukan sehari-hari.


9. Fungsi Status Keluarga

Fungsi ini dapat dicapai apabila keluarga telah menjalankan fungsinya yang lain. Fungsi keluarga ini menunjuk pada kadar kedudukan (status) keluarga dibandingkan dengan keluarga lainnya. Dalam mengembangkan anak untuk menjadi sumber daya manusia yang berkualitas diperlukan persiapan dan perlakuan terhadap anak secara tepat sesuai dengan kondisi anak. Sebagai manusia, setiap anak mempunyai ciri individual yang berbeda satu dengan yang lain. Di samping itu setiap anak yang lahir di dunia ini berhak hidup dan berkembang semaksimal mungkin sesuai dengan kondisi yang dimilikinya. Untuk dapat memberi kesempatan berkembang bagi setiap anak diperlukan pola asuh yang tepat dari orangtuanya, hal ini mengingat anak adalah menjadi tanggung jawab orangtuanya baik secara fisik, psikis maupun sosial[2]


E. Refleksi dan Saran

Pertanyaan berikut menjadi bahan refleksi bagi kita, para orangtua : Bagaimana cara orangtua mendidik anak ? Bagaimana orangtua mengawasi atau mengontrol anak-anak mereka dalam pergaulan: apa saja suka-dukanya ? Kenyataannya ada banyak orangtua melaksanakan kewajiban mereka dalam mendidik anak-anaknya, tetapi dengan pendekatan pola asuh yang terbatas. Sadar maupun tidak sadar dalam melaksanakan tugas mulia itu diwarnai oleh kemampuan yang dimiliki oleh orangtua itu sendiri yang pernah didapatkan dari keluarga asalnya maupun pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya. Besar kemungkinan ada ketidaktepatan pola asuh dari orangtua tersebut terhadap anak-anak mereka karena anak-anak tersebut mempunyai sifat pribadi dan karakter yang berbeda-beda. Anak yang satu bisa tepat / cocok dengan model yang dilakukan oleh orangtua, tetapi ada kemungkinan anak yang satunya atau yang lainnya lagi tidak cocok dengan model tersebut. Oleh karena itu, model pola asuh yang tepat bagi anak perlu digali lebih dalam lagi.

Setiap orangtua berbeda dalam hal penerapan pola asuh bagi anak-anak mereka. Ada yang menerapkan pola permisif, otoriter dan demokratis. Satu hal yang cukup mencengangkan kita ialah adanya fakta sebagian besar dari para orangtua menerapkan pola otoriter pada berbagai bidang. Pola asuh dari (terkesan) otoriter yang telah mereka terapkan selama ini harus dibuah dengan fokus pada pertumbuhkembangan anak serta kemajuan anak di masa yang akan datang. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi para orangtua untuk membiarkan anak-anak mereka menikmati masa bermainnya, karena dengan memaksakan kehendak orangtua pada anak seperti mengharuskan anak mengamen di jalan dengan sendirinya telah merampas dunia kanak-kanak mereka. Hal penting selanjutnya yang harus diperhatikan oleh para orangtua adalah agar tidak terus-menerus mengkaryakan anaknya untuk mendapatkan uang dengan tanpa susah payah bekerja keras. Lambat laun para orangtua ini akan menghargai sebuah proses menuju kesuksesan dibandingkan budaya malas yang menghinggapi selama ini. Dan akhirnya para orangtua perlu meninjau ulang pola asuh yang telah mereka terapkan selama ini. Semoga para orangtua bisa menerapkan pola asuh yang sesuai bagi anak dan mendukung tumbuh-kembang anak serta kemajuan anak di masa yang akan datang. Misericordia of Indonesian Children Foundation siap membantu Anda.


Sumber:

[1] Tim Penggerak PKK Pusat. 1995. Pola Asuh Anak dalam Keluarga : Pedoman bagi Orangtua, Jakarta
[2] Nuryoto, Sartini. Pola Asuh Anak. (disampaikan dalam sarasehan “Pola Asuh Anak yang Adil Gender”, 24 Juli 1998 di Benteng Vredeberg. Yogyakarta.
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter