Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Kebangkitan Yesus Bukti Kehadiran Allah Secara Nyata

"Yesus itu reinkarnasi atau inkarnasi Allah?" Itu pertanyaan seorang teman ke saya saat masih kuliah di Unpar Bandung. Sebut saja namanyasi Borokokok.

Borokokok memang kritis. Ia seorang Katolik. Rajin ke gereja, tetapi hampir selalu bingung setelah pulang dari gereja. Ia selalu mempertanyakan teks CREDO ("Aku Percaya" - Syahadat Iman Katolik).

"Sok, maneh kan orang Filsafat...," ia selalu memulai pertanyaan dengan penegasan ini, sebelum melanjutkan pertanyaan di atas: "Yesus itu INKARNASI Allah atau INKARNASI Allah?"

Entah karena ingin menjebak (siapa tau aku gak bisa jawab, lalu si Borokokok akan melanjutkan, "Heeuh... percuma manehna belajar Pilsafat" (tentu dengan lafal p-nya).

Dasar si Borokokok mah. Dia selalu berusaha menguras isi otakku. Dan kebiasaannya selalu bertanya dengan kalimat awal "maneh sebagai mahasiswa filsafat...", maka aku pun berusaha menjawabnya sok filosofis, tetapi dengan bahasa sederhana ala si Borokokok tadi :)

****

Mari bermain dengan kata (philo)..... 

A. REINKARNASI

Re-in-carna-tio(Latin) atau reincarnation (English) secara etimologis berasal dari 3 kata, yakni "RE" (kembali), IN (masuk kedalam) dan CARNE  (daging, tubuh jasman).

Maka reinkarnasi berarti lahir kembali karena perjalanan karma seseorang. Dalam konsep Hinduisme, reinkarnasi itu tidak bisa kita pilih, namun sudah ditentukan.

Proses REINKARNASI berlangsung dengan cara:
(1) setelah jasmani mengalami kehancuran,
(2) “jiwa”/batin tidak mengalami kehancuran/perubahan
(3) Maka jiwa "mencari” dan menempati jasmani yang baru.

Konsep ini dianut oleh agama Hindu, sementara Buddhisme sendiri menolak adanya ”jiwa” yang kekal.

Reinkarnasi hanya diperuntukkan bagi mereka yang tidak pernah olah rohani, tidak menguasai tubuh rohani, sehingga ketika tubuhnya rusak, dan rohnya pun melanglangbuana entah kemana. Ada yang nempel di pohon, di batu, di tempat-tempat sunyi.

Jadi, tidak mengherankan ketika kita percaya adanya batu keramat, pohon keramat, dan tempat keramat lainnya. Dalam pikiran kita selalu terbersit kalau di sana ada "roh halus" sebagai penunggunya. Mereka inilah yang akan mengalami REINKARNASI.

Sementara orang-orang yang menguasai tubuh rohaninya.... setelah tubuhnya rusak (mati), dia bisa memilih lahir kembali dengan wujud baru. Mereka ini akan mengalama INKARNASI. Contohnya, Dalai Lama yang dipilih dalam usia 7 tahun


B. INKARNASI

Jelas sekali bahwa konsep "inkarnasi" dianut oleh agama Kristen. Secara etimologis kata "Inkarnasi" berasal dari 2 kata Latin in + carne (Yunani, εν σαρκι - en sarki) yang berarti "masuk kedalam tubuh manusia" atau menjelma.

Inkarnasi itu memilih lahir kembali dan bisa menyeleksi wujud apa yang hendak kita hadiri karena penguasaan tubuh rohani

Bila reinkarnasi hanya berlaku bagi yang belum menguasai dan memahami tubuh rohaninya, maka inkarnasi diperuntukkan bagi mereka yang terus menerus menguji kemampuan penguasaan diri sejati secara jasmani maupun rohaninya sehingga tahu letak di mana kekuatan maupun kelemahan diri.

Dalam bahasa Indonesia, INKARNASI telah diterjemahkan dengan kata PENJELMAAN. Dalam ajaran Kristiani konsep sangat jelas diproklamirkan, yakni bahwa Yesus Kristus adalah Allah yang menjadi manusia atau Putra Allah yang menjadi manusia.


C. SIMPULAN

Dalam bahasa Teologi Kristiani kata INKARNASI ini sangat penting. Inkarnasi sendiri secara nyata terjadi dalam diri Yesus Kristus, penjelmaan Allah yang Mahasuci.

Lantas, mengapa Allah 'sudi' menjadi manusia? Pertama-tama, karena manusia diciptakan oleh Allah untuk mengetahui dan mengasihi Penciptanya. Sementarsi eksistensi dari Sang Pencipta tadi tak dapat dibuktikan dengan akal budi saja.

Artinya, mengetahui dan mengasihi Sang Pencipta telah menjadi bagian dari kodrat manusia itu sendiri. Bukankah manusia diciptakan menurut citra Allah, yaitu dengan mempunyai akal budi (reason and will)?

Di titik inilah Allah yang Mahasuci turun ke dunia dan menjadi seorang manusia dalam diri Yesus Kristus. Di dalam Kristus Ia berkenan menjadikan diri-Nya "menjadi daging" (inkarnasi) yang
(1) lahir dalam keadaan bayi (manusia),
(2) tumbuh normal seperti manusia lainnya,
(3) dewasa dan mengalami kematian dalam misi penyelamatan bagi umat manusia dari dosa.

Perbedaannya dengan kita, manusia lainnya adalah kematianna. Kematian Allah yang inkarnasi (baca: Yesus Kristus) ini tidak selamanya, sebab PADA HARI KETIGA IA BANGKIT DARI MATI DAN NAIK KE SURGA.

***

Si Borokokok dari tadi cuma manggut-manggut mendengarkan penjelasanku. Entah mengerti atau malah lieur (bingung). Bukan kenapa-kenapa, soalnya minggu berikutnya dia masih menanyakan hal yang sama.

Dasar si Borokokok !  Hahahaha.....


SELAMAT MERAYAKAN PASKAH !

Lusius Sinurat

lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter