Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Apatisme Di Ujung Kekuasaan

Alkisah ada sebuah kerajaan kecil di pelosok nusantara ini. Entah di mana letak kerajaan ini, hanya saja sempat terdengar kalau nama kerajaan ini adalah Kerajaan Apatisme.

Tak tau darimana nama ini berasal. Hanya pernah seorang kuli tinta yang punya hasrat ingin tau yang sangat tinggi, bertanya kepada salah satu tokoh masyarakat yang di segani di kerajaan itu.
"Yang mulia, ijinkan hamba mengajukan beberapa pertanyaan terkait sejarah kerajaan ini. Rasa penasaran hamba tak lagi bisa hamba tahankan saat mendengar nama kerajaan ini. 
Hamba henda bertanya dari rasa ingin tahu yang mendalam, mengapa nama kerajan ini Kerajaan Apatisme? Dari siapa dan bagaimana gerangan nama itu dinobatkan sebagai nama kerajaan ini?"


"Seberapa besar rasa keingintahuanmu terhadap kerajaan kami ini, anak muda?" tanya sang tokoh sebelum menjelaskan lebih jauh tentang sejarah kerajaan mereka.

"Sangat besar, yang mulia. Sebesar isi pikiranku," jawab sang kuli tinta lembut.

"Begini anak muda. Kerajaan kami sebenarnya lahir dari optimisme. Semua masyarakat di awal kerajaan ini dibentuk, tepatnya setelah memisahkan diri dari kerajaan sebelah Utara, masyarakat optimis bahwa kehidupan mereka akan lebih baik.

Itu pula yang dijanjikan oleh Raja Optimus, raja pertama di negeri ini. Ya, sang raja memang sungguh dicintai rakyatnya, sebab sang raja - yang hingga kini namanya melegenda itu, tak segan-segan turun dan melihat secara langsung apa yang dilakukan atau dikerjakan rakyatnya.

Tak jarang, Raja Optimus menyamar saat mengunjungi rumah demi rumah dari rakyatnya yang miskin dan berkekurangan.

Maka tak mengherankan, sebagaimana dituturkan oleh kakek-nenek saya, bahwa rakyat hidup dalam kedamaian dan kesejahteraan. Rakyat mencinta sang raja, sebagaimana sang raja juga mencintai rakyatnya."

Sang tokoh yang menurut pengakuannya telah berusia genap 70 tahun 2 hari lalu itu menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan ceritanya. Sementara sang kuli tinta hanya mendongakkan kepalanya dan sesekali mencatat di buku sakunya.

Tak lama kemudian sang tokoh melanjutkan kisahnya,

"Menurut pengakuan kakek saya --yang semasa saya kecil rajin meninabobokan saya dengan cerita menarik seputar kerajaan ini-- kerajaan ini pada awalnya bernama kerajaan Optimis. Nama ini pasti ada kaitannya dengan nama raja pertama di kerajaan ini. Siapa lagi kalau bukan raja Optimus...."

"Lalu mengapa sekarang berubah nama menjadi Kerajaan Apatis? Kapan perubahan nama itu terjadi?" tanya si kuli tinta tak kuasa menahan rasa penasarannya.

"Begini anak muda. Setelah memerintah 20 tahun, sang raja pun wafat dan digantikan oleh putra sulungnya. Selama sang anak yang digelari Raja Progesivus memerintah selama 32 tahun banyak hal berubah.

Perlahan-lahan kekuasaan digarap menjadi ladang untuk memperluas pengaruhnya. Ia sangat mencintai keluarganya, terutama istrinya yang cantik yang telah memberinya 2 putra yang gagah dan 2 putri yang cantik. 

Sayangnya, keempat anaknya menganut pola hidup hedonis. Bisa jadi karena apa pun yang mereka butuhkan selalu dituruti sang ibu dan sang ayah.. ya si Raja Progresivus tadi. Anak-anaknya sering bermasalah dengan aparat kerajaan, bahkan tak segan-segan mengatasnamakan ayah mereka.

Keempat anak-anaknya mulai membangun bisnis masing-masing. Tentu dengan sokongan dana dan pengaruh sang raja, mereka dengan cepat menjadi pengusaha kaya raya. Awalnya, beberapa patih sempat menegur sang raja perihal perilaku aneh anak-anaknya.

Hanya saja, karena kecintaannya pada keluarga, sang raja tak pernah berhasil meyakinkan anak-anaknya untuk tidak bermewah-mewah.

Seiring waktu berjalan, anak-anak sang raja mulai mengganggu kinerja para aparat kerajaan. Berbagai kebijakan yang diputuskan sang ayah pun akhirnya, secara perlahan tapi pasti mulai memihka pada hasrat anak-anaknya. 

Demikian berlangsung selama puluhan tahun, hingga sang raja akhirnya dipaksa turun oleh kekuatan rakyat. Seluruh elemen masyarakat tak tahan lagi berada dibawah bayang-bayang ketidakpastian, apalagi sistem pemerintahan selama sepuluh tahun terakhir sudah semakin represif terhadap mereka.

Singkat cerita, kekuatan rakyat akhirnya menang. Sang raja pun kalap dan terpaksa lengser alias turuh tahta. Saat itu rakyat di kerajaan ini bersorak-sorai... dan tak lama kemudian, keadaan itu dimanfaatkan oleh orang-orang yang ingin berkuasa dan menggantikan raja Progresivus.



lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter