Ad Unit (Iklan) BIG

Majulah, Bergeraklah !

Posting Komentar
Baru-baru ini aku berbicara dalam diskusi ringan tapi resmi bersama saudara-saudara di salah satu yayasan.

Saat rapat, seorang peserta diskusi, yang tak lain adalah salah satu dari stakeholder yayasan bertanya, "Kalau berkaitan dengan uang semua harus jelas dan transparan."

Pertanyaan ini biasanya disampaikan oleh orang yang bukan pemegang uang, bukan? Begitu juga, biasanya yang protes tentang pengumpulan dana (sebaik apa pun caranya) adalah mereka yang tidak menyumbang. 

Aku tak menjawab secara spesifik pertanyaan di atas; pertama karena saya ada di "luar" sistem mereka; dan kedua karena program yang direncanakan belum berjalan dan masih pada tahap pembicaraan. Untuk itu menanggapin pertanyaan tadi aku menjelaskan dengan penjelasan berikut. 

  1. Jangankan soal uang, masalah pekerjaan dan karya pun kita harus bersih, jelas dan transparan. Lihatlah berbagai kebiasaan aneh di tiap sudut negeri ini. Setiap acara atau proyek atau program kerja tertentu selalu didominasi oleh pembicaraan tentang uang dan laporan keuangan. 
  2. Sebuah proyek, besar atau kecil tidak hanya berujung pangkal pada berapa total Debit, total Kredit hingga total Saldo, melainkan berujung pada kebahagiaan dari semua orang yang turut di dalamnya. Ini berarti, selelah apa pun Anda, seberat apa pun usaha Anda, atau sebesar apa pun pencapaian Anda dinilai dengan seberapa besar Saldo di akhir proyek atau program atau acara tersebut. 
Anda setuju? 
Ah, masa.....!?!

*****


Di salah satu komunitas sosial-politik di mana aku juga larut di dalamnya, uang pun kerapa diperlakukan sebagai tujuan akhir yang pada akhirnya justru menindas asa dari para pengikut yang tulus di komunitas itu. 

Di awal pembentukan kepenguruasan pengalaman ini mungkin pernah Anda saksikan. Ada prosesi pemilihan pengurus yang tidak fair dan bahkan money politics. Biasanya setelah caranya berhasil, maka sang terpilih, saat menyampaikan sambutan akan memugar wajahnya menjadi wajah manis, optimis dan diolesi oleh kata-kata yang romantis,
"Terimakasih kepada semua teman yang sudah percaya ke saya. Itu sangat mengharukan dan membangkitkan kecintaan saya kepada komunitas ini. Saya pribadi akan berjuang mati-matian demi komunitas tercinta ini. Saya tak punya kepentingan tersembunyi di sini selain memperjuangan nasi orang-orang yang tertindas secara sosial-politis di negeri tercinta ini. Terimakasih."
Begitu manis dan rada melankolis. Namun, asal tahu saja, kalimat ini hanyalah kalimat hafalan yang juga diucapkan siapa pun yang terpilih sebagai pimpinan di setiap organisasi bahkan di tingkat pemerintahan sekalipun.

Hanya saja sangat disayangkan ketika kalimat hafalan ini juga sering diikuti oleh tindakan yang hafalan juga, yakni "berkata manis tapi berkelakuan melawan kata-katanya" karena ia justru sangat money oriented.
"Kita sering hanya fokus pada transparansi keuangan, tetapi juga harus diingat, TRANSPARANSI KEUANGAN hanya akan terjadi bila dilakukan TRANSPARANSI KINERJA. Keduanya harus Ada."

Misalkan tim Anda menyelenggarakan sebuah acara Mudik Gratis bagi orang-orang yang kurang mampu. Anda butuh uang 20 juta perak, mulai dari penyediaan bus, konsumsi penumpang, dan berbagai 'hadiah lainnya'. 

Tim Anda pun segera mengumpulkan uang 20 juta dari publik dan berhasil! Apalagi tim Anda melakukannya secara terbuka dan transparan. Selanjutnya acara terselenggara. Panitia bekerja dengan baik, penumpang sudah terdaftar dan bus mudik pun berjalan. Sesudahanya tim Anda langsung mempublis laporan keuangan. Beres! BELUM!

Sebab, jauh sebelum laporan keuangan dipublis, tim Anda pantas untuk mengatakan, "Have a nice trip, brothers and sisters!" kepada para supir, awak bus dan penumpang sesaat sebelum bus berangkat dan mengucapkan.

Selanjutnya tim Anda masih harus menunggu kepastian berikut: 
  1. Bertanya kepada para supir/salah satu penumpang atau panitia/perwakilan yang telah ditentukan tentang kondisi perjalanan dan tanya apakah ada kesulitan atau kendala berarti dalam perjalanan; 
  2. Memastikan mereka tiba sesuai jadwal atau tidak dan apa kendalanya - bila tidak tepat waktu;
  3. Memastikan supir dan awak bus kembali dengan selamat ke tempat semula;
  4. Berterimakasih kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras mewjudkan acara tersebut; 
  5. Mengevaluasi program dan salah satunya adalah laporan keuangan;
  6. Apakah aksi sosial ini akan dilakukan kembali atau tidak di tahun mendatang?
  7. Mencatat Laporan Kegiatan untuk dibagikan kepada semua panitia dan bila perlu kepada donatur dan disimpan sebagai arsip komunitas
Sederhana bukan? Tapi kita kerap lalai dengan hal-hal kecil ini. Kelalalian yang manusiawi? Tidak. Kelalaian ini justru kesengajaan yang tidak manusiawi.

Aku mengambil contoh tentang Mudik Gratis karena baru saja terjadi dan diselenggarakan dengan apik oleh grup fesbuk Dukung Ahok Gubernur DKI​ tanggal 14 Juli lalu yang dibidani oleh para pemeberi hati pada Ahok dan DAG.

*****

Nah, kembali pada persoalan "laporan kas" atau transparansi keuangan diatas, apa yang ditanyakan oleh saudara tadi memang hampir selalu ditanyakan juga oleh setiap orang di seluruh penjuru negeri ini bila ingin mengadakan proyek atau acara tertentu.

Syukur saja perusahaan tidak dikelola dengan hanya mengandalkan laporan keuangan, melainkan juga rekap kerja dan laporan hasil kerja. Bila perusahaan digarap dengan sistem seperti ini, maka yang terjadi perusahaan tak butuh divisi lain selain divisi keuangan. hahahaha....

Sebab, percaya atau tidak percaya, sadar atau tidak sadar kebanyakan dari kita selalu direpotkan oleh uang saat menyelenggarakan sesuatu, termasuk saat menyelenggarakan pesta, festival, karnaval, aksi sosial, bakti sosial, kepanitiaan tertentu dan seterusnya.

Beberapa aktivitas yang sifatnya temporal kita kerap hanya sibuk dengan dana.... dana.... dana... dan dana. Tak peduli siapa penyelenggara. Entah pemerintah, entah swasta... semua sama saja: berapa modal dan berapa sisa saldo! Ini seperti sudah semacam tradisi. Parahnya kebiasaan ini sudah menjadi kebiasaan yang sudah diamini secara massal; atau dalam bahasa Batak disebut "pasintonghon hasomalan" (membenarakan kebiasaan).
Dalam khasanah berorganisasi, uang memang amat perlu. Bohong bila kita mengatakan "uang tak dibutuhkan". Tetapi "cara biasa" dalam memperlakukan sebuah kegiatan hanya berujung pada laporan keuangan justru membuktikan betapa kita tidak fair. Ini sangat parsial (pars pro toto, sebagian untuk semuanya). Benar sekali.
Sangat tepat... kita harus JELAS DAN TRANSPARAN DALAM PENGGUNAAN UANG! Namun, dalam berorganisasi / ber-komunitas, baiklah pertama-tama kita juga JELAS DAN TRANSPARAN DALAM HAL SELURUH KEGIATAN, mulai dari Preparasi, Aksi hingga Evaluasi!

Percayalah, uang tak dibutuhkan di tiap jengkal perjalanan sebuah proyek. Ketika Anda mengatakan kepada teman panitia, "Selamat pagi, saudara. Terimakasih sudah menjadi bagian dari penyelenggara proyek ini" maka Anda tak perlu bayar, bukan?

Kita harus berubah !
Maju dan bergerak... !
pleas deh...move on bray !
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter