Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Proses Revolusi adalah Proses Pendidikan

Proses Revolusi adalah Proses Pendidikan
"Suatu TINDAKAN BEBAS hanya dapat terlaksana di mana seseorang mengubah dunianya dan dirinya...Suatu kondisi positif dari KEBEBASAN adalah pengetahuan mengenai batas-batas kewajiban [dan] kesadaran mengenai kemampuan-kemampuan kreatif manusia...Perjuangan mencapai MASYARAKAT BEBAS bukanlah perjuangan mencapai masyarakat bebas, kecuali seiring dengan itu diciptakan suatu peningkatan kadar kebebasan pribadi."

( Ercih Fromm (ed), Socialist Humanism. New York: 1965:274-276 )


Dalam bahasa sederhana, untaian kalimat panjang di atas dapat diurai sistematis dengan kalimat ini: "PROSES REVOLUSI ADALAH PROSES PENDIDIKAN" yang berlangsung lewat: keterbukaan pemimpin terhadap rakyat, bukan ketidakpedulian terhadap mereka. persekutuan dengan rakyat, bukan kecurigaan atas mereka. Semakin suatu revolusi membutuhkan teori, semakin para pemimpinnya harus bersama rakyat agar dapat berhadapan melawan kekuasaan penindas.

Dalam Konteks Indonesia, situasinya justru terbalik. Para pemimpin seakan-akan secara otomatis menjadi penguasa atau mereka yang menguasai rakyatnya, termasuk menghambat laju kecerdasan anak-anak bangsanya sendiri. Salah satu indikatornya adalah penerapan sistem kurikulum yang tidak berbasis pada kebebasan manusia Indonesia untuk mendapat pendidikan yang layak sebagaimana dicatut dalam UUD 1945.

Memangnya buat apa penguasa melakukan pengebirian kecerdasan di atas? Jawabannya sangat sederhana: agar mereka tak punya pesaing, atau penyeimbang yang mengusik kenyamanan mereka di kursi-kursi empuk, entah di Senayan, di istana Merdeka, di kantor-kantor kementerian, dst.

Kita 'sepertinya' beruntung akan memiliki presiden-wapres Jokowi Jusuf Kalla yang (minimal selama kampanye bertekad mengubah wajah Indonesia) akian memimpin Indonesia dengan tidak berkehendak menguasai Indonesia, melainkan akan memimpin Indonesia dengan melayani rakyat.

Lantas, apakah Indonesia akan lebih baik di tangan mereka? Saya, Anda, kita tidak tahu. Sebagai rakyat Indonesia kita hanya bisa berdoa dan berharap agar negara ini punya pemimpin-pelayan dan bukan pemimpin-penguasa.

Seperti kata Ahok (Basuki Tjahaja Purnama), "Anak buah akan mengikuti atasannya"... dan kalau atasan/pemimpin tertinggi sudah melayani, apakah ada ruang bagi bawahan untuk menguasai rakyat yang dipimpinnya?


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter