Ad Unit (Iklan) BIG

Hagabeon-Hamoraon-Hasangapon Plus Hasadaon

Posting Komentar

Semua harus dibagi. Kekayaan, kehormatan dan kesuksesan itu harus diperlakukan seperti jaring atau jala ikan, yang harus membawa serta orang-orang terdekat, terutama kerabatnya dari pihak dongan tubu, boru dan hula-hula. Hanya saja, konsep ini tak sesuai dengan konsep bisnis modern. Cara seperti ini tak mungkin berjalan dalam konsep kapitalisme barat yang sudah kadung kita anut.

Masa aku yang capek, saudaraku sendiri yang menikmati? Masak aku sudah jumpalitan mencari uang tapi harus membangun rumah buat orangtuaku atau mendirikan tugu yang menjulang tinggi untuk leluhurku? Sungguh tak mungkin. Ini melawan hukum berat massa-nya Joule, mengesampingkan unsur invisible hand-nya Adam Smith, bahkan menuntaskan habis seluruh tahapan kebutuhan manusia sebagaimana pernah dicatat oleh Mashlow.

Selain melawan berbagai traktat dan hukum bisnis kapitalisme modern, cita-cita orang Batak tadi juga terlihat sangat utopis. Ya, sebab dalam konsep ekonomi masyarakat Batak tak jelas apa sebetulnya yang menjadi kriteria seseorang dikatakan sukses, terhormat dan kaya. Itu berarti, Luhut Binsar Panjaitan atau Ny. GM Panggabean boleh kaya raya versi hitung-hitungan bisnis kapitalisme, tetapi belum tentu kaya dalam mengekspresikan hidupnya sebagai seorang Batak, bukan?

Semuanya tergantung pada niat seseorang untuk membantu atau tidak membantu saudara-saudarinya, Sebab begitu Anda peduli dan hobi membantu anggota keluarga Anda, maka terutama sesama Batak maka ia pun secara otomatis akan dipuja dan dipuji sebagai orang Batak yang ideal, "Songoni do jolma nahasea" (Dia itulah orang yang sungguh sukses). Ya, dialah orang Batak yang orisinal itu.

Psikososial orang Batak seperti ini semestinya cocok diterapkan dalam sebuah negara dengan konsep sosialis a la Tiongkok atau negara monarki a la Kerajaan Arab Saudi yang dikuasai oleh segelintir Emir yang juga terbiasa memanjakan rakyatnya.

Konsep Tri Cita-cita masyarakat Batak di atas tak akan cocok di negeri ini. Kendati demikian, konsep ini mungkin saja diterapkan di desa kecil dengan penduduk sekitar 100 KK, dan tak memiliki akses ke dunia luar. Sebaliknya, di daerah perkotaan, prinsip-prinsip relasi dalam masyarakat Batak di atas justru telah ditinggalkan oleh masyarakat Batak itu sendiri.

Jangankan soal Dalihan Na Tolu, bahasa Batak sendiri saja malah tak lama lagi akan segera punah. Lihatlah anak-anak muda Batak di Medan, Siantar dan di daerah lain, "Tak tau lagi awak cakap Batak. Please, translate-lah ke bahasa manusia, biar ngerti awak!"

Bukan saja soal tuntutan untuk saling berbagi hagabeon (kesuksesan), hamoraon (kekayaan) dan hasangapon (kehormatan), soal tata upacara atau "tata-perayaan Pesta Adat pun, banyak orang Batak malah tak sepaham. Mereka nyaris "kesulitan" (bahkan sampai berdebat) menetapkan ritus adat mana yang susuai pakem.

Pendek kata, semakin hari, seiring dengan era kemajuan teknologi komunikasi, masyarakat Batak pun semakin tak punya hasadaon (kesatuan). Seperti dalam permainan POKEMON GO, mana boru, dongan tubu, dan mana hula-hula bahkan telah bercampur-aduk, hingga posisinya sering semakin tak jelas (marsamburetan).

Tak heran bila jargon-jargon politik di setiap Pilkada bernuansa "Batak" pun semakin masyhur di Sumatera Utara: "Dang di Au, Dang di Ho, Tumagonan tu Halak" (Bukan untukku atau untukmu, lebih baik untuk orang lain saja). Jargon ini biasanya muncul saat calon dari kalangan Batak justru kalah di Pilkada, padahal pemilihnya mayoritas Batak.

Ini terjadi, tak lain karena semua marga berebutan "menyorong" perwakilan marga mereka, hingga suara masyarakat Batak pun terpecah dan terkooptasi berdasarkan punguan marga (kumpulan orang dari marga serumpun).

Begitulah gambaran masyarakat Batak saat ini, yang semakin hari semakin jauh dari hasadaon (kesatuan), sebagaimana dicanangkan oleh leluhur kita. Sebaliknya mereka lebih suka hasegaon (kerusakan, kekacauan). Hasadaon (kesatuan) sendiri malah tidak dianggap sebagai sebuah cita-cita Bangso Batak, karena hasadon itu diandaikan telah melekat erat dalam kehidupan sosial mereka.

Beberapa orang Batak yang berpikir kritis pun lantas bertanya:
  • Apakah (hagabeon, hamoraon, dan hasangapon) itu harus diraih secara bersamaan?
  • Bisakah diandaikan bahwa meraih salah satunya berarti telah meraih ketiganya?
  • Apakah antara unsur yang satu dan unsur lainnya itu saling mensyaratkan, misalnya, apakah dengan mendapatkan kehormatan seseorang secara otomatis akan dikatakan kaya dan sukses, dan sebaliknya dengan menjadi kaya seseorang otomatis akan sukses dan terhormat?
Saya bukan budayawan yang ahli Batak, apalagi sekelas batakologi sehebring Mgr. Dr. Anicetus Bongsu Sinaga, OFM Cap atau para batakolog terdahulu seperti Niessen, Vergowen, dst. Namun, sejauh saya tahu, ketiga cita-cita hidup di atas justru harus digapai secara terpisah. Artinya, Anda tak tak lantas menjadi seorang terhormat hanya karena Anda sudah kaya dan sukses (dalam bisnis, misalnya).

Sejauh saya ketahui, tri cita-cita ini pun erat terkait dengan Dalihan Na Tolu yang melambangkan kesatuan semesta dalam falsafah Batak:
  • Dunia Atas nan putih sebagai melambangkan relasi manusia dan Allah (dilambangkan sebagai bubungan/atap rumah),
  • Dunia Tengah nan merah sebagai lambang kehidupan sosial atau relasi antar-manusia (dilambangkan sebagai jabu/ruma atau bagian utama rumah yang dihuni), dan
  • Dunia Bawah nan hitam yang identik dengan dunia kematian, wahana di mana manusia tak lagi hidup dalam tubuhnya, atau tempat di mana mahluk hidup lain selain manusia berada (disimbolkan dengan tombara yang biasanya difungsikan sebagai tempat binatang peliharaan dalam konsep rumah panggung Batak).
Demikianlah ketiga cita-cita itu harus dijabarkan dalam konteks Dalihan Na Tolu dalam pemahaman yang luas dan secara lugas tampil dalam upacara perkawinan adat. Disana terjalin hubungan tak terpisahkan antara hula-hula (keluarga dari pihak ibu), boru (keluarga dari saudara perempuan pihak laki-laki), dan dongan tubu (saudara laki-laki dari pihak laki-laki sendiri / biasanya sebagai penyelenggara pesta).

Ketika Hagabeon-Hamoraon-Hasangapon Minus Hasadaon
Ilustrasi: Radja Nainggolan - atlit Sepakbola Klub AS Roma

Bila mengacu pada risalah kuno tentang relasi kekerabatan sosial masyarakat Batak, maka Tri Cita-cita b .ini tak mungkin dapat dicapai seseorang secara serentak, apalagi hanya oleh sesorang. Baik kekayaan, kesuksesan maupun kehormatan biasanya diraih seseorang dalam perjuangannya menjalin "relasi vertikal dengan sang pencipta (Mulajadi Nabolon) dan relasi horisontal dengan sesama (tu sude jolma)", sebagaimana digambarkan dalam Dalihan Natolu tersebut..

Artinya, tak mungkin ada seorang Batak yang kaya secara personal, sebagaimana juga ia tak boleh menjadi pemilik tunggal dari seluruh hartanya, termasuk segala bentuk kekayaan yang telah ia kumpulkan sendiri. Demikian juga kehormatan seseorang takkan ada artinya bila ia tak patuh pada relasi vertikal dan horisontal tadi tadi.

Dalam persepsi inilah orang Batak suka menitip "anggota" keluarganya (ito/abang, anak/pahompu, entah itu dari pihak Dongan Tubu, Boru maupun dari pihak hula-hula) kepada saudaranya yang sudah lebih dulu "sukses". Praktik seperti ini hanyalah satu sisi dari "iman" masyarakat Batak, yakni ketika seseorang telah kaya, sukses, dan terhormat, maka ia punya kewajiban untuk membaginya kepada sanak familinya.

Tidak boleh tidak! Tak boleh seorang Batak sukses sendirian, apalagi memiliki harta hingga 600 milyar seperti Luhut Binsar Panjaitan; juga tak boleh seseorang punya museum agung seperti TB Silalahi; bahkan seorang Batak itu tak boleh terkenal sendirian sebagaimana dilakoni beberapa "Batak Dalle" (orang Batak yang lupa pada asal-muasalnya). Tak hanya yang Batak ori, orang Batak KW seperti Radja Nainggolan pun seharusnya tak boleh melenggang sukses sendirian sebagai pemain sepak bola Eropa.

Akhir kata, seluruh kesuksesian tak mungkin kita rahi hanya dengan mengandalkan kekuatan kita sendiri. Selain doa dan upaya terus menerus yang kita lakukan secara personal, hamoraon, hasangapon dan hagabeon pada akhirnya dapat diperoleh bila orang-orang Batak mampu bekerjasama dengan apa pun yang melekat pada tubuh mereka.


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter