Ad Unit (Iklan) BIG

Bersinergilah !

Posting Komentar
Di Sebuah Centra Business 

Begitulah kalangan kami di sini. Tak peduli dengan kalangan lain. Kalangan kami selalu merasa lebih tinggi dari kalangan mereka yang lebih dahulu ada di daerah ini.

Begitulah kami diajar dan dididik orang tua kami, "Jangan sesekali bergaul dengan para penghuni kampung ini. 

Mereka tak mengerti artinya hidup. Mereka pikir Tuhan ada di pihak mereka, sehingga mereka begitu boros.

Apa yang mereka dapatkan hari ini tak segan-segan untuk mereka habiskan hari ini juga. 
Mereka tak pernah tahu cara menata keuangan mereka. Kita ini berbeda. Kalau kita dapat 10 rupiah, maka kita hanya memakan 2 perak dan menyimpan 8 perak."

Ya, beginilah kami dididik. Sejak kecil kami 'dipenjara' dalam satu sistem tertutup. Bayangkan saja, kami hanya boleh bersekolah hingga kuliah di tempat di mana hanya kalangan kami yang bersekolah di sana. Dan itu berarti kami hanya boleh berjumpa dan bertatap muka, berkenalan dan berteman dengan kalangan kami.

Di Sebuah Perkantoran 
Mereka memang begitu. Mereka seakan diberi Tuhan kelebihan mengumpulkan harta di bumi, tetapi serentak mereka tak sadar kalau mereka sangat miskin persahabatan, lagi... amat minim relasi dengan yang bukan kalangan mereka.

Untunglah kami tidak dididik seperti mereka. Karena kami dididik justru dengan cara yang membumi: bertani, bekerja di bidang hukum, politik, bahkan di perkantoran2 pemerintahan.

Kami memang buruh, karena kita suka bekerja pada orang lain. Tetapi bukankah itu juga bagian dari cara kita saling membantu sesama kita? Coba bayangkan betapa kacaunya kondisi keamanan tanpa polisi, atau betapa keadilan tak pernah jernih oleh para pengacara, atau pasar akan sepi dari transaksi bila petani tak bercocok tanam.

Kami memang dididik begini saat kecil, "Bertarunglah dalam hidup, berjuanglah dalam mempertahankan hidup dengan bekerja keras. Tetapi jangan pernah lupa bahwa doa itu nomor satu, relasi nomor dua serta keluarga dan persahabatan adalah berikutnya."


Di Rumah Persaudaraan

Benar, bahwa kultur memengaruhi kita dalam berpikir, bertutur dan bertindak. Tetap serentak kultur yang buruk juga akan membuat hidup terasa dikubur; sementara kultur yang baik akan menggiring hidup tak lagi redup.

Kita memang harus bertarung dalam hidup, tetapi kita juga serentak harus menerapkan strategi perang untuk memenangkan pertempuran.... Harus diperhitungkan jumlah peluru yang tersedia dan berapa peluru harus ditembakkan.

Perjumpaan tetap penting, tetapi kualitas pertemuan juga sangat penting. Pekerjaan hanya akan penting bila membahagiakan orang lain, tetapi juga harus membahagian diri sendiri.

Akhirnya, niat baik takkan pernah berhenti saat kita merasa yang lain itu sama dengan kita, entah karena kekurangannya, entah karena kelebihannya. Bukankah penghargaan, karisma, prestasi, dan kualitas diri itu selalu personal?
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter