Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Gerutu

menggerutu
Gerutu (n) berarti perkataan yang diucapkan dengan cara bergumam terus-menerus karena rasa mendongkol atau tidak puas dengan keadaan atau peristiwa yang dialaminya (KBBI).

Kebiasaan menggerutu biasanya dilakukan orang yang posisinya lemah, seperti bawahan kepada atasan yang memperlakukannya tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya.

Tetapi tak jarang pula seorang atasan menggerutu karena ulah bawahannya. Atasan jenis ini tentu saja atasan bermental bawahan.

Di ranah horisontal, dalam relasi persahabatan atau persaudaraan, sikap menggerutu juga jamak kita jumpai. Misalnya ketika seseorang menggerutu karena teman satu kerjanya diperlakukan istimewa oleh bosnya."Bukan dia, tetapi akulah yang seharusnya duduk di posisi itu. Dia tak lebih pinter dan lebih berkualitas dibanding aku!" 

Gerutu ini kerap dilengkapi dengan kalimat, "Tapi terserahlah. Bukan aku yang bos. Lagipula aku tak pinter menjilat seperti dia." 

Tak berhenti di situ, karena sikap dongkolnya, tak jarang si penggerutu tadi melengkapi ungkapan kesalnya dengan sumpah serapah bernada dendam, "Lihat saja nanti, Kalau aku jadi bos, maka dia (temannya) adalah orang pertama yang akan kupecat!"

Menggerutu Itu Ungkapan Ketidakstabilan Emosi Seseorang

Begitulah si penggerutu tak pernah mampu menutaskan persoalan hidup yang dihadapi, terutama dalam menata rasa kesalnya dengan baik. Si penggerutu adalah tipikal manusia yang secara emosinal sangat labil.

Bagaimana tida, ia tak kuasa melepaskan diri darai prasangka buruk alias kebiasaannya mempertontonkan entitas negatif dalam sikapnya.
Tentu saja semua orang memiliki kecenderungan ini. Selain karena manusiawi, juga karena berdasarkan berbagai studi, semua orang punya kecenderung lebih fokus atau mengingat hal-hal negatif daripada yang positif.

Artinya, apabila seseorang sering bergaul dengan orang-orang berperilaku negatif, termasuk orang-orang yang suka mengeluh terus-menerus dan mengomel tentang rasa tak puasnya, maka otaknya juga memiliki reaksi emosional yang sama seperti orang stres. 


Menggerutu itu Tak Sehat

Nyatanya orang yang suka mengeluh mudah teganggu kesehatan fisiknya. Ya, mengeluh itu tak baik untuk kesehatan kita. Boleh saja sih sesekali mengeluh, tetapi jangan menjadikan sikap itu menjadi kebiasaan.

Pada umumnya keadaan yang membuat seseorang menggerutu adalah:
  1. Disaat seseorang tidak ikhlas menolong untuk orang lain, entah karena ingin mendapatkan pujian atau bayaran yang setimpal.
  2. Ketika seseorang menginginkan agar segala sesuatu bekerja hanya menurut caranya. Hal ini terjadi karena ia selalu menganggap bahwa cara kerjanyalah yang terbaik dalam memperoleh hasil terbaik.
Itu sebabnya mengapa orang yang suka menggerutu sering dikatain sebagai orang yang frustrasi. Tentu saja, karena si penggerutu suka memendam amarahnya, dan terutama ketika ia tak mendapat simpati dan pengakuan dari orang di sekitarnya. 


Efek Domino Kebiasaan Menggerutu

Jamak terjadi di masyarakat kita kebiasaan menggosip. Tentu saja. Anehnya, gosip sering berawal dari si penggerutu tadi. Bagaimana tidak, ia akan dengan gamblang mengungkapkan kekesalan atau keluhannya hingga mendapat pembenaran dari lawan bicaranya.

Bahayanya gosip yang intinya mendengarkan orang yang selalu menyalahkan situasi dan orang lain itu selalu memiliki efek domino. Biasanya sih orang yang mendengar muatan gosip tadi kerap tergoda untuk membagikan keluhan lawan bicaranya. 

Bukankah sikap menggerutu ini mudah menular? Benar saja. Kita kerap membenarkan teman atau sahabat kita yang suka menggerutu tentang pekerjaan, karir, sekolah, dst.

Si penggerutu tak lain adalah orang yang berfokus pada hal yang negatif tentang orang lain, sebaliknya ia menghargai dirinya setinggi langit. Si penggerutu selalu ingin mengambil-alih panggung yang dibangun orang lain dan mengklaim itu panggung dibangun hanyan untuk dia. 

Ringkasnya, si penggerutu tak lain adalah tipikal orang yang nyaris tak menikmati hidupnya, sebab ia kerap berfokus pada dirinya hingga tak pernah membuka diri bagi siapa pun yang hendak mengajarinya.


Jadi, berhentilah menggerutu !

Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter