Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Mulak Pasombu Sihol

SATOKIN do au di huta, alai sombu sihol. Artinya, saya cuma pulang sebentar, tetapi rasa rindu sudah cukup terpuaskan. 

Nah bicara tentang "mulak" (pulang, mudik), para perantau asal Sumatera Utara, yang kerap disebut orang Medan memiliki keunikan tersendiri. Ini kisahku....

Teman dekatku di Semarang pernah bertanya, "mengapa orang sumatera, khususnya dari Medan (dalam cakupan wilayah Sumatera Utara) 'kuat' merantau dan tahan enggak pulang hingga bertahun-tahun?"

Aku jawab dengan singkat, "Itu karena orang Medan memandang tindakan merantau atau berpindah dari tempat tinggal yang satu ke tempat tinggal yang lain sebagai sebuah perjuangan, bahkan peperangan.

1) Merantau sebagai Strategi memangnkan peperangan.

Namanya perang, ya cuma dua endingnya: kalah atau menang.

Begitu juga orang Sumatera Utara yang merantau, entah tugas studi atau karena memang bekerja di tempat lain, di pulau lain maupun di negeri asing sekalipun, hampir selalu memandang bahwa keberaniannya untuk merantau adalah tindakan heroik.

Istilah 'heroik' di sini mengandaikan adanya hasil (output, outcome) sebagaimana dipesankan/didoakan saat ia pertama kali keluar dari rumah orangtuanya.

Dibawah sadar para perantua, tentu setelah merenungkan pesan kedua orangtuanyna, mereka baru boleh pulang setelah mereka berhasil sebagai pahlawan.

Pendeknya ia harus berhasil. Misalnya, sebagai mahasiswa S1 ia lulus hanya 3,5 tahun dengan IPK 3,99 pula; juga ketika seorang muda berhasil menjadi seorang pengusaha ditambah lagi ia telah memiliki kekasih hati yang siap ia jadikan sebagai calon pendamping hidupnya, apalagi ciri-ciri sang kekasih itu sesuai dengan idaman ibu dan ayahnya.

2) Merantau itu melatih Diri.

Dalam kalimat yang sederhana bisa dijelaskan begini. Kalau seorang pemuda atau pemudi sumut, khususnya orang Batak, tindakan kerap diamini sebagai latihan hidup mandiri.

Bagaimana tidak, si Rapika yang baju sekolah sudah biasa disetrikakan oleh ibunya, kini ia harus menyetrika sendiri, itu pun kalau ia ingin tampil apik dan rapih.

Demikian juga dengan si Parulian yang biasa asal main lempar tas sekoalhnya saat tiba di rumah dan nanti pasti dibereskan oleh itonya yang baik hati, kini ia harus berhati-hati melempar tas kuliahnya karena besok ia sendiri yang kelabakan mencari barang yang terhampar di lantai kosnya.

Dua contoh sederhana ini juga berlaku bagi siapa saja yang merantau dan kos/tinggal jauh dari orangtuanya.

Tak heran bila orang yang tingggal dan menetap di daerah yang ditinggal sang perantau, selalu menganggap bahwa "hanya mereka yang sukses yang akan pulang kampung saat liburan, entah natal, entah tahun baru, entah lebaran, dst."

Maka jangan heran bila saat si perantau melintas sebuah lapo tuak, orang-orang yang nangkring di sana akan menyapa, "Boha kabar dongan? Tombus do na mangaranto i?" (bagaimana kabar kawan? Puas enggak merantaunya?")

Mungkin saja alasan-alasan heorik dan tindakan melatih diri yang membuat orang sumater utara khusunya orang Batak tak sembarang pulang saat liburan. Pilihanya pun cuma dua: pulang tanpa kesuksesan atau pulang dengan keberhasilan?

Setelah itu deh baru boleh pulang....
Carpe Diem!
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter