Ad Unit (Iklan) BIG

Suara Bedug di Tengah Bunyi Lonceng

Posting Komentar
Suara Bedug di Tengah Bunyi Lonceng
Ilustrasi: Tim CFDC Misericordia Semarang
Ketika saya masih kecil, saya tinggal di kota Dolok Sanggul. Daerah ini ditempati oleh masyarakat yang bersuku Batak dan beragama Kristen. Lonceng Gereja selalu terdengar di saat-saat tertentu. Lonceng itu akan berbunyi sebagai tanda pengingat bahwa Ibadat akan dimulai atau juga sebagai tanda untuk mengajak agar orang berdoa bersama.

Ketika lonceng dibunyikan pkl 12.00 WIB, orang akan berdiam diri sejenak dan mengucapkan doa “Malaikat Tuhan”. Dan makna bunyi lonceng itu juga akan berbeda ketika ada orang yang meninggal. Lonceng menjadi suatu tanda pengingat dan bunyi yang sangat penting.

Saya masih ingat ketika suatu siang lonceng dari salah satu gereja dibunyikan. Bunyinya terdengar sekali dengan dalam beberapa menit. Semua orang di sekitarku langsung bertanya, “siapa yang meniggal?”

Tidak lama kemudian, berita meninggalnya salah satu warga pun diketahui oleh semua orang. Sangat unik dan efisien cara itu. Pengalaman lain lagi ketika saya masih berada di Sekolah Lanjut Tingkat Pertama (SLTP). Tepat saat itu jam menunjukkan pkl. 11.55 WIB. Karena jam olah raga, kami asyik main bola di lapangan.

Namun ketika mendengar bunyi lonceng, semua tiba-tiba berhenti dan menundukkan kepala sambil berdoa “Malaikat Tuhan”. Semua itu terjadi dengan begitu mengesankan, rapi dan serentak. Saya selalu terkesan dengan pengalaman itu. Pengalaman dimana iman dirayakan tidak hanya di Gereja tetapi juga di lapangan bola.

Tetapi setelah saya beranjak dewasa dan telah lama tinggal di pulau Jawa, saya tidak mengalami lagi kisah sehari-hari itu. Saya sungguh merindukan ketika sepak bola kalah penting dari doa “Malaikat Tuhan”, dan ketika semua orang datang melayat setelah mendengar bunyi lonceng.

Liburan terakhir di bulan Desember yang lalu saya menyempatkan diri untuk pulang ke kota itu. Ada satu hal yang unik. Siang dan sore hari, lonceng tidak berbunyi sendirian lagi. Di beberapa tempat telah dibangun Mesjid. Suara lonceng gereja dan Bedug di Mesjid ternyata sangat seirama.

Ada satu pengalaman baru ketika liburan itu. Paduan suara antara bedug dan lonceng memberi suasana baru di kota Dolok Sanggul. Keberagaman semakin menampilkan warna yang indah. Kota Dolok Sanggul kini tidak lagi hanya didiami oleh Batak Kristen tetapi juga Batak Muslim. Beberapa tetangga baru hadir memberi warna baru dengan cara hidup baru.

Mereka datang dari berbagai daerah setelah kota itu berubah secara administrative dan dari segi pemerintahan. Dulunya hanya sebatas kecamatan, sekarang telah menjadi ibu kota kabupaten Humbang Hasundutan. Perubahan budaya pun menjadi lebih baik karena wawasan warga tentang keberagaman menjadi lebih terbuka.

Tentang perubahan Budaya, suatu ketika seorang teman mengajak saya untuk menghadiri pesta pernikahan dari teman lama kami. Karena sipemilik pesta adalah orang Batak Kristen, maka daging yang dimasak untuk upacara adat adalah daging babi. Namun, yang datang ke pesta tidak hanya orang Kristen.

Di antara mereka ada juga saudara-saudara yang Muslim dan terlihat jelas dari kerudung dan peci yang mereka gunakan. Muncul rasa penasaran dalam benak saya. Apakah mereka juga memakan daging babi? Rasa penasaran itu membawaku ke tempat masak.

Dan saya kaget dan kagum. Dulu saya masih ingat bahwa tungku masak hanya satu. Namun saat itu saya melihat bahwa ada juga “parhobas” ( kata dari bahasa Batak untuk orang yang melayani pesta dan yang memasak semua makanan yang diperlukan) khusus bagi mereka yang Muslim. Dan mereka yang dijadikan parhobas adalah juga dari umat Muslim.

Kisah keberagaman ini sangat menarik bagi saya dan sangat menginspirasi. Saya bangga karena ternyata orang Batak juga sangat terbuka pada keberagaman. Suara Bedug dapat juga terdengar di mana lonceng gereja telah lama berbunyi. Daging babi tidak menjadi menu wajib yang harus dimakan oleh semua orang yang menghadiri pesta.

Semangat keberagaman seperti ini tidak menuntut suatu studi panjang tentang dialog. Mereka justru telah menghidupi dialog itu. Hanya saja, kekhawatiran muncul dalam benak saya ketika dalam beberapa kasus terjadi bahwa lonceng tidak bisa bersuara di antara bunyi bedug. Gereja tidak bisa dibangun di antara Mesjid dan Mushola.

Ketika Haleluya tidak bisa lagi dinyanyikan di antara ucapan damai dan cinta Assalamualaikum. Saya hanya bisa berdoa agar masyarakat kotaku kota Dolok Sanggul tetap setia pada hidup mereka sebagai orang Batak yang bisa menjaga perdamaian walau Gereja dari keluarga mereka dirobohkan di Jawa Barat, ketika Gereja dari keluarga mereka di tutup di Jakarta. Semoga damai tetap mengakar di kotaku.


Kiriman Subandri Simbolon Penyunting: Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter