Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Kekuatan Behaviour Intelligence Capres Jokowi

Kekuatan Behaviour Intelligence Capres Jokowi
Berbeda dengan IQ, EQ, SQ yang biasa Anda dengar. Behavior Intelligence (BI) adalah sekumpulan ketrampilan dan kemampuan untuk menseleksi, mengeksekusi, dan memilih tindakan yang tepat untuk mengelola suatu situasi, baik sosial maupun yang bersifat proyek non-manusia. Orang dengan inteligensi emosi tinggi cirinya adalah ‘smart with people’, sementara orang dengan ‘behaviour intelligence’ tinggi, tahu cara menyelesaikan tugas, baik itu yang melibatkan orang atau tidak.

Orang dengan BI tinggi mempunyai kapasitas opersional yang kuat. Waktu, tindakan, keputusan, menjadi komoditi di dalam pemikirannya. Ia pun peka deadline. Bahasanya ‘bahasa waktu”. 

Contoh tindakan orang dengan BI tinggi: Dalam waktu 24 jam tanggul ini harus kita tutup. Untuk mencapai targetnya, seorang pemimpin dengan BI tinggi --sebagaimana juga diterapkan oleh Jokowi (Joko Widodo) di Jakarta-- biasanya akan 
  • mengadakan meeting-meeting secara efektif, 
  • langsung berbahasa action, dan 
  • langsung menunjuk “person in charge”-nya. 
Jenis pemimpin atau CEO dengan behaviour intelligence atau kecerdasan perilakunya tinggi ialah orang yang sangat yakin bahwa semua pekerjaan tidak bisa diselesaikannya sendirian. Tak heran bila bahasa yang biasanya mereka gunakan adalah "KITA". 

Orang seperti ini tidak berkutat pada egonya, tetapi lebih berobsesi menyelesaikan tugas. Bagi mereka, sikap terhadap manusia tidak sulit dikembangkan, karena seseorang dengan ‘operational excellence’ tahu harga manusia lain, yang bisa diajak bekerjasama dalam peneyelesaian tugasnya. 

Saya kira ada beberapa contoh pemimpin dengan Behaviour Intelligence yang tinggi di negara ini, sebut saja Gubernur DKI Joko Widodo - Jokowi dan Wakil Gubernur DKI Ahok (Basuki Tjahaja Purnama), Walikota Surabaya Risma, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Waikota Bandung M. Ridwan Kamil , dan beberapa yang kurang diliput media. Dan sosok paling menonjol dari mereka, dengan BI tinggi adalah Jokowi yang kini menjadi calon presiden pilihan kita.


Jokowi adalah calon presiden yang paling cocok untuk menggiring Indonesia menjadi lebih hebat. Ini terkesan subyektif, namun rasanya tak ada orang yang bisa menyangkal bahwa Jokowi selalu fokus pada ‘timeline” dan “action plan". Jokowo begitu ddikagumi sebagian besar masyarkat Indonesia, bahkan dunia justru bukan karena teorinya yang sangat canggih untuk menjadikan rakyat menjadi kaya, menaikkan gai buruh, merekrut polisi ganteng dan cantik, dst.... Jokowi begitu kita kagumi justru karena tindakan-tindakannya, bukan teorinya!

Tubuh kerempengnya Jokowi yang selalu gesit sungguh menggambarkan pikirannya yang cerdas - meminjam istilah dari Jenderal George S. Patton : "An active mind cannot exist in an inactive body”. Jokowi ibarat seorang eksekutif yang digolongkan oleh Peter Drucker sebagai DOers, karena dia selalu gesit dalam meng-EKSEKUSI. 

Keberadaan Jokowi seakan menyindir kebiasaan kaum 'elite' politisi yang suka pamer istilah, pamer kutipan, dan pamer pidato,dst tetapi hanya OmDO aliasomong doang.Jokowo seakanmenyentil mereka yang tidak membumi. Jokowi seakan mengajari mereka bahwa pengetahuan tak banyak gunanya, bila seorang pemimpin tidak mampu menterjemahkan pengetahuan (teorertis) itu ke dalam tindakan. 

Akhirnya sebagai seorang dengan Behaviour Intelligence yang tinggi, dalam segala merencanakan program pembangunan di Solo, DKI, atau kelak sebagai Presiden RI Jokowi selalu bisa mengecek kualitas dan pencapaian hasil dan langsung membayangkan cara-cara pencapaiannya. 

Dengan mengambil peran ‘DO-er’, Jokowi menggiring para bawahannya untuk berorientasi pada hasil, dan sekaligus juga trampil melakukan penyesuaian kalau pencapaian hasil terhambat. Behaviour Intelligence memang perlu dijaga dan dikembangkan.

Sekarang masyarakat seakan menemukan jawaban mengapa seorang Jokowi selalu mengulang kata-kata "langsung eksekusi", "eksekusi", atau "eksekutor" Itu karena bagi Jokowi, bukan saja penyelesaian tugas yang harus ia jamin, tetapi lebih pada penyesuaian diri dan juga perubahan perubahan drastis yang perlu ia bisa kelola. Inilah yang menjadikan Jokowi selalu happy dalam bekerja, entah sebagai seorang eksekutif / pengusaha meubel, entah sebagai seorang pemimpin daerah.


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter