Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Murah Letor

Murah Letor
Pertambahan usia tak dapat dihentikan. Begitu juga perlambatan daya tahan tubuh tak terhindarkan.

"Usia manusia hanya 70 tahun dan 80 tahun jika kuat", kata Pemazmur.

Hidup maanusia bermula keterbatasan dalam ruang bernama rahim. Hidup manusia bergerak dalam keterbatasan dan bersama waktu hidup itu akan sirna oleh keterbatasan pula.

Dalam keterbatasan itulah, sebagaimana dituturkan penulis Amsal, hidup berjalan dalam detak waktu, "segala sesuatu ada waktunya".

Sang waktu perlahan tapi pasti menjilati tubuh yang terbatas hingga hidup berada di ujung alias di perbatasan "kehidupan menuju kematian".

Hidup memang terbentang dalam keterbatasan dan bertumbuh dalam ketidakbebasan di sebuah ruang yang dinamai dunia. Begitu lahir, secara otomatis kita tercabut dari akar kenyamanan selama 9 bulan di rahim seorang ibu menuju penjara ketidakbebasan di dunia.

Sang hidup baru yang kita sebut bayi itu pun berontak dengan hak "kebebasan" yang diberikan padanya. Kita berontak lewat tangisan pertama, sebagai reaksi atas terputusnya keamanan dan kenyamanan hidupnya di kandungan.

Hidup adalah keterbatasan; dan dalam keterbatasan itu termaktub kekuatan dan kelemahan kita. Oleh karena waktu sangatlah terbatas, maka kita harus meramu hidup dalam ketebatasan itu, secara kreatif, inovatif dan tak menyia-nyiakan segala kesempatan di depan mata.

Di sisi lain, "menunda-nunda waktu" berarti membiarkan diri kita kehilangan waktu; dan itu merupakan cara kita mempertontonkan ketidakberdayaan kita.

Semestinya, bersama lajunya waktu, kita harus melangkah mewujudkan 'surga' di dunia, minimal versi kita masing-masing. Jangan terlalu santai, sebab waktu tak bisa berhenti.

Aku teringan nasihat seorang inang parjuma-juma (seorang ibu yang berprofesi petani), "Kalau kita melangkah terlalu santai maka bisa saja kita enggak mendapatkan apa pun."

Si inang itu hendak mengatakan, terutama kepada kawula muda agar mengisi dan memaknai waktu yang mereka miliki dengan efektif, dan tak boleh terlalu santai, apalagi malah berdiam diri.

Bagi si ibu yang belakang aku tahu boru Purba, bekerja adalah hakikat hidup sebab menurutnya cara terbaik mengungkapkan hidup adalah bekerja. 

Ini sesuai dengan pengalaman inang boru Purba yang sudah terbiasa memaksimalkan waktu yang disediakan baginya oleh Sang Pemilik Waktu lewat kerja dan berbuat baik bagi yang lain.

Intinya dari nasihat di atas ialah bahwa kita harus mengubah filosofi "hidup itu hanya numpang lewat" menjadi "hidup adalah waktu dan waktu adalah hidup".

Oleh karena itu, ketika tubuh Anda masih muda dengan energi masih berapi-api silahkan memaksimalkan waktu dengan bekerja keras. Sehingga ketika usia Anda bertumbuh dan mulai tua, tubuh makin melemah dan tenaga makin loyo, Anda akan menyesal dan mulai meratapi 'peride kemalasan' Anda di masa lalu.

Bila ini yang terjadi maka jangan heran bila tubuh Anda akan cepat layu dan kuyu; atau dalam bahasa Simalungun, tubuh akan "murah letor" alias gampang lunglai.


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter