Ad Unit (Iklan) BIG

Membidani Lahirnya "DAG"

Posting Komentar
Sejak lahir, Dukung Ahok Gubernur DKI bukanlah ormas politik. DAG DKI juga bukan untuk sekumpulan orang yang mencoba menyihir anggota lain dengan kalimat, "Aku amat sangat mencintai Ahok!" untuk membela kepentingannya.

Pada awal DAG DKI lahir hingga kini, DAG telah mengalami dinamika menarik. Awalnya DAG-DKI, bersama dengan "Beranda Jokowi Ahok" bertujuan untuk memberikan dukungan moral kepada duo Jokowi - Ahok sebagai calon gubernur-wakil gubernur. Periode ini berlangsung sejak 2012-2013.

Kemudian, setelah keduanya menjabat jadi gubernur-wakil gubernur, DAG-DKI menjadi kontrol sosial lewat media bagi keduanya. Setelah berjalan setahun lebih, semua anggota DAG-DKI pelan-pelan fokus pada pencalonan pak Jokowi sebagai Presiden RI, tak lama setelah Megawati mengizinkan pencalonannya dari PDIP. Sepanjang masa inilah DAG-DKI agak 'sepi'. Pertama-tama karna hampir semua pendukung Ahok adalah pendukung Jokowi, dan sebaliknya. Maka mana yang paling urgent itulah yang dilakukan. Periode ini berlangsung sejak 2014-2015.

Akhirnya, setelah Jokowi resmi mundur dari Gubernur hingga berhasil menduduki tahta RI-1, secara otomatis, berdasarkan Undang-undang tata kelola pemerintahan, mayoritas member DAG-DKI secara spontan kembali memberi dukungan moril kepada pak Ahok untuk menjadi Gubernur. Inilah yang terjadi sejak akhir tahun 2014 hingga sekarang.

Perlu dicatat, sejak dipublikasikan ke publik, grup ini tak pernah secara gamblang atau secara sembunyi-sembunyi untuk dijadikan ormas, bahkan lembaga sosial yang berorientasi politik.

DAG-DKI tetaplah DAG DKI yang sejak awal konsisten menjadi lahan bagi tulisan berupa ide pemikiran, kreativitas, keluh kesah, canda ria, kesan, pesan, atau apalah namanya.

Dinamika inilah yang terjadi. Bersama JPK - sebab mayoritas anggota JPK adalah anggota DAG-DKI - vice versa, seluruh member DAG selalu bergerak dalam tawa dan tangis, kegembiraan dan kesedihan, atau dalam kritik dan otokritik yang dinamis pula.

Oleh sebab itu, waktu telah membuktikan, siapa pun yang punya kepentingan pribadi, entah politis, entah bisnis, tak akan pernah mendapatkan cinta mati dari para anggotanya. Silahkan saja Anda diam-diam mau mengincar tender pengadaan barng-barang yang dibutuhkan Pemda DKI atas nama Ahok maka Anda tak lagi dicintai anggota DAG ini.

Juga ketika Anda secara diam-diam hendak berkolusi/bernepotisme dengan membawa nama Ahok agar saudara Anda mendapat posisi di pemerintahan Ahok, atau secara gamblang mengatakan aku ingin mengambil untung dari bisnis dengan Pemda DKI, maka Anda akan kehilangan orang-orang yang secara moral telah mati-matian mendukung pemerintahan Ahok.

Begitu Anda melakukan semua tindakan di atas, lawan Anda bukanlah Ahok, melainkan 28.191 anggota grup ini. Andai pun grup ini kelak akan menjadi LSM, namun aku yakin seluruh anggotanya tak rela bila LSM yang dibentuk adalah LSM politis yang dihuni oleh orang-orang pragmatis dan memanfaatkan momentum pilkada 2017 sebagai lahan basah bagi dirinya.

Ketika mayoritas anggota DAG-DKI berkehendak agar DAG segera menjadi LSM, maka sahabat-sahabat yang sejak awal "menghuni rumah" ini akan mengatakan bahwa kita harus kembali pada cita-cita awal di atas, yakni LSM yang pro masyarakat marginal dan tersingkir, dan bukan LSM yang menjual kemiskinan untuk kepentingan politik pribadi.

Percayalah, DAG akan tetap abadi bila ia berjalan pada tujuan yang didendangkannya: menjadi 'garam' dan 'terang' dunia dalam porsi yang pas. Mari kita bersama-sama mendoakan konsistensi Pak Ahok dalam memimpin Jakarta, yang melenggang dalam strategi kepemimpinan-pelayan, yang Bersih, Transparan dan Peduli bahkan rela mati demi rakyat yang dipimpinnya.

Inilah spirit Ahok, bukan yang lain !
Semua anggota DAG harus belajar dari beliau.
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter