Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Kalau lagi puasa, jangan lebay gitu dong

Akhir-akhir ini kata “lebay” sangat akrab di telinga kita. Begitu akrab hingga kata itu seakan-akan sangat baku dan boleh digunakan oleh para pejabat sekalipun. Kata lebay sendiri sudah terlanjur berkonotasi negatif, yang berarti berlebihan (over). Beberapa contoh merujuk ke istilah ini, misalnya DPR yang menggunakan anggaran dengan jumlah lebay hanya untuk benerin toilet mereka; para koruptor dengan sok polos tapi lebay mengatakan “tidak” untuk semua tindakan mungkarnya. Kenyataannya, sungguh tak mudah, bahkan tak rela untuk menyalahkan diri sendiri. Sebaliknya, menuduh yang lain sebagai biang persoalan adalah hal paling laris manis di dunia saat ini. Tak hanya pada saat melakukan kesalahan, tapi juga pada saat melakukan “kebaikan”, kita cenderung ingin “membenarkan diri” dengan segala usaha baik yang sedang kita jalankan. Tak jarang juga kita malah menjadikan tindakan benar tadi (misalnya berpuasa) sebagai pedang yang akan menghunus mereka yang tidak melakukan hal yang sama; termasuk dalam hal BERPUASA : “Kayak gue dong ..puasa. Loe ? boro-boro, enggak ngisap rokok sebatang aja rasanya dunia loe bakal kiamat kale!”



Inilah yang dilakukan murid-murid Yohanes kepada Yesus "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" 15 , juga tuntutan dari keturunan Yakub akan “hadiah” yang akan mereka dapatkan dari Allah bila sudah melakukan puasa: "Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?" (Yes 58:3). Lantas, (ber-)puasa yang benar itu bagaiamana sih ? Ada beberapa poin penting yang bisa kita rangkum dari dua bacaan hari ini : Yesaya 58:1-91 dan Matius 9:14-15.

Puasa harus dijalankan satu paket dengan doa (Yes 58:9): “Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi. (Yes 58:4). Sepanjang menjalankan puasa, Tuhan menuntut agar kita tampil pada adanya (Yes 58: 7). Berpuasa itu bukan pertama-tama soal kewajiban atau soal akan mendapatkan reward and punishment dari Allah; berpuasa juga bukanlah soal mampu menahan rasa lapar dan haus, melainkan juga keikut-sertaan kita secara aktif-positif pada situasi nyata disekitar kita, seperti kemiskinan dan ketersingkiran orang-orang dari kebahagiaan hidup mereka. Dalam berpuasa, kita diajak oleh Tuhan agar menjauhkan diri dari kelaliman dan kecenderungan membebani orang lain dengan tindakan berbagai makanan, tempat berteduh, pakaian kepada sesama (Yes 58:6-7). Berpuasa juga bukanlah tindakan pura-pura yang hanya tampak jelas dari luar diri kita: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? (Mat 9:14a). Tindakan berpuasa hendaknya dilakukan dengan keihlasan dan kejujuran pada diri sendiri dan dengan motivasi untuk semakin dekat dengan Allah. Melalui tindakan berpusa, kita diajak untuk membangun sikap kerendahan diri di hadapan Allah (Yes 58:5)

Ada banyak misi dibalik tindakan berpuasa. Ada saja orang yang berpuasa sebagai kewajiban yang harus dijalankan. Berpuasa hanya sebagai counter bagi kejahatan yang kita lakukan sebelumnya. Pada saat masalah datang menghantam, dan beban hidup menimpa tak tertahankan, manusia berteriak “mencari alamat” atau mencari “sesuatu banget” sebagai silih bagi kesalahannya. Ini disebut pertobatan pragmatis: memandang kebahagiaan hidup sama dengan selisih antara dosa dan tobat. Dari orang-orang seperti ini lahirlah istilah “tomat” (tobat sejenak lalu kumat lagi dan begitu siklus seterusnya). Menjadikan puasa hanya sebagai sarana untuk menuntut Allah dan menyalahkan orang lain karena berpikir bahwa tindakan pertobatan itu ibarat menabung demi memanen hasil kelak).

Akhirnya, kepada para pentobat nan lebay Allah pun akan nyeletuk begini, “Biasa aja kaleee!” dengan logat Andre dan Sule di Opera van Java (OVJ). Bahkan, bisa jadi neh ye, Allah akan mengatakan “Elo Gue End”.. tentu dengan gaya bercanda a la Wendy Cagur di Comedy Project. Hehehe.. Amin

www.lusius-sinurat.co.cc
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

2 komentar

  1. lagi blog walking nih,..
    kunjungan pertama nih kawan
    salam kenal dan follow juga
    Revolusi Galau
    ya

    BalasHapus
  2. Ok mas. Makasih ya... Aku akan follow dehh

    BalasHapus

Posting Komentar

Komentar via email ke [email protected]






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter