Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Jokowi dan Bahasa Sarkastik Musuh Politiknya

Jokowi dan Bahasa Sarkastik Musuh Politiknya
Ilustrasi: Internet
KBBI membentangkan arti kata "sarkasme" [ sar·kas·me ] sebagai kata benda (n) sebagai "penggunaan kata-kata pedas untuk menyakiti hati orang lain; cemoohan atau ejekan kasar."

Sebagai majas atau gaya bahasa, sarkasme adalah sebuah majas yang tujuannya untuk menyindir, atau menyinggung seseorang atau sesuatu.

Biasanya gaya bahasa sarkasme itu berupa penghinaan yang mengekspresikan rasa kesal dan marah dengan menggunakan kata-kata kasar.

Nyatanya, majas atau kiasan atau cara melukiskan sesuatu dengan cara menyamakan sesuatu itu dengan sesuatu yang lain ini dapat melukai perasaan seseorang.

Fyodor Dostoyevsky menyebut sarkasme sebagai bentuk penyindiran yang menggunakan kata yang terbalik dari maksudnya. Fyodor Dostoyevsky menyebutnya sebagai ironi (sindiran halus).

Kata Dostoyevsky, seorang sastrawan Rusia sarkasme itu "pelarian terakhir dari orang-orang berjiwa bersahaja dan murni adalah ketika sisi personal mereka diusik secara paksa." Dalam tulisan-tulisannya, Dostoyevsky menggunakan sarkasme dalam konteks humor.

Contoh: "Putih benar wajahmu, sampai bisa bedakmus bisa disendoki." Majas sarkastik ini juga menunjuk pada si koruptor berlimpah hartanya, tetapi hidupnya malah lebih banyak dihabiskan di penjara.

Dalam konteks perpolitikan di negara ini, terutama yang terlihat di media internet, termasuk media sosial, banyak orang tergoda menggoda menggunakan majas sarkasme dalam mengutarakan pendapatnya.

Fakta tanpa beralasa data pun sering diumbar ke publik tanpa hipotesa (pandangan yang dianggap benar meskipun kebenarannya masih harus dibuktikan) terlebih dahulu. Kita sebut saja golongan ini sebagia Jokowi Haters alias para pembenci Jokowi.

Kelompok penikmat kemapanan status quo ini doyan sekali mencari kesalahan Jokowi dan selalu mengeneralisir kesalah itu sebagai kesalahan fatal dan merusak negara dan bangsa Indonesia. Terlepas dari isi kritiknya, kelompok ini kerap mengumbar gosip dan fitnah dan bermaksud memengaruhi opini umum bahwa Ir. Joko Widodo tak pantas menjadi Presiden Republik Indonesia.

Bisa jadi alasan mereka menggunakan majas sarkasme karena, seperti pernah dikatakan Dostoyevsky, "There is nothing easier than lopping off heads and nothing harder than developing ideas" (tak ada yang lebih mudah dari memenggal kepala dan tak ada yang lebih sulit dari membangun ide.")

Memahami sarkasme memang membutuhkan kecerdasan dan kemampuan seseorang dalam memahami poin terkecil dari kelemahannya saat berbicara. Misalnya ketika Jokowi justru diserang para politisi mapan dan sudah terbiasa korupsi. Mereka menyebut Jokowi sebagai presiden yang sangat berbahaya dan budak para investor asing, pro aseng dan asing, dan tak peduli dengan rakyatnya.

Di sisi lain, segala prestasi Jokowi sebagai presiden ke-7 di negeri ini justru sering mereka nilai melulu sebagai pencitraan. Mereka mendirikan surat kabar, media online, bahkan memborong iklan televisi suwasta hanya untuk meyakinkan publik bahwa Jokowi tak layak menjadi presiden.Bahkan, dalam konteks kebebasan pers, bahasa yang mereka gunakan pun sangat sarkastik dan cenderung melecehkan.

Sayangnya, publik tahu pada akhirnya, siapa yang sesungguhnya Jokowi dan segala hal positif yang telah dilakukannya demi mengeluarkan bangsa ini dari keterpurukan karena megakorupsi di segala lini. Jadi, publik tahu bahwa hinaan Jokowi Haters kepada presidennya hanyalah sebagai bentuk kekalahan mereka.

Di atas segala hujatan, hinaan, dan serangan bernada melecehkan kepadanya, Presiden Jokowi justru berkali-kali mengatakan, If you want to be respected by others the great thing is to respect yourself. Only by that, only by self-respect will you compel others to respect you.

Benar saja. Jika kamu ingin dihormati oleh orang lain, maka hal terbesar yang harus kamu lakukan adalah menghormati dirimu sendiri. Hanya dengan cara itulah kamu akan memaksa orang lain untuk menghormati Anda,


Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter