Ad Unit (Iklan) BIG

Uang Itu Ibarat Kumis

Posting Komentar
Uang Itu Ibarat Kumis
"SONGON gumis do duit on: tumbuh, isukur, roh use." Ungkapan dalam bahasa Simalungun ini artinya "Uang itu seperti kumis: bertambah terus berkurang, bertambah terus berkurang, dst."

Tak dapat dipungkiri bahwa hari-hari ini uang disembah bak "tuhan". Uang itu terkadang menjauhi dan terkadang mendekati kita.


Terlahir oleh Uang

Dari proses "pembuatan" anak, sembilan bulan dikandung ibu hingga kita dilahirkan uang selalu menempel, melekat bersama proses itu. Tak mengherankan bila hari-hari ini uang nyaris identik dengan hidup: uang adalah hidup dan hidup adalah uang. 

Secara berseloroh, Chyntria Anggreyni Sinaga​ menegaskan ulang apa yang juga langsung diamini oleh Dame Sinaga​, Hendry Sitopu​ dan Ewin Pemred Pena Rakyat​, "Uang takkan kita bawa mati, tetapi tanpa uang hidup rasanya sudah mati".

Ketika terlahir kita sudah masuk dalam penjara "uang". Inilah penderitaan pertama kita. Inilah pertamakali Anda merasakan ketidakbebasan dari pengaruh uang. 

Proses kelahiran masing-masing dari kita berbeda harganya: lahir di ladang, saat dalam perjalanan, rumah, klinik, puskesmas, RSUD, RSUP atau rumah sakit supermewah. 

Kita adalah Uang, Uang adalah kita

Kita terlahir bersama uang dan uang tak terlepas dari prosesi kelahiran kita. Kita seakan tak kuasa keluar dari hebatnya pengaruh uang dalam hidup kita. 

Ketika Anda menjauhi Tuhan yang pernah Anda imani sebagai sumber rejeki Anda, maka, baik agama, maka Anda bisa berdalih dengan statemen kuno yang mengatakan bahwa "Tuhan itu mahapengampun. Ia tak marah ditinggalkan, dan tanpa Dia pun aku masih bisa hidup."

Bisa jadi tanpa Tuhan namun punya banyak uang kita masih bisa hidup. Tetapi mengimani Tuhan tetapi tak memiliki uang maka kita bisa saja "merasa sudah mati" atau malah merasa tidak eksis lagi.

Sungguh, kita semua tahu bahwa uang tak bernyawa, tetapi tak jarang kita merasa kehilangan nyawa saat uang tidak ada.


Uang dan Kapitalisme

Begitulah kapitalisme menggerus tiap sendi kehidupan kita. Pasar dijadikan sebagai pusat pertemuan kendati dalam arti tempat ber-interaksi, dan bukan sebagai tempat ber-transaksi. Dalam transaksi itu uang selalu menjadi sentral.

Kapitalisme membuat uang melebihi raja, bahkan uang dikonversi sebagai 'nyawa' kehidupan manusia. Begitu pentingnya uang, sehingga "iman akan Tuhan" telah beralih menjadi "iman akan uang".

Uang Tetaplah Uang

Hanya saja, bagi mereka yang tak terkooptasi dan tergerus oleh pengaruh kapitalisme, uang tetaplah uang; dan uang bukan Tuhan. Memang ada banyak orang hendak membantu orang lain tetapi selalu menghadirkan syarat ini: 'kami tak bisa berbuat banyak tanpa uang'. 

Mengatasi "orang yang hendak membantu tetapi dengan umpan balik dalam bentuk sejumlah uang" jauh lebih mudah, sebab cukup menanggapi "ya dengan MoU" atau "tidak samasekali".

Aku termasuk orang beruntung bisa melihat orang-orang yang hendak membantu orang lain tanpa syarat uang, melainkan syarat 'asal komitmen'. Mengahadapi tipe ini justru sangat sulit dihadapi, sebab pilihannya hanya satu, yakni menjawab "ya" atau menerima. 

Tetapi jangan salah, menerima tawaran orang yang not money oriented ini tak sekedar menunjukkan rasa takjub kita pada mereka. 

Bekerjasama dengan tipe manusia ini justru menggiring kita untuk berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengecewakan mereka. Mengapa? Sebab, bagi segelintir orang uang tak selalu mampu mengkonversi sendi-sendi kehidupan manusia. 

Bagi mereka, uang tetapi bernilai, tetapi bukan pertama-tama nilai yang melekat dalam bentuk digital pada kertas atau logam bernama uang, tetapi nilai yang dihadirkan oleh uang tersebut.

Bukankah uang juga bisa dijadikan sebagai jembatan cinta, jembatan persahabatan dan media kepedulian bagi mereka yang berkekurangan?


Uang versus Hidup

Akhirnya, uang hanya akan bernilai bila ia tak menggantikan hidup. Sebab, nilai kehidupan kita tak bisa diukur hanya oleh uang yang kita miliki. Maka, uang hanya akan bernilai bila memperkaya nilai-nilai kehidupan, seperti dalam ranah kerjasama dengan orang lain, mempererat tali silaturahmi, dst.

Seperti kumis yang tumbuh lau dicukur dan tumbuh lagi, uang pun bisa kita dapatkan/kumpulkan, tetapi serentak ia juga akan habis. Kita mencari uang tak lain untuk kita habiskan, kendati dengan cara khas kita masing-masing.

Namun harus tetapi diingat bahwa nilai hidup kita tak pernah berkurang hanya karena kita tak punya uang banyak. 

Bila uang bisa habis dan kita cari lagi, maka hidup tak bisa habis. Hidup selalu berjalan dinamis ke depan, sesuai dengan alunan waktu. Bila uang kita hilang bisa kita dapatkan kembali, tetapi bila hidup kita sirna kita tak akan pernah mengembalikan hidup kita seperti semula. 


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter