Ad Unit (Iklan) BIG

Cerdaslah Sobat

Posting Komentar
Cerdaslah Sobat
Ilustrasi: Lusius Sinurat's ArtDesign
Sekolah atau kuliah tak membuat otak kita menjadi renyah. Tinggal dan bergaul di kampus selama 3 hingga 6 tahun pun tak lantas membuat hidup kita jadi becus.

Sebab sering terjadi ketika sekolah dan kuliah justru menjadikan kita merasa lelah; atau ketika kampus justru membuat hidup kita sedang sekarat dan sebentar lagi akan mampus.

Pembukaan UUD 1945 menabalkan tujuan kemerdekaan, yani mencerdaskan bangsa, atau secara gamblang dilantunkan dalam lagu anak-anak sekolah dasar dulu, "Berantas kebodohan, p'rangi kemiskinan".

Pertanyaannya adalah siapa yang bodoh dan siapa yang miskin? Atau, apa itu kebodohan dan apa itu kemiskinan? Apakah dengan memberantas kebodohan kita dapat memberantas juga kemiskinan? Anda pantas dikatain bodoh atau cerdas? 

Pertama-tama harus kita pahami bahwa orang bodoh bukanlah orang yang tidak memiliki pengetahuan sama sekali. Orang bodoh adalah orang yang sudah merasa puas dengan pengetahuan yang sudah dicapai. Sementara orang miskin bukanlah orang yang tidak memiliki apapun, melainkan orang yang merasa tidak mampu mencapai sesuatu yang lebih baik.

Lantas bagaimana kita keluar dari kebodohan kemiskinan tersebut? Jawabannya singkat, JADILAH PRIBADI YANG CERDAS. Lawan kata "kebodohan" adalah "kecerdasan". Kecerdasan yang dimaksud di sini adalah kecerdasan dalam arti yang luas. 

Kecerdasan itu bukan sekedar kecerdasan yang direpresentasikan lewat koleksi ijazah dari S1, S2 dan S3 atau gelar eS-eS atau eM-eM an segala. Kecerdasan juga bukan melulu tampil karena kita banyak baca buku atau rajin mengakses Internet. 

Lagi, kecerdasan bukanlah sekedar seberapa banyak skill/ keterampilan atau pengalaman yang kamu miliki. Kecerdasan jusrtru merupakan cerminan dari semua kemampuan yang kita miliki dalam mengembangkan dirinya menjadi pribadi yang utuh (human being).

Ini berarti bahwa orang cerdas selalu mampu:
1. Menentukan prioritas - orang cerdas selalu mampu menentuan prioritas dalam hidupnya,


2. Melakukan negosiasi - Negosiasi yang baik tentunya adalah negosiasi yang menghasilkan keuntungan di semua pihak yang terlibat.


3. Menjadi orang yang bijaksana - menjadi seorang yang bijaksana adalah sebuah keputusan yang diambil dengan pertimbangan yang matang dan memikirkan banyak faktor. Seorang bijaksana dapat menjalankan keputusannya hingga berhasil mencapai tujuan yang lebih baik dengan resiko yang sekecil-kecilnya atau bahkan tanpa resiko.


4. Memanfaatkan otoritas - seorang pemimpin adalah seorang pelayan untuk orang-orang yang dipimpinnya (John Maxwell) karena ia diberi hak khusus untuk itu yakni berupa otoritas. memanfaatkan otoritas sama halnya dengan memaksimalkan sebuah kesempatan yang diberikan untuk kita kita agar kita dapat menentukan keputusan untuk memberikan pelayanan yang terbaik terhdapat orang-orang yang kita pimpin.


5. Melihat kemampuan orang lain - kebodohan terbesar manusia ialah saat ia menganggap dirinya sendiri sebagai manusia super yang dapat melakukan segalanya sendirian. Seorang cerdas justru membuka kesempatan kepada orang lain untuk berkarya, sebab kita selalu butuh dinasehati, ditegur bahkan dipuji.
    Mari kita berantas kebodohan dan kemiskinan dengan belajar menjadi orang cerdas dan agar hidupnya tak melulu fokus pada uang hingga saat tidak punya uang ia selalu menyalahkan orang lain, kondisi di sekitarnya, bahkan tak jarang ia kerap menyalahkan Tuhan.

    Sobat, jadilah PRIBADI YANG CERDAS !


    lusius-sinurat
    Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

    Related Posts

    Posting Komentar

    Subscribe Our Newsletter