Ad Unit (Iklan) BIG

Palak Kali Awak

Posting Komentar
palak kali awak
Bahasa memang selalu menggambarkan budaya para penuturnya. Kalaupun bukan menggambarkan budaya secara gamblang, minimal bahasa selalu menggambarkan kebiasaan para penggunanya.

Indonesia sangat kaya dengan bahasa daerah. Kita semua tentu mengetahui hal itu sejak di bangku SD. Namun, tak hanya ragam bahasa daerah, cara menuturkan bahasa Indonesia saja kita sudah berbeda, entah soal pelafalan, dialek atau logat, termasuk pengunaan isttilah-istilah yang ganjil.

Sebut saja kata "palak" di Medan. "Palak kali awak. Masa awak disebut sensitif dan mudah terangsang? Memangnya awak laki-laki macam apa?" curhat si Sudung di suatu senja kepada temannya, si Kiding.

Awalnya, bagi siapapun yang datang dari luar kota Medan, tepatnya dari luar Sumatera Utara akan bingung mendengar kalimat di atas. Bahkan bisa salah sangka sembari menduga-duga kalau orang Medan itu semuanya tukang palak (tukang kompas, perampok secara paksa).

Walaupun ada juga sih yang doyan malak, seperti di Kampung Rambutan, Tanah Abang, Senen dan Bekasi sana. Tapi itu tak ada hubungannya dengan kata "palak" tadi. Hampir pasti orang asal Medan yang suka "memalak" itu pasti orang Medan yang gagal paham arti kata palak. ha ha ha...

Bagaimana tidak. Kata "palak" yang dimaksud orang Medan adalah kesal atau marah. 

palak kali punKata ini bahkan sudah diserap dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dalam KBBI kata palak juga berarti panas hati; marah; merasa benci; kesal. Seperti dalam curhatnya si Sudung tadi, "palak kali awak..." (aku sangat marah).

Sekali lagi, keragaman bahasa dan budaya sangat memperkaya bangsa ini. Ini baru tentang kata palak yang lazim digunakan orang Medan. Belum lagi kata-kata lain yang juga terdengar ganjil di telinga orang diluar Sumatera Utara.

Bila Anda suka berjalan-jalan keliling Indonesia, dan bukan cuma terobsesi jalan-jalan ke negara orang, maka Anda akan tahu bahwa kekayaan kultur dan keindahan alam di negara tercinta ini sungguh tiada tandingannya.
Keragaman budaya, khsusunya bahasa dan dialeknya, ditambah lagi cara melafalkan dan dialeg atau penggunaaan istilah baru (neologi) dalam bahasa pesatuan kita,m Bahasa Indonesia.

Maka tak heran bila ada orang yang mengatakan bahwa keragaman ini seharusnya akan mempermudah orang Indonesia memahami atau belajar bahasa asing. Sebab, kita sudah terbiasa dengan beragam bahasa dan sejauh ini satu sama lain masih saling mengerti.

Namun, pada kenyataannya, keragaman bahasa daerah dan pemakaian istilah-istilah ini justru tak jarang mempersulit orang Indoensia belajar bahasa asing, khususnya bahasa Inggris dan bahasa Mandarin. Mengapa?

Bisa jadi karena otak kita sudah terlalu penuh dengan banyak bahasa daerah dan istilah-istilah lokal hingga tak tersisa lagi tempat di otak kita untuk belajar bahasa asing. Praktisnya begini, di saat menterjemahkan bahasa asing seperti bahasa Inggris, misalnya, orang Medan meras perlu menterjemahkannya kedalam dua bahasa: bahasa Indonesia versi Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dan bahasa Indonesia versi dialek, logat dan penggunaan istilah-istilah lokal.

Maka kalimat,"I'm annoyed with you" oleh orang Medan akan ditermejahkan dua kali: (1) aku sangat jengkel padamu (EYD), dan (2) "Palak kali awak sama kau" (Bahasa Indonesia versi Medan). Setuju atau tidak, namanya juga menduga, bisa jadi kebiasaan inilah yang menyebabkan kita, orang Indonesia sering mengalamai kesulitan saat belajar bahasa asing, terutama bahasa internasional, bahasa Inggris. 

Anda mengalaminya? Meminjam kalimat Anang Hermansyah, "Kalo aku sih yes!" Kamu?

Palak kali awak !

Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter