Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

RO, si Raja Olah

Awalnya saya bingung dengan istilah ini. Semua orang mewanti-wanti saya agar hati-hati dengan istilah yang dirangkai dengan 2 huruf kapital ini.

"RO", begitu istilah itu semakin hari semakin akrab di telinga. Dari bulan November hingga Desember 2014 silam saya sengaja enggak bertanya kepada orang-orang yang mewanti-wanti saya agar tidak 'kena' dengan RO-RO di Kabupaten Simalungun ini.

Tak lama berselang, setelah Natal usai saya memberanikan diri bertanya kepada teman-teman dekat di Sondi Raya ini. Dan saat mereka mengatakan bahwa RO itu akronim dari "Raja Olah".

"Apaan tuh Raja Olah itu?" tanyaku penasaran.

"RO itu ya pemain ulung di politik. Mereka itu loba bacot alias "si bahat hata" (banyak omong, banyak cakap) dan minim tindakan. Orang-orang RO biasanya selalu berusaha meyakinkan si (calon) empunya kekuasaan bahwa merekalah yang paling tahu seluk-beluk perpolitikan di daerahnya.

Untuk meyakinkan pendengarnya, mereka dengan sangat percaya diri selalu mengatakan bahwa mereka adalah mantan TS dari si X saat maju menjadi DPR, TS si Y saat menjadi walikota, dan TS si Z saat menjadi bupati.

Tak selaras dengan kesombongannya, orang-orang RO ini sering mengatakan, 'Bukan cakap sombong bro, tapi aku lah yang memenangkan si X, si Y dan si Z saat mereka masih menjadi calon anggota legislatif, calon wali kota dan calon bupati.'

Begitulah si RO selalu pintar berhitung, kendati mereka sangat jarang menguasa data statistik atau pemetaan politik dalam angka-angka riil. Bagi RO tak ada kata "tidak tahu". Semua akan dibabat habis, kendati memang mereka sungguh tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Tentang apa saja.


Baginya, cara terbaik untuk menjual diri mereka justru saat menjual omongan 'sok tahunya' itu. Ya, si RO memang mengimani bahwa selalu ada jalan pintas untuk meraup keuntungan."

*****

Mengacu pada penjelasan teman di atas, istilah Raja Olah alias RO ini menunjuk para politisi kacangan yang taunya hanya memainkan 'rasa sok tau'nya demi menghalalkan segala cara agar keuntungan (material) berpihak padanya.

Pantasan saja teman-teman di kota ini selalu mewanti-wanti kami dengan mengatakan satu ciri menonjol dari seorang RO, yakni selalu mengatakan bahwa ia tau benar cara memenangkan seorang calon asal dia beri modal dan selalu memastikan seluruh tugas dan tanggungjawabnya akan beres.

Pendek kata, seorang RO selalu sok tahu cara memenangkan seorang calon bupati menjadi bupati, balon gubernur menjadi gubernur, balon DPRD menjadi DPRD  padahal ia sendiri tak pernah menang saat mencalonkan diri. 

Akhirnya, RO itu tak lain adalah makelar politik. Mereka ini adalah orang-orang yang berjingkrak-jingkrak di atas penderitaan rakyatnya. Bagi para RO sendiri "kebenaran" tak datang dari luar, melainkan dari dalam diri mereka, hasil karya cipta mereka. 

Di titik inilah  RO bisa disingkat menjadi Rada Oon!  Setuju?
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter