Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Dunia Maya: Pasar vs Makar?

Illustrasi: TUMBLR.com
Sadar atau tidak, media sosial (dunia maya/dumay), terutama fesbuk dan twitter telah dimaksimalkan sebagai media untuk mencari pengikut atau melindungi pengikut lewat ajakan dan larangan.

Larangan dengan kata "Jangan", "Dilarang", "Diharamkan" adalah kata-kata yang paling sering digunakan. Semantara kata "Sebaiknya", "Alangkah baiknya jika" paling sedikit digunakan.

Rupanya orang Indonesia mencintai larangan dan sangat hobbi melarang, bahkan tanpa alasan yang kadang diluar logika manusia normal.

Sadar atau tidak, larangan demi larangan yang dipublikasikan itu nyaris sejajar dengan foto-foto porno atau gambar-gambar sadis semisal foto korban pemenggalan ISIS.

Persamaannya satu: menjual sisi ketidakmanusiawian untuk mendatangkan sejumlah orang yang akan meng-klik tanda "SUKA", "KOMENTARI" atau "BAGIKAN".

Bukankah internet hari-hari ini adalah salah satu 'lapak' terlaris untuk jualan? Dan salah satu cara termutakhir menjual sesuatu adalah dengan menyebarkan berita kebohongan, fitnah, pornografi, pembunuhan dan semua bentuk kekerasan verbal yang banal!

Inilah cara berdagang terbaik abad ini yang kita praktikkan lewat internet, terutama media sosial, yakni sulitnya mewartakan SISI BAIK/POSTIF orang lain. Sebab, banyak dari kita hanya menjadi PENGIKUT dari para penganut kejahatan lewat tindakan:
  1. MENYUKAI apa yang sesungguhnya tidak Anda sukai,
  2. MENGOMENTARI sesuatu yang tak membutuhkan komentar, atau 
  3. MEMBAGIKAN berita/status/postingan negatif tentang orang atau kelompok lain yang diberitakan di website/blog seseorang atau di kronologi/group/fanpage yang tersedia di Facebook, atau di kicauan seseorang di Twitter seseorang sementara Anda tak pernah MEMBACANYA SECARA LENGKAP!
Padahal, 
  1. Tak seorang pun akan menjadi seorang penulis sementara ia benci membaca sesuatu secara teliti! Padahal, 
  2. Tak mungkin Anda menyematkan tanda "LIKE" atau "SUKA" pada postingan yang berwajah kejahatan!
  3. Tak mungkin Anda menjadi seorang KOMENTATOR handal bila Anda tanpa pernah mendengarkan dengan baik! 
  4. Tak mungkin Anda menjadi seorang yang doyan MEMBAGIKAN kepada orang lain sebuah berita/postingan sementara Anda sendiri tak meyakini kebenarannya.
Lantas mengapa banyak orang menyukai tindakan di atas? Karena mereka sedang MENJUAL sesuatu... dan akhirnya ia hanya berharap KEUNTUNGAN akan segera berpihak padanya. 

Kendati demikina, banyak juga orang yang menjual KEBAIKAN di media sosial hingga berhasil DICINTAI oleh para pembaca atau pengikutnya di dunia maya! Harusnya ini yang kita tiru !?! 


Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter