Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Gampanglah Itu

"Gampanglah itu!" Ini bahasa pasaran orang Medan. Biasanya kata ini merujuk pada permintaan seseorang kepada orang yang dikenalnya.

Misalnya, si Sahat mengingatkan saudara iparnya si Martua - sesaat sebelum Martua berangkat ke tanah leluhurnya di Sipea-pea, Tarutung sana, "Ntar jangan lupa bawa oleh-oleh ya, laeku!"
Hampir bisa dipastikan si Martua akan menjawab, "Gampanglah itu, laeku!"
*****

Persoalannya di kalangan masyarakat Timur, khsusunya di kalangan masyarakat Batak, Jawa, Betawi, Sunda (minimal itu yang pernah penulis tahu dan alami sendiri), kalimat "Gampanglah itu!" atau "Tenang aje. Ntar gue bawain deh!" dst... lebih mendekati basa-basi daripada omongan serius yang mengandung janji.

Bagaimana tidak. Mereka yang sering mengatakan kalimat itu pada kenyataannya justru tidak membawa oleh-oleh bila yang dijanjikan adalah oleh-oleh; atau malah tidak mengerjakan sesuatu sesuai yang diminta.

Kita memang terlalu suka basa-basi. Bahkan hidup kita, bangsa Indonesia tercinta ini terlalu didominasi basa-basi. Tak heran bila hidup seakan berlangsung dalam basa-basi busuk. Kalau enggak percaya, tanya tuh para calon pejabat yang terlalu banyak janji saat kampanye. Mereka pasti tahu banget kalau mereka lebih banyak basa-basi daripada serius saat mengikrarkan janji mereka.

Herannya, basa-basi tadi seakan tak jadi soal. Tak masalah ketika janji tak ditepati, harapan tak dipenuhi, masalah tak tuntas seperti yang dijanjikan. Bagi mayoritas masyarakat kita, basa-basi itu bahkan dianggap sangat perlu. 

Dalam kebiasaan masyarakat Batak misalnya, saat pesta adat perkawinan, semua orang rasanya "harus" bicara, kendati posisi dalam adat, pun isi omongan mereka nyaris sama. Kok bisa begitu? 

Orang Batak, sebagaimana juga suku-suku lain di Indonesia hampir selalu punya filosofi yang ganjil. Di satu sisi mereka akan mengatakan "Arga do doba hata di hita" (bagi kita, kata-kata begitu berharga).

Namun di sisi lain mereka juga mengamini ketika kata-kata itu menjadi tak berharga karena seseorang harus mengatakan sesuatu yang tak datang dari pikiran dan hatinya. 

Dalam pesta adat perkawinan batak, misalnya para orangtau kerap memaksa saudaranya untuk menyampaikan sesuatu hanya karena hal itu sudah menjadi kewajibannya (dalam posisi adat). Tentu saja apa yang dikatakannya bukan lagi berasal dari hatinya, bukan?

Masih dalam konteks perkawinan adat, berbagai pihak dari kerabat yang menikah sering menyampaikan hal yang bertele-tele berikut ini, 

"Otik do nian naeng sidohononku. Alai nang pe songoni, unang pola songon na aha rohamu marnida au ate....dan bla...bla....bla...bla... (nyerocos hingga 1 jam lebih). Artinya, "Hanya sedikit yang mau kusampaikan. Kendati singkat, jangan sampai kalian 'merasa ada sesuatu' saat menilaiku... dst.. dst.. dst....

*****

Rupanya, fakta ini jamak juga terjadi di hampir semua suku yang ada di Indonesia. Orang Jawa misalnya suka menyuruh orang mampir, menawarkan makan dan minum, dst, tetapi kenyataannya mereka - berdasarkan pengalaman sudah terbiasa dengan fakta bahwa orang tak mungkin sembarangan mampir di rumah orang lain.

Berbeda dengan orang Tionghoa. Mereka juga suka basa-basi, kendati mereka lebih sering melontarkan kalimat-kalimat pragmatis. Tamu yang baru datang, misalnya, kerap langsung diserang dengan kalimat, "Kapan pulang?"

Tenang saja. Ini juga basa-basi. Jangan langsung tersinggung. Sebab, Anda boleh menjawab atau boleh tak menjawab samasekali. Tuan rumah tak akan mengusir Anda. Serius! Basa-basi jenis ini justru terkait dengan kesanggupan tuan rumah "menjadi tuan rumah yang baik", dan sedikit agak berbau ekonomis-pragmatis (seberapa banyak waktu dan materiil yang harus disediakan untuk tamu).

*****

Basa-basi memang terkadang perlu. Tetapi serentak, kebanyakan basa-basi juga akan menjadikan hidup terasa basi. Bagaimana tidak?

Sebab, oleh kebiasaan basa-basi, mereka yang selalu straight to the point kayak bule-bule Eropa sana akan menanggapi serius tiap ucapan kita, termasuk basa-basi alias lips services yang kita lontarkan.

Lagi, basa-basi akan membuat mereka yang terbiasa mendengarkan akan mulai kehilangkan harapan saat mereka menanggapi basa-basi sebagai hal yang sangat serius. 

Seperti contoh di atas, si Sahat harus siap "menganggap tidak akan pernah ada" oleh-oleh yang dijanjikan oleh si Martua. 

*****

Akhirnya, kita boleh saja basa-basi. Samasekali tak bisa dilarang kok. Gimana mau dilarang. Lha, wong sudah dadi kebiasaan kok. Bukankah basa-basi itu sudah menjadi habitus dalam masyarakat kita?

Orang Semarang sering mengatakan kalimat ini sebagai penyangkalan atas kegagalan yang mereka terima, "Meh piye, jal? (Mau gimana lagi?). 

Ya tinggal dikurangin sajalah basa-basinya. Biarbagaimana pun kebanyakan basa-basi, maka tiap kata yang kita lontarkan pun tak lebih dari sekedar makanan basi, yang terbuang tanpa manfaat. 

Ini akan menjadikan hidup kita defisit, tepatnya ketika kata-kata yang kita ucapkan lebih banyak yang terbuang daripada bermanfaat bagi kehidupan nyata.


Jadi, jangan terlalu banyak berbasa-basi, katua!


Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter