Ad Unit (Iklan) BIG

Menyeimbangkan Hidup

Posting Komentar
Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif. (Efesus 5:15)


Orang Bijak dalam Kitab Suci Perjanjian Lama (KSPL)

Kitab Suci Perjanjian Lama (KSPL) tak jarang menyematkan terminologi “orang arif” atau “orang bijaksana” kepada para nabi, juga kepada para pemimpin rakyat, atau pemimpin umat. Tetapi serentak KSPL juga sering mengingatkan kita adanya orang yang mengaku arif, tetapi cerdik dan licik. Nah, “orang arif” jenis ini harus kita wanti-wanti tiap gerak-geriknya. Lalu siapa sebenarnya orang arif itu?
Orang arif menurut KSPL ialah "seseorang yang mengetahui kebiasaan zaman" (Est 1:13); "seseorang pendengar yang baik" (Sir 3:29) dan "tempat curhat yang baik" (Sir 9:15); "seseorang yang menasihati dengan bijaksana (Tob 4:18). Sementara kepemimpinan yang arif adalah "ibarat seorang raja yang menjadi simbol kesejahteraan rakyatnya" (Keb 6:24); "kearifannya itu akan mempertinggi kemuliaan semua orang yang dipimpinnya' (Sir 1:19); "pemerintah yang mempertahankan ketertiban dan keteraturan rakyatnya dan memandang serta memperlakukan rakyat yang dipimpinnya dengan Arif." (Sir 10:1). 

Dalam memperlakukan bawahan seorang pemimpin  harus memperlakukan dengan arif/bijaksana dalam menilai dan mengevaluasi bawahannya, sebab “Ada teguran yang tidak tepat pada waktunya, dan ada orang yang berdiam diri dan justru dialah arif (Sir 20:1)”. Demikian juga seorang pemimpin jemaat harus memperhatikan ucapannya (sebagai representasi Warta Gembira Kristus). Hal itu akan terlihat pada saat ia diperlakukan sebagai “orang arif (yang) dicari-cari dalam jemaah, dan perkataannya direnungkan dalam hati mereka”. (Sir 21:17 )

Bila “tuntutan-tuntutan” di atas tidak terpenuhi, atau tokoh arif tak kunjung “ada” maka lahirlah perasaan sedih dan kesal hati di tengah masyarakat. Sirak bin Yesus dengan bahasa yang kuat menegaskannya kepada kita: "Dua hal yang membuat hati merasa sedih, yakni prajurit yang kekurangan karena miskin dan orang arif yang dinistakan orang; (Sementara itu ada) satu hal yang membuat kesal hati, yakni orang yang dari kesalehan berbelok kepada dosa (Sir 26:28)

Lawan dari orang arif ialah orang orang bebal. Secara etimologis, kata “Nabal” berarti orang yang dursila; Nabal namanya dan bebal orangnya. (1sam 25:25); orang yang tak berpengalaman, masih cinta kepada keadaannya, pencemooh, dan benci kepada pengetahuan. (Ams 1:22). Dalam KSPL ditegaskan bahwa orang bebal akan dibinasakan oleh kelalaiannya (Ams 1:32), (karena ia) suka menyembunyikan kebencian dan dusta dalam bibirnya serta suka mengumpat (Ams 10:18), berlaku cemar (Ams 10:23)

Di sinilah perbedaan antara orang bijak dan orang bebal : "orang yang bijak akan mewarisi kehormatan, tetapi orang yang bebal akan menerima cemooh" (Ams 3:35); "berlaku cemar adalah kegemaran orang bebal, sebagaimana melakukan hikmat bagi orang yang pandai" (Ams 10:23); "orang yang bijak menyembunyikan pengetahuannya, tetapi hati orang bebal menyerunyerukan kebodohan" (Ams 12:23)

Orang Bijak dalam Kitab Suci Perjanjian Baru (KSPB)

Dalam Surat Paulus kepada Jemaat di Korintus (1Kor 1:22-26) “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat. [Kendati demikian dalam memahami peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus kedua bangsa itu memiliki perbedaan:] “Salib Kristus : suatu batu sandungan untuk orang-orang Yahudi dan suatu kebodohan bagi orang-orang non-Yahudi (Yunani); tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.

Sang Arif atau Sang Kebijaksanaan yang digambarkan dalam KSPL dilengkapi dalam KSPB, yakni YESUS KRISTUS sendiri. Kata Paulus, “Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kua..” (1 Kor 1:27)


Penutup

Lantas, bagaimana menjadi orang bijak ? Pertama-tama ialah tidak menipu dirinya: "Janganlah ada orang yang menipu dirinya sendiri. Jika ada di antara kamu yang menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini, biarlah ia menjadi bodoh, supaya ia berhikmat" (1 Kor 3:18). Kedua, sadar bahwa orang bijak punya kerendahan hati: "Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi kami hina" (1 Kor 4:10). Akhirnya, kebijaksanaan kita peroleh bila kita tak hanya mengandalkan segenap kemampuan kita atau merasa mampu melakukan apapun tanpa campur tangan Allah; sebaliknya, sebagaimana Kristus, kita akan menjadi bijaksana bila kita menghidupi Allah, “Allah di dalam Aku, dan Aku di dalam Allah.” Semoga.

Majalaya 09092011
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter