Ad Unit (Iklan) BIG

Tak Ada Sahabat di Politik

Posting Komentar
"Tak ada sahabat sejati dalam politik. Serius!" kata Sahattua kepada Sampetua.

Sampetua penasaran. Ia tak bisa menahan dorongan pikirannya untuk bertanya, "Kalau begitu mengapa antar beberapa politisi suka putus-nyambung dalam pertemanan mereka? Bukankah itu sama saja seperti pacaran atau relasi pertemanan di dunia nyata?"


"Eh kawan, kalau saja kau amati dengan sungguh-sungguh apa yang terjadi antar-politisi, kau akan tahu betapa mereka tak pernah sungguh berteman", tambah Sahattua meyakinkan Sampetua.

"Aah.. aha naso dokhon on mu (ah, apa yang enggak kamu bilang). Enggak kau lihat rupanya pertemanan antara Ahok dan Jokowi? Mereka kompak aja tuh," sanggah Sampetua.

Sahattua menjelaskan, "Lae..lae... beda itu. Itu kasus ganjil. Kedua pemimpin kita itu orang unik dan memang dicintai masyarakat pada umumnya. Kalau mau lihat contohnya.. ada Sukarno vs Soeharto; Megawati vs SBY; Wiranto vs Prabowo, dst. " Sudah jelas mereka ini politisi-politisi di tingkat elit. Mereka terbiasa duduk bersama.

Tetapi ketika menyangkut kepentingan diri yang berbeda-beda, masing-masing dari mereka mulai saling curiga dan terjadi permusuhan. Pertemanan antar mereka akan terjalin lagi hanya pada saat kedua belah pihak memiliki kepentingan yang sama.

Jadi, politik adalah kepentingan dan kepentingan adalah politik. Politik tak berjalan lancar di luar kepentingan; hingga politisi akrab dengan istilah "untuk kepentingan rakyat banyak".
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter