iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

Parhata dan Parsipsip

Parhata dan Parsipsip
Ilustrasi: Raja Parhata (protokol) dalam berbagai acara adat Batak Toba
DI berbagai acara, terutama acara adat... khususnya lagi upacara paerkawinan adat, saya sering menyaksikan berbagai sambutan, mulai dari ucapan terimakasih, nasihat, kesan, atau pesan. 

Ini salah satunya,

"Parjolo sahali au mandok maulite tu punguan on, tarlumobi ma i di amang dohot inang na maringanan i bagas on.....dst....dst..... " (Pertama-tama saya ucapkan terimakasih kepada Anda semua yang hadir dalam pertemuan ini, terutama kepada bapa dan ibu di rumah ini.)

Dan setelah memberi sambutan nyaris 30 menit, biasanya ia akan mengakhiri kata sambutannya dengan kalimat berikut. Tapi ingat, itu setelah orang mulai bosan mendengarnya....

"Dang pola godang sidohonin nami. Holan hata mauliate jala ibagas tangiang nami ma hamu, asa tongtong dilean hasehaton di hamu. Songon i ma jo hata sian hami ate, amang dohot hamu inang. (Sungguh tak banyak yang bisa kami sampaikan, kecuali kata terimakasih dan doa agar Tuhan menganugerahkan kesehatan kepada kalian).

Atau, ketika orang lain tak lagi memberi perhatian, maka ia dengan cekatan menutup 'pidato'-nya dengan kalimat nakal dan lucu ini....

"Kebetulan parsip-sip do au. Dang pola godang hata huboto." (Kebetulan saya ini pendiam dan saya tidak pintar berpidato).

*****
Masyarakat Batak secara umum sangat cerdas memainkan diksi. Di pesta-pesta adat, juga dalam relasi antar orang Batak sendiri, memberi kata sambutan (mandok hata) seakan sudah menjadi kewajiban.

Tak dapat dipungkiri bahwa masyarakat Batak sangat tangkas berbicara. Ini sudah terlatih sejak kecil, tepatnya saat acara "Martaon Baru" (tradisi Tahun Baru, malam pergantian tahun) di mana setiap anak menyampaikan hasil permenungannya selama setahun, terutama kekurangan/salah atau hal-hal yang dianggapnya sebagai dosa kepada orangtua dan saudara-saudarinya yang lain.

Menariknya, semua refleksinya itu selalu dirangkum dengan kalimat genit tetapi bernats... kira-kira begini kalimatnya,

".... sai anggiat ma isalpuhon hamu suda hahurangan na hubaen ibagas sataon on, songon parsalpu ni taon na salpu tu taon na baru on." (Semoga kesalahan yang telah saya perbuat sepanjang tahun ini bisa kalian lupakan sama seperti pergantian tahun yang telah lalu menuju tahun yang baru ini.

*****
Untaian contoh di atas seakan menegaskan anggapan umum bahwa orang Batak itu pintar bicara, jago ngomong.

Di satu sisi ada benarnya, yakni bahwa kemampuan verbal orang Batak dalam hal berbicara (mandok hata, menyampaikan isi pikirannya) memang lahir dari tradisi di atas, ditambah lagi kebiasaan "mandok hata" di pesta-pesta, terutama pesta perkawinan.

Namun, sangat disayangkan, ketika kemampuan berbicara itu seringkali tak diimbangi oleh kemampuan mencatat atau menulis apa yang (akan) mereka katakan. Semua ketangkasan ber-bahasa lisan itu sering tak mampu dituangkan dalam bentuk tulisan. 

Ini berarti bahwa tradisi mandok hata hanya diteruskan dari mulut ke mulut, dari yang tua kepada yang muda, dari oppung (kakek/nenek) kepada anak dohot boruna (putra-puterinya) atau dari oppung kepada pahompuna (cucunya).

Padahal, namanya bahasa lisan selalu memiliki kelemahan. Logikanya, pesan yang ingin saya sampaikan kepada khalayak ramai melalui Anda tak mungkin 100% akan sama. Kalau tak percaya, silahkan kumpulkan 100 orang dan minta untuk berbaris. Kepada orang yang paling depan, sampaikan 3 kalimat pendek saja. Silahkan cek 'nasib' pesan ketiga kalimat pendek tadi pada orang yang berdiri di barisan terakhir (orang ke-100). Pasti tak akan sama persis!

Tentu saja ada pergolakan ditengah masyarakat Batak menyangkut perbedaan antara tradisi di satu daerah akan berbeda dengan daerah lain. Padahal, mereka berasalah dari daerah yang sama sebelumnya. 

*****
Di sini kelemahan pesan lisan. Di sini jugalah kelemahan orang Batak. Syukurlah, dari kelemahan itulah orang-orang Batak, terutama kaum intelektual muda sudah mulai berminta mendokumentasikan tradisi "mandok hata" di atas. 

Kesadaran ini akhirnya muncul ketika halak batak na adong di parserahan (masyarakat Batak yang tinggal di perantauan atau luar Sumut) tak lagi menjalankan tradisi "mandok hata" di atas. Entah karena kesibukan, entah karena keterbatasan waktu dan kesempatan.

Semoga saja semakin banyak masyarakat Indonesia yang berhasrat untuk mendokumentasikan khazanah kekayaan budayanya, terutama orang-orang Batak yang memiliki kebiasan "mandok hata" atau "marhatai" (memberi sambutan atau ngobrol sesama orang Batak) atau "marende" di lapo (bernyanyi di warung-warung).

Hanya ini satu-satunya untuk melestarikan kekaayaan kultur tersebut, yakni mendokumentasikannya dalam sebuah buku, tulisan lepas/opini, atau produk-produk digital lainnya.

Bisa jadi, di sinilah tempatnya parsip-sip (pendiam), yakni menuliskan apa yang dikatakan si boto hata (orang yang pinter ngomong). Pendeknya ia harus mampu mengubah "si raja parhata" (sang protokoler, MC) menjadi "si panurat" (penulis). Semoga.


Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.