Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Ahok: Integritas yang Meretas

Ahok: Integritas yang Meretas
Ahok tak sekedar bicara. Ia mengerti UU hingga Perda: satu demi satu ia baca dan pahami secara mendalam. Ahok bahkan rela dipecat dari partai daripada ia tak bisa memajukan Jakarta yang dipimpinnya bersama Jokowi.






Ahok tentu punya kelemahan. Sebagaimana juga kita punya kelemahan di berbagai sisi hidup kita. Tetapi jauh lebih penting bagi kita untuk lebih peduli pada kelebihan Ahok yang mungkin hanya sebesar biji sesawi atau sebutir pasir, karena kelebihan yang ia miliki dapat ia salurkan untuk sesamanya, khususnya rakyat yang dipimpinnya.

Caranya mempedulikan rakyat yang dipimpinnya sering bikin jantung deg-degan, bukan deg-degan karena takut, melainkan deg-degan seperti lagunya Titik Sandora-Muksin Alatas, "karena semakin hari ia semakin dicintai rakyatnya". Tapi ini baru satu sisi dari tampilan Ahok.

Jauh lebih mengharukan bagi kita, dan bagi saya pribadi, tentang caranya berkomunikasi dengan siapa pun. Dia akan dengan jenaka, rileks, dan intelektualnya mencuat saat diwawancarai presenter cerdas seperti Rossy Silalahi atau Najwa Sihab.

Tetapi ia akan tampil "bete" saat reporter televisi atau wartawan media cetak menanyakan pertanyaan yang "out of context". Seperti saya pernah posting di grup ini. Ahok ini adalah representasi yang paradoks, itu karena ia punya integritas: dari dalam dirinya sendiri.

Saya jadi teringat dengan gaya kepemimpinan atau spirit pelayanan yang pernah dilakukan oleh Paus Yohanes Paulus II yang begitu 'saklek' dengan tatanan yang sudah ada dalam tubuh gereja yang dipimpinnya, tetapi di sisi lain dengan tulus ia memeluk Mehmed Aliaqsha yang pernah menembaknya.

Ahok pun merangkul siapa pun yang menjadi sahabat semua orang tetapi akan tampil berang saat berhadapan dengan para musuh rakyat atau musuh kebenaran. Tukang sapu disangoninya naik haji, tapi ia dan Jokowi akan menggusur siapa pun yang tinggal di pemukiman tak resmi dan membahayakan, baik bagi mereka yang tinggal maupun bagi mereka yang ada di sekitarnya, dengan terlebih dahulu menyediakan rumah yang lebih baik dari sebelumnya kepada masyarakat yang tergusur.

Ahok adalah Jokowi; dan Jokowi adalah Ahok. Keduanya adalah dwitunggal kepemimpinan nasional. Mereka sama-sama pionir dalam banyak hal. Kalau Jokowi hadir dengan style “blusukan”nya hingga ke gorong-gorong demi memetakan persoalan yang dihadapinya, maka Ahok menjadi selebran pionir dalam beberapa acara resmi di pemerintahan, agar sisi 'elite' pemerintahan mereka tetap terjamah.

Begitulah Ahok yang memeluk seorang penderita Aids: ia memeluk bukan seperti para pejabat yang cipika-cipiki sesaat sebelum rapat dimulai. Ahok memeluk si orang terpinggirkan itu dengan penuh kasih beralas ketulusan.

Mengutip Kepala Bidang Monitoring, Evaluasi, dan Pengembangan Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) DKI Jakarta, John Alubwama, ".... baru kali ini ada pejabat tinggi pemerintahan datang langsung merayakan Hari AIDS Sedunia. Sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya.[...] Dulu hanya level asisten, sekarang sudah wakil gubernur, kami pun menyambut baik pelaksanaan pada hari ini," katanya, di Jakarta, Minggu (1/12/2013). InekeFatmawati sudah menshare-kan berita ini untuk kita.

Tampaknya memang ini sudah menjadi karakter seorang Ahok, yang semasa kecilnya sudah dibentuk sedemikian rupa menjadi seorang 'leader' bagi jutaan orang. Bung Leo - sekitar seminggu lalu juga pernah membagikan cerita Rene Muhammad tentang profil Ahok di G+: Ahok yang begitu garang.

Ahok adalah seorang penganut Kristen puristik, yang mengembalikan esensi cinta ke dalam persahabatan dengan siapa pun juga: tanpa tedeng aling dengan perbedaan latar belakang. Ini yang selalu ditekankan berulang-ulang oleh Opung admin kita, Bung Bayu Syailendra di grup ini dan di statusnya.

Harap ingat, Ahok tetaplah Ahok. Ia punya integritas puritan: hitam-putih, "Ya di atas Ya dan Tidak di atas Tidak. Selain itu berasal dari si jahat !" Di saat partai menghalanginya untuk "berbuat lebih" untuk rakyatnya, ia akan menebas dengan garang, sebagaimana disharing-kan ulang oleh Bung Leo di sini - dari detikNews, "Ahok: Partai Silakan Pecat Saya dan Jokowi, Kami Ingin Didik Warga Jakarta." Menteri atau presiden sekalipun akan dibantahnya bila apa yang mereka katakan kepada publik bukan hal yang sebenarnya.


Integritas Ahok

Ya, integritas seorang pemimpin sudah lama sirna dari sosok-sosok pemimpin kita, apalagi di tingkat nasional. Integritas sering diabaikan, karena integritas sering dipandang sebagai tembok penghalang untuk memperkaya diri, keluarga dan kroni-kroninya.

Integritas kini kembali lagi ke permukaan, setelah era Sukarno yang disingkirkan oleh gerombolan Orde Baru yang sadis dan membuat sejarah menjadi miris. Jokowi, oleh Megawati dipandang sebagai titisan 'roh' sang ayah, yang punya kemampuan menyatukan keterpecahan yang ada di tengah masyarakat.

Ahok pun oleh Meutia Hatta - yang adalah putri Bung Hatta, dipandang sebagai sosok yang berkarya melebihi apa yang diminta oleh rakyat. Ahok, ternyata bukan sekedar wakil gubernur seperti di era sebelumnya.

Ahok dan Jokowi justru secara bersamaan adalah duo dengan satu kebijakan, yakni Jakarta yang baru: bersih dari korupsi dan akrab dengan kesejahteraan.


Lusius Sinurat












lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter