Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Coklat, Rasa Yang Merangkum Setiap Rasa

"SEMUA jenis Coklat sudah habis!" jawab seorang SPG di sebuah mini market di kota kecil ini saat aku bertanya tentang sebuah rak kosong yang biasa dipenuhi coklat dari berbagai jenis.

Sebut saja nama SPG yang kusapa itu itu Tiur. Tiur spontan menjawab,
"Maaf bang, semua coklat sudah habis terjual. Dari kemarin banyak orang, terutamSatu pun gak tersisa lagi," jawab Tiur singkat.


*****

Seiring waktu berjalan, pasar (market) memang telah berhasil meingindoktrinasi kita. Jenis makanan bernama COKLAT dan kaitannya dengan Valentine Day adalah salah satu contohnya.

Entah oleh siapa, nyatanya coklat selalu digadang-gadang sebagai simbol yang harus tampil saat Hari Kasih Sayang versi masyarakat Eropa dan Amerika itu. Pertanyaan yang mungkin terlintas di benak kita adalah alasan dibalik sentralnya coklat pada Hari Valentine (14 Februari).

Saya teringat sebuah film menarik yang pernah aku tonton semasa kuliah Filsafat sepuluh tahun lalu. Judulnya, "Chocolate". Film ini bertutur tentang seorang wanita Gipsi dan putrinya yang membuka toko cokelat di sebuah desa kecil di Perancis. Yang membuat filim yang diangkat dari dongeng ini menarik adalah keberadaan toko Coklat tersebut akhirnya menjadi perbincangan masyarakat karena 'berani' mengguncang praktik agama dan moralitas yang kaku di tengah masyarakat saat itu. 

Ibu dan anaknya, lewat coklat dengan berbagai rasa  yang mereka jual akhirnya dipandang masyarakat saat itu sebagai gerbang perubahan. Bagaimana tidak, coklat dengan berbagai rasa, one taste all it takes itu akhrinya dipandang sebagai representasi dari penganut pemikiran bebas dan masyarakat konsumtif saat itu. Hingga, coklat pun dipandang sebagai 'alat' perubahan sosial.

Begitulah film yang dibintangi oleh John Depp, Juliette  Binoche, Judi Dench, Alfred Molina dan Lena Olin dan diproduksi pada tahun 2000 ini tak sekedar bicara tentang coklat, melainkan juga tentang kehidupan sosial. 

*****

Faktanya, banyak dari kita menggandrungi coklat, entah dengan rasa yang berbeda. Anehnya kita tak pernah bisa menjelaskan mengapa kita menyukai coklat. Hal ini berlaku juga untuk jenis makanan lain atau kegemaran lain.  Biasanya kita hanya mengingat-ngingat awal kita menyukainya.... bahkan tak jarang seseorang hanya menjawab, "Iya ya.. aku juga lupa mengapa aku suka dengan coklat!"

Kenyataannya kita kerap menyukai sesuatu hingga rasa suka itu melekat di alam bawah sadar kita, tak lain karena kita telah diindoktrinasi oleh pasar. Entah karena iklan animatif produk tertentu yang begitu unik dan menarik, entah karena gambar lucu yang dipamerkan di bilboard dari produk tersebut, atau karena setelahnya kita merasa produk itu mewakili kepribadian kita.

Tentu saja ini bukan semata-mata terkait gengsi atau harga yang harus kita bayar untuk produk kesukaan kita. Jauh lebih mendalam dari sekedar kedua hal tersebut. Aku sendiri misalnya, selalu menyukai kopi jenis tertentu dan entah mengapa aku selalu merasa kalau belum minum kopi itu hidup terasa kurang hidup. Hingga teman-teman akrabku hampir selalu mengeluarkan statement menarik bila saya rada kurang bersemangat, "Mesti abang belum ngopi!"
*****

Pasar memang jagonya mencuri perhatian kita. Tentu para produsen makanan atau barang tertentu selalu melakukan survey terlebih dahulu sebelum memproduksi sesuatu. Hingga akhirnya, kebiasaan masyarakat mereka amati dan dari kebiasaan itu mereka menciptakan sebuah produk.

Iklan produk baru itu akhirnya bukan saja memengaruhi tetapi juga lama kelamaan menginindoktrinasi bawah sadar kita, hingga sampai pada tingkat "identifikasi diri". Tidak mengherankan bila seseorang akhrinya secara tidak sadar mulai mengidentifikasi dirinya dengan sesuatu yang kita sukai; atau mengidentifikasi peristiwa tertentu dengan produk tertentu pula. Misalnya, "Lebaran identik dengan Ketupat", "Natal identik dengan Pohon Natal", "Imlek identik dengan Angpaw", dst.

Dalam bahasa Latin ini kebiasaan (custom) ini disebut habitus. Tentu saja, sebuah habitus itu baik adanya, ia menyehatkan dan memberi kenyamanan. Mengapa tidak? Dari sebuah habitus kita bisa mengidentifikasi diri: kebiasaan mendengarkan jazz bisa menjadikan seseorang menjadi artis penyanyi jazz atau bila habitus yang anda lakukan sejak kecil adalah mendengarkan musik dangdut, maka kelak Anda bisa menjadi artis penyanyi dangdut.

Menyukai sesuatu atau tindakan tertenu biasanya berasal dari habitus dari masa lalu. Seperti seorang sahabat yang punya motto "lebih baik tidak mandi kalau sabun cair merek X tidak ada" atau "Lebih baik tidak keramas bila tidak menggunakan shampoo Y". Untung saja ia tidak mengatakan, "Lebih baik tidak menggunakan celana kalau  bukan celana merek X atau mending gak pake celana kalau mengenakan celana panjang diluar merek Z". 

Sebuah habitus bisa berkembang ke arah fanatisme. Ini bila kita tidak hati-hati. Contohnya, ketika coklat pada awalnya hanyalah sebuah jenis makanan yang mulai disukai masyarakat Eropa dan Amerika, maka kini coklat sekan-akan wajib ada saat Valentine Day.  Hingga akhirnya banyak orang mengatakan bahwa Valentine Day tak ada artinya bila coklat tidak dihadirkan.

*****

Kendati sangat disayangkan ketika sesoerang begitu fanatik dengan sesuatu (barang/makanan) atau tindakan tertentu tetapi tidak fanatik dengan orang-orang yang kita cintai. Bukankah seorang suami misalnya justru harus fanatik dengan istri sebagai teman hidupnya?

Pada era ini malah aneh. Banyak orang justru hidup secara parsial dan pragmatis. Istri atau suami dipandang sebagai satu hal.... dan selingkuhan adalah hal lain. Ada juga habitus yang lebih aneh, yakni mereka yang bosan dengan istri/suami, tetapi tetap setia pada rasa coklat yang sama setiap hari Valentin setiap tahun.

Berbeda dengan kelekatan coklat dengan Valentine Day, kelekatakan kita pada keluarga atau kelekatan kita dengan atau orang yang kita cintai seringkali mengalahkan kelekatan kita pada jenis coklat tertentu pada Valentine Day.

Hidup memang berwarna, tetapi kita kerap meninggikan warna tertentu sembari mengesampingkan warna yang. Kita kerap kehilangan orang penting hanya karena kita terlalu konsisten dengan sesuatu yang parsial dalam hidup kita; dan dalam konteks Valentine Day, kita bisa setia memakan Coklat dengan rasa dan bentuk yang sama, tetapi kita berganti pasangan setiap tahunnya.

Happy Valentine Day, para sahabat.
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter