iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

Mardandi

Sumber: tumblr
Ada dua kisah menarik tentang bahaya "merajuk" yang saya angkat dari pengalaman berhadapan dengan si perajuk di "Ruang Konseling Anak dan Keluarga" yang pernah saya hadapi

Pertama, saat sepasang suami-istri datang ke ruang konseling, hanya karena mereka tak tahan lagi saling diam satu sama lain selama seminggu.

Dalam sesi 'curhat' itu kedua-duanya sepakat mengatakan bahwa selama periode merajuk itu situasi yang mereka hadapi menjadi tidak nyaman. Ngobrol terasa tidak enak lagi, karena kebetulan keduanya tukang ngambeg alias "PARDANDI" dalam bahasa Batak Toba atau "PARGONI" dalam bahasa Batak Simalungun.

Bagaimana tidak, Satu sama lain dari mereka malah pusing sendiri saat mereka saling mengajak pasangannya yang kala itu hanya diam, mulut bungkam, bibir mengerucut, ditambah lagi selalu saling memunggungi saat tidur bersama.

Menurut pengakuan mereka berdua, situasi berada di ruang yang sama adalah penderitaan yang sangat menyakitkan. Dan itu yang menjadi alasan mereka datang ke ruang konseling di biro kami.


Kedua, saat seorang gadis curhat tentang tubuhnya di ruang konseling.

Gita, sebut saja namanya demikian . Tak seperti biasanya, semonggu terakhir ia tak selincah dan se-sumringah hari-hari kemarin. Ia makin sering mengernyitkan dahi dan mudah marah tanpa alasan yang jelas.
Gengges, sahabat dekatnya di kantor tahu perubahan sikap Gita. Tapi, sebagai pria yang lebih tua dari Gita, Gengges tak mau sesumbar menanyakan alasan mengapa sahabat yang dikenalnya lucu itu mengalami perubahan 'cover' dirinya.

Namun, setelah seminggu berturut-turut, Gengges tak tega melihat sahabat karibnya itu selalu cemberut, bahkan kerap menyalahkan dirinya sendiri. Yang paling hebat lagi, ia bahkan sering mencubiti pipinya saat ngaca di washtafel dekat kamar mandi kantor mereka.

Lambat laun, setelah memperhatikan lebih jauh, Gengges melihat suatu keanehan sikap Gita, yakni benci melihat teman-teman satu kantor saat mengajaknya makan siang.

Pendek kata, setiap Gengges dan teman-teman di kantor makan, bahkan hanya sekedar ngobrol soal makanan, Gita terliha mendadak diam dan ngedumel sendiri.

Dan tibalah saatnya, hari Jumat kemarin, Gengges tak kuasa menahan rasa penasarannya lagi. Ia lantas bertanya, 
"Kenapa sih belakangan ini loe cemberut terus? Gue bingung deh," tanya Gengges sambil menatap sahabatnya itu.

"Mau tau urusan orang aja!" pekik Gita dengan nada tinggi.
"Gini, Ta.. sebagai sahabat loe, gue tuh cuma pengen tahu mengapa loe berubah dua minggu terakhir ini," tanya Gengges penasaran.

Tiba-tiba saja Gita menggamit tangan Gengges dan mengajaknya ke depan cermin di washtafel ruang kerja mereka.
"Neh, loe liat. Loe liat sendiri deh tubuh gue bengkak kayak gajah gini. Loe tau enggak sih, I hate myself for being so fat. Gue kagak mau gemuk!" teriak Gita sambil nangis.

"Ya, ampun, Ta. Loe mpe diamin gue dan temen-temen kantor hanya gara-gara loe kelihatan gemuk doang? Harusnya loe bersyukur atas hidup loe. Di luar sana, bahkan juga kami temen-temen loe pengen banget terlihat gemuk. 

Loe lihat, gue dah kayak ranting berjalan aje. Tapi, apa gue pernah minder atau merajuk sama loe hanya gara-gara gue kurus?" Gengges mencoba meyakinkan Gita bahwa gemuk itu bukan kutuk, tapi juga berkat.

Akhirnya, setelah mendengar nasihat sobatnya itu, Gita bisa sedikit sumringah. Tapi Gengges sendiri pun gak tahu sampai kapan sobatnya bisa menikmati hidup, minimal menerima diri apa adanya.

* * * * *

Dalam bahasa Jawa, kata "ambeg" atau 'ambek" dalam bahasa Indonesia berart merajuk (v) atau mudah / lekas marah (adv). Anda masuk dalam tipe ini? Atau, teman Anda? Atau, orang-orang dekat di sekitar Anda?

Mengambek atau  "merajuk" (v) secara dominan disebabkan oleh 2 alasan, yakni alasan yang datang dari luar dirinya dan alasan yang datang dari dalam dirinya sendiri.

Contoh dari luar diri kita :
(1) "Anak itu merajuk karena ibunya tidak membelikannya boneka";
(2) "Nurhayati merajuk karena pacarnya tak jadi mengantarnya pulang sore tadi"
(3) "Bewinda, gadis tambun bermuka lucu itu ternyata suka merajuk, terutama saat teman-temannya tak meluluskan permintaanya"; .... dst.

Sementara contoh merajuk yang timbul dari diri sendiri, misalnya
(1) "Setelah berat badannya bertambah 5 kilo sepanjang 3 minggu terakhir, Gita jadi sering merajuk, bahkan tak jarang ia suka menyakiti dirinya sendiri dengan berolahraga berat."
(2) "Gadis Remaja itu tak henti-hentinya berdiam diri di kamarnya sesaat setelah pacarnya dengan bercanda menyebutnya gadis jelek dan cerewet."

Kalau orang Jawa menyebutnya mengambek, lain lagi dengan orang Batak Toba: MARDANDI. Terminologi mardandi [baca: mardaddi] atau dalam bahasa Indonesia menunjuk pada sebuah tindakan/sikap yang memperlihatkan ketidaksenangan pada sesuatu/seseorang, karena alasan yang sentimentil atau emosional.

Rasa tak senang itu biasanya ditunjukkan dengan mendiamkan (orang yang membuatnya merajuk), bahkan tidak mau bergaul lagi (dengan orang bersangkutan).

Di titik inilah kita kerap melihat si tukang ambek yang kerap "bersungut-sungut", "mengomel karena sesuatu hal atau sesuatu tindakan yang membuat seseorang merasa tergangggu".

Anehnya, orang yang suka merajuk kerap mendiamkan alasan dibalik sikapnya. Ia bahkan bisa menyimpannya rapat-rapat, hingga di-'muntah'-kan pada waktunya. Artinya alasan tersebut bisa ia simpan untuk jangka waktu tertentu dan hanya dia yang sungguh tahu alasan dibalik sikapnya.

Adapun tujuan seseorang yang suka merajuk adalah karena baginya cara itulah yang paling pas untuk mengungkapkan perasaan marah atau kebenciannya pada seseorang.

Lagi-lagi, biasanya ia akan menolak untuk membicarakan alasannya, sebab ia sedang berada dalam suasana hati yang buruk, marah dan memang hanya ingin diam.

Gejalanya pun mudah dikenali. Dia akan berusaha menghindari segala macam kontak dengan orang yang ia anggap tak memenuhi keinginannya. Tapi sebaliknya ia akan mempertontonkan keintiman dengan teman-temannya yang lain, yang bahkan tak seintim biasanya.

Begitulah cara si tukang ambek dalam mencuri perhatian dari orang yang didiamkannya. Itu biasanya ia lakukan hingga orang yang membuatnya mengambek akhirnya "menyerah" dan mengatakan dialah yang salah.

Akhrinya, kita tak pernah sungguh tahu apa yang menjadi penyebab seseorang mengambeg. Yang kita tahu hanya bisa menebak-nebak "apakah gerangan yang membuatnya begitu?"


Begitulah orang yang sua "merajuk"!

Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.