Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Kabar Burung


Ungkapan-ungkapan dalam Bahasa Indonesia itu sangat kaya sekaligus mengagumkan. Misalnya saja ungkapan yang diterlurkan dari kata "kabar" (berita, warta, laporan tentang peristiwa yang biasanya belum lama terjadi).

Misalnya (1) Kabar burung atau Kabar angin atau kabar selentingan: kabar yang belum jelas kebenarannya; desas-desus. (2) Kabar dengkul : kabar bohong atau berita yang tidak benar,
(3) dan seterusnya.

Awalnya saya mengira bahwa kata "burung" dalam ungkapan "kabar burung" adalah burung dalam arti harafiah, yakni burung terbang.

Tetapi setelah membaca tulisan Kang Ajip Rosidi di harian Pikiran Rakyat, 4 Sep 2010 ternyata tidak ada sangkut paut antara burung dalam ungkapan itu dengan burung yang suka terbang.

Kata “Burung” dalam "kabar burung" tampaknya berasal dari bahasa Sunda yang artinya “gila”, “tidak benar”, atau “gagal”. Hal ini merujuk pada tulisan Oei Kim Tiang (OKT) yang 'mencetuskan' istilah ini.

Asal tahu saja sejak kecil OKT tinggal di Tangerang, dan dalam tulisannya ia banyak memasukkan kata-kata dari bahasa Sunda yang rupanya sudah menjadi perbendaharaan bahasa sehari-hari orang Tangerang.

Sebut saja kata “buru-buru” (cepat-cepat), “jangkung” (tinggi untuk tubuh orang), “tanjakan” (jalan mendaki), “kabur” (melarikan diri), “lumrah” (umum), “berendeng” (berjalan berdampingan), “tapak” (bekas), dan banyak lagi sering digunakan OKT dalam karangannya.

Kata-kata itu berasal dari bahasa Sunda yang sebagian biasa digunakan dalam bahasa Jakarta. Sekarang banyak kata tersebut yang menjadi bahasa Indonesia karena kebiasaan OKT banyak memengaruhi penulis lain.

Jadi “kabar burung” berarti kabar yang tidak benar, kabar gila; dan dalam bahasa Sunda sendiri tidak ada ungkapan “beja burung” (beja=kabar). Jadi, kata Sunda yang diambil hanya “burung” saja.

Dalam Kamus Dialek Jakarta yang disusun oleh Abdul Chaer (1976), kata “burung” dalam arti gila tidak jadi atau gagal, tidak tercantum. Artinya, kata “burung” dalam arti demikian tidak terdapat dalam bahasa dialek Jakarta.

OKT agaknya langsung meminjamnya dari bahasa Sunda. Akan tetapi, sekarang ungkapan “kabar burung” sudah menjadi ungkapan sehari-hari dalam bahasa Indonesia.

Hal itu menunjukkan bahwa memperkaya bahasa nasional Indonesia dengan memasukkan kata-kata dari bahasa ibu yang jumlahnya ratusan di Indonesia dapat dilakukan oleh siapa saja yang aktif memperkaya bahasa Indonesia dengan tulisan, baik berupa karya sastra maupun berupa berita-berita dalam surat kabar atau majalah.

Dan hal itu tidak usah dilakukan oleh orang yang berasal dari lingkungan suku bangsa yang mempergunakan bahasa ibu tersebut, melainkan bisa oleh siapa saja yang menganggap kata tersebut pantas menjadi kosakata bahasa Indonesia.

Kata-kata basa Sunda yang sekarang sudah menjadi kosakata bahasa Indonesia seperti “boro-boro”, “amburadul”, “ngabuburit”, “baheula”, “keukeuh” (sering diucapkan “kukuh” atau “kekeh”), mula-mula atau banyak digunakan dalam bahasa Indonesia bukan oleh orang Sunda.

Demikianlah bahasa pada akhirnya dikembangkan oleh para 'penulis', bukan oleh para penutur lisan. Seperti kabar burung yang sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari, bahkan sudah dilegitimasi sebagai kosakata dalam KBBI.


Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter