Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Bona Do Hita, Hita Do Bona

"Ai on do salon bupatitta i, apara?" tanya Pak Silalahi ke saya sesaat setelah ia menyalami Bona Petrus Purba. Pak Silalahi seakan tak percaya bahwa ada calon bupati dengan penampilan sesederhana Bona.

Jangankan calon bupati, calon anggota legislatif sekalipun tak pernah dilihatnya berpenampilan sesederhana ini jika diundang hadir pada suatu acara, termasuk acara gereja sekalipun.

Ini yang membuat Pak Silalahi ingin mempertegas dengan menanyakan ke koordinator Sahabat Bona, Lusius Sinurat yang ada di sampingnya, "Benarkah ini calon bupati yang Anda sampaikan sebelumnya?"

"Bah ido, apara. Bah on ma ibana. Bereng apara ma songon dia ibana. Songoni di son, songon i muse do sehari-hari amanta i," jawab Lusius spontan tanpa bermaksud melebih-lebihkan fakta yang ada mengenai sosok Bona Petrus Purba.

Kemarin pagi (7/1), ditemani Lusius dan Barita Esman Dabukke yang asli kelahiran Gunung Purba, Bona mengadakan kunjungan atau blusukan atas undangan Panitia Natal Punguan Ina Katolik (PIK) atau komunitas kaum ibu Katolik yang berasal dari 11 stasi (Gereja) yang ada di Rayon Sibuntuon.


Sejak memutuskan cuti 3 bulan dari jabatan Ketua BPKP Papua pada medio Desember lalu, Bona memang semakin fokus untuk mewujudkan impiannya, tepatnya impian mayoritas masyarakat Simalungun, yakni menjadikan Simalungun menjadi kabupaten percontohan dengan spirit "nasionalis sejati: birokrasi bersih, petani dan buruh sejahtera dan pedagang nyaman". 

Langkah awal yang ditempuh oleh Bona adalah turun lapangan. Salah satu cara paling afdol, ya turun langsung ke tengah masyarakat Simalungun.

Demi tujuan itu, Bona tak sungkan bertanya kepada siapa saja tentang kondisi masyarakat yang akan dikunjunginya. Ia juga tak pernah memilih ke nagori mana ia akan dibawa oleh timnya. Ia begitu percaya kepada timnya, sebagaimana ia juga percaya pada rakyat Simalungun.

Tak heran bila selama blusukan hari ini, ia tak tampil sungkan. Tak ada mimik kaku, mulai dari awal perjalanan dari Posko Sahabat Bona di Sondi Raya hingga ia dan timnya tiba di lokasi, tepatnya di nagori atau desa Simpang Gunung Purba, kecamatan Dolok Pardamean, kabupaten Simalungun.

Dengan santai dan hangat ia menyalami bapak-bapak "parhobas" (petugas, pelayan) yang baru saja menuntaskan kewajiban mereka memasak daging sebagai lauk pesta.

"Purba... marga Purba do au," katanya sambil menyapa satu per satu kaum bapak yang berdiri tak jauh dari gereja tempat ibu-ibu Katolik dari 11 stasi sedang merayakan Natal. Demikian juga setiap orang yang disalam menyebut marga masing-masing agar tahu harus menyapa dengan sebutan apa.

Bagi orang non Batak ini mungkin tampak ganjil. Tetapi begitulah kebiasaan arkhaik di lingkungan masyarakat Batak, "jolo sinungkun marga asa binoto partuturan!" Ya, setiap orang harus menyebut marganya agar tak salah memposisikan dirinya saat bertutur ataupun berlaku di hadapan orang yan baru dikenalnya.

Begitu pula yang terjadi di depan Gereja Katolik St, Timotius Gunung Purba Paroki Jalan Bali Pematangsiantar tadi pagi. Keakraban itu bermula, mengalir dinamis, dan bermuara pada tegur sapa yang lebih jujur dan terbuka.

Sembari menunggu Perayaan Ekaristi Natal PIK selesai Bona dan tim mengadakan pertemuan informal dengan beberapa calon Sahabat Bona yang ada di kecamatan Dolok Pardamean ini. Kami bertemu di rumah Pak Dabukke, tak jauh dari gereja, tempat berlangsungnya pesta natal tadi.

Di rumah pak Dabukke, salah satu umat GKPS (Gereja Kristen Protestan Simalungun) kami dijamu makan siang.
Sebuah sambutan yang luarbiasa! Dalam suasana kekeluargaan inilah kami berbincang tentang prospek perubahan di Simalungun dalam konteks memperkenalkan bakal calon bupati Simalungun periode 2015-2020, Bona Petrus Purba, Ak. MM., CFE, CA.

Sungguh mengesankan. Paling tidak ini yang dikatakan langsung oleh Bona kepada penulis tak lama setelah pertemuan usai. Tentu saja yang paling mengesankan bagi Bona adalah sambutan hangat dan antusiasme dari masyarat di Gunung Purba menyambut kedatangannya.

Beginilah start awal yang dialami Bona Petrus Purba saat beliau memperkenalkan diri secara langsung kepada masyarakat. Ia begitu terbuka, bahkan tanpa basa-basi beliau mengatakan, "Inilah saya, seperti yang Anda lihat!"

Bona Petrus Purba memang tak sedang meyakinkan rakyat untuk memilihnya kelak. Ia hanya menampilkan diri apa adanya, dengan berbagai kekurangan dan terutama segala daya upaya yang bisa beliau lakukan untuk masyarakat Simalungun bila masyarakat memberinya kesempatan untuk memimpin kabupaten Simalungun periode 2015-2020 yang akan datang.

Gayung bersambut. Tak lama setelah didaulat untuk memperkenalkan diri di tengah umat yang memadati Gereja St. Matias Gunung Purba, Pak Bona Petrus Purba pun "DIULOSI" sebagai tanda pemberian berkat dan menyimbolkan dukungan yang tulus dari masyarakat Gunung Purba kepada Bona Petrus Purba.

"Dipaborhat hami ma hamu, amang marhite-hite pasahathon ulos on. Anggiat ma sai las daging dohot tondimuna!", begitu kira-kira yang disampaikan oleh tokoh umat saat menyematkan ulos kepada Bona Petrus Purba. [LS]
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter