Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Mengunyah Ide, Melentikkan Jari!

“Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”. [Imam Al-Ghazali]
“Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri”. [J.K. Rowling]

“Usahakan menulis setiap hari. Niscaya, kulit anda akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaat yang luar biasa”. [Fatimah Mernissi]


TULISAN ini tidak bermaksud untuk mengajari pembaca menulis sebuah buku, apalagi bermaksud menjadi motivator menulis. Sama sekali tidak! 

Lebih sederhana dari itu, tulisan ini berupaya membagi pengalaman tentang proses menulis sebuah karya tulis. Jika Anda bermaksud mencari kaidah dan strategi menulis buku agar menjadi penulis terkenal, hebat, kesohor, dan sejenisnya, maaf, sebaiknya 

Anda tidak perlu meneruskan membaca tulisan ini. Namun, jika Anda bermaksud mencari inspirasi dan belajar dari kesalahan atau keburukan saya dalam menulis atau menciptaka karya tulis, silakan Anda melanjutkan membaca tulisan ini.

Saya ingin berbagi pengalaman di dunia kepenulisan. Meskipun pengalaman saya ini bukanlah pengalaman penulis terkenal yang kesohor, sepertinya tidak ada salahnya jika dibagikan ke orang lain. 

Sebab, sejatinya, saya memulai menulis karena motovasi dari seorang penulis legendaris, fenomenal, dan sedikit “sakral” yaitu Imam al-Ghazali sebagaimana yang saya kutip di atas. Tentu saja, ketika saya menulis, saya punya harapan untuk menjadi terkenal, ulama besar, intelektual kesohor, dan seterusnya karena saya tumbuh di lingkungan terpencil. 

Minimal, saya ingin terkenal dikalangan keluarga, di kalangan teman sekelas, se-sekolahan, se-kampus, se-kampung, atau bahkan seantero jagad dunia antahbrantah. Tapi ya memang benar ucapan al-Ghazali ini.

Sewaktu di bangku SMA tahun 2002 di Malang, pertama kali saya berhasrat menulis karena membaca buku-buku karya orang-orang besar. 

Sebut saja novel PASAR karya Kuntowijoyo, Anak Bajang Menggiring Angin karya Sindhunata, novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, buku Sejarah Tuhan dan Muhammad karya Karen Amstrong, dan beberapa buku lainnya berusaha saya baca dan pahami maksudnya. 

Dari situlah hasrat menjadi itu muncul. Saya ingin seperti Kuntowijoyo, ingin seperti Sindhunata, ingin seperti Karen Amstrong, ingin seperti Ahmad Tohari dan seterusnya. Kenapa? Belakangan saya sadar bahwa para penulis tersebut telah meracuni kepala saya dengan ide-ide dan pikiran mereka lewat buku yang saya baca.

Pada saat yang sama, selama proses membaca, saya juga menuliskan apa yang ada dalam kepala ini ke sebuah catatan harian. Hasilnya, memang lumayan. Catatan harian tersebut menjadi goresan sejarah pribadi saya dalam kaitan dunia kepenulisan. 

Proses menulis itu ternyata secara bawah sadar melatih saya berdialog dan berdiskursus dengan ide sendiri. Seiring dengan perjalanan waktu, akhirnya saya bisa menentukan tulisan yang harus saya tulis untuk keperluan khusus atau keperluan tertentu.

Pada akhir tahun 2002, saya mencoba menggoreskan sebuah ide ke dalam sebuah karya tulis yang dilombakan. Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) bidang Kimia, namanya. Lomba ini diadakan se Kota-Kabupaten Malang oleh Diknas Malang. 

Tidak dinyana dan diduga, eh, ternayata ide saya lewat karya tulis tersebut diapresiasi dan diberi penghargaan sebagai juara kedua, dan juara pertama tidak ada yang memenuhi kualifikasi. Ah, saya lalu berpikir bahwa memang ide itu harus ditulis. 

Hal ini menggugah dan menggelitik saya untuk menulis lagi untuk keperluan lomba esai se-Malang. Eh, ternyata tulisan saya diapresiasi lagi. Selanjutnya, eksperimen saya lakukan untuk lomba menulis karya ilmiah populer tingkat nasional tahun 2003, eh, ternyata lolos juga sebagai pemenang pertama.

Pengalaman tersebut secara gradual menyadarkan saya bahwa ternyata bidang saya ada di situ: kira-kira seputar karya ilmiah dan spesialis lomba-lomba. Saya sudah mencoba menulis cerpen dan novel tapi satu pun tidak ada yang selesai. Ada beberapa yang selesai namun selalu ditolak oleh media manapun.

Pada jenjang S1, hoby saya itu berlanjut. Karena sudah sadar bahwa keahlian saya bukan di novel atau di cerpen, fokus perhatian saya pada tulis menulis tidak lepas dari masalah lomba karya tulis ilmiah. 

Praktis, tahun 2005 atau tepatnya pada semester awal, karya tulis saya kembali mendapat apresiasi dari Depdiknas kala itu. Ini terus berlanjut hingga sekarang atau pada jenjang kuliah di pascasarjana. 

Malah, baru saja tanggal 5 April 2013 ini, ide saya yang tertuang dalam sebuah proposal penelitian diapresiasi oleh Asian Muslim Action Network (AMAN), sebuah organisasi yang berbasis di Bangkok.


Sekelumit cerita di atas bukan bermaksud untuk membesarkan diri, namun ingin menekankan proses untuk mengetahui titik kelebihan yang musti ditemukan, disadari, dikembangkan dan diperdalam.

Nah, masuk pada masalah inti yaitu terkait proses penulisan buku saya ini, Teologi Bencana yang diterbitkan oleh Buku Pintal, sebenarnya juga tidak jauh dari apa yang saya ceritakan di atas. 

Dalam buku ini saya sudah menyinggung bahwa tulisan ini adalah pengembangan dari hasil penelitian yang, lagi-lagi, didanai oleh lembaga donor. Tentu saja ini menjadi motivasi utama agar buku yang berbasis pada riset ini segera selesai ditulis.

Namun, dibalik motivasi tersebut sebetulnya ada proses yang harus dilalui yaitu proses penulisan itu sendiri. Jangan dibayangkan atau bahkan diklaim bahwa ketika ada dana/biaya yang banyak tulisan akan pasti selesai. 

Bagi saya ini pemikiran yang kurang tepat. Sebab, masalah dunia menulis dalam bidang tertentu bukanlah masalah ketersediaan dana atau biaya melainkan keterlibatan atau involvement seseorang dalam bidang tersebut. 

Banyaknya dana tidak menjamin sebuah tulisan/laporan akan selesai dengan bagus. Proses melibatkan diri dalam dunia yang kita tulis inilah yang bagi saya menjadi ide pokok dari sebuah tulisan.


1. Menuliskan Ide Secara Mengalir Apa Adanya
Dalam pengalaman menulis buku Teologi Bencana ini, saya seringkali mengalami kemacetan dan kejumudan dalam ide. Namun, beruntung saya sudah punya pengalaman menulis diary atau catatan harian.

Dalam menulis, yang bagi saya penting adalah menuliskan segala sesuatu yang ada di kepala atau yang ditangkap oleh otak ke atas kertas/ke dalam hamparan Ms Word. Saya melibatkan diri dalam komunitas SANTANA yang saya teliti selama kurang lebih 3 bulan lamanya. 

Tentu saja ini tidak intens alias kadang juga saya pergi dan kembali lagi pada waktu yang tidak terlalu lama. Setiap saya berinteraksi dengan komunitas SANTANA, saya berusaha mencatat atau mengingat-ingat apa yang terkait dengan fokus perhatian penelitian saya.
Cara menulis apa yang saya temui, saya hadapi, saya rasakan, dan saya pikirkan itu sangat mudah. Tidak perlu mengais ide terlalu lama. Cukup menulis hasil pandangan mata atau pendengaran saja. Jangan dikira bahwa ini sulit. 

Aktifitas menulis seperti sangat mudah jika mau melakukannya. Sebagai contoh ketika saya bertemu dengan seorang informan anggota kelompok Santana yang berbicara tentang banjir, saya menulis apa adanya apa yang dia ceritakan. 

Jika kebetulan tidak membawa alat tulis atau perekam, saya cukup menulis ulang di malam harinya dengan ingatan saya. Contohnya adalah seperti di bawah ini.


Hari I, September 04, 2010.
Sebelum bergegas ke masjid menunaikan shalat luhur, seorang santri berjabat tangan dan bertanya tentang aktifitas saya. Lalu, di bercerita banyak tentang keterlibatannya di Santana. Namanya Rokim. Santri asal ngawi Jawa Timur. Dia pernah terlibat aktif dalam tanggap bencana di Laren Lamongan tahun 2008. 

Dia melakukan aksi tersebut atas ajakan gus-gus yang dipimpin langsung oleh gus Hafidh. Dia juga bercerita bahwa melakukan tindakan tanggap bencana merupakan praktik dari ajaran Islam untuk mengasihi sesama. 

Rokim menceritakan pengalaman ketika menolong korban banjir. Dia sangat bangga bisa menyelamatkan beberapa orang tua lansia yang tidak bersedia pindah dari rumah meskuipun rumahnya sudah diredam air banjir. 

Bersama santri lain, dia berhasil membujuk mereka untuk mengungsi sementara ke tenda. Andaikan lansia tidak dibawa ke tenda, Rokim yakin dia akan terendam banjir atau kelaparan karena rumahnya sulit dijangkau oleh perahu .

Contoh catatan tersebut adalah hasil dari pandangan mata, pendengaran dan ingatan saya dari pertemuan dengan Rokhim. Sangat sederhana untuk menulis seperti ini. Saya yakin, kita semua yang bisa nulis pasti bisa melakukannya. Ini adalah bagian dari cara saya menulis secara mengalir apa adanya. 

Ini juga yang menjadi jargon J.K. Rowling “Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri” sebagaimana telah saya kutip di atas. Dalam penelitian, ini menjadi data kunci dari sebuah riset.

Selain cara ini, saya juga menggunakan rekaman ketika berkomunikasi dan mencari data dari informan. Hasil dari rekaman kemudian saya transkrip pada malam harinya. Jika ada yang perlu ditanyakan kembali, maka besoknya saya menanyakan pada informan terkait. 

Cara ini juga manjadi data otentik. Kita bisa menulis apa yang diucap oleh informan sekaligus apa yang saya ucap sendiri. 

Banyak pelajaran menarik dari cara ini yaitu kita dapat mengetahui bahwa struktur gramatika bahasa lisan saya sangat tidak teratur, kacau dan berkelindan satu dengan lainnya. Begitu juga dengan informan. Melalui transkrip wawancara, saya bisa mulai menata bahasa lisan agar tidak terlalu kacau.


2. Membaca Tulisan Sendiri


Masalah yang sangat penting dalam hal tulis-menulis bagi saya adalah membaca tulisan sendiri. Setelah berhasil menuliskan ide dan isi kepala apa adanya, penting untuk membaca tulisan yang telah kita tulis. 

Dengan membaca tulisan kita sendiri, minimal kita akan mengetahui apakah ide yang kita miliki sudah sepenuhnya terangkum dalam tulisan.

Pada galibnya, kita ingin agar semua yang ada dalam kepala tertuang ke tulisan kita. Tapi harus disadari bahwa kita juga musti tetap terkonsentrasi atau fokus pada masalah yang kita bahas. 

Dengan aktifitas membaca tulisan sendiri minimal 2 sampai 3 kali. Kita akan memahami maksud tulisan kita sekaligus memahami kemampuan kita sendiri. Aktifitas membaca ini biasanya sangat efektif untuk memperbaiki tulisan dan menata ulang ide di dalamnya.

Dalam pengalaman saya ketika menulis buku Teologi Bencana, sebenarnya buku yang sudah tercetak itu telah mengalami proses editing lebih dari sepuluh kali. Ini memang cukup melelahkan. Di awal, mungkin saya hanya membaca satu sampai dua kali. 

Namun, karena ada orang lain yang membaca yaitu pembimbing saya, Ahimsa-Putra, maka tulisan yang sudah jadi pun acap kali harus dibongkar dan diperbaiki. Ini tentu cukup melelahkan namun karena saya merasa asik, lelah pun hilang. 

Harus diingat pula bahwa kasus saya ini adalah tulisan ilmiah yang memerlukan disiplin atau tertib tulisan yang ketat. Ini tentu akan berbeda dengan tulisan biasa atau non karya tulis ilmiah.


3. Berusaha Mengedit Tulisan


Sebagaimana yang telah saya singgung tadi, ketika kita selesai membaca atau bahkan bersamaan dengan aktifitas membaca, kita dapat melakukan aktifitas memperbaiki tulisan atau mengeditnya. 

Editing tulisan ini biasanya akan mengalir dengan sendirinya ketika kita menemukan ketidaksesuaian antara ide yang kita bangun dengan tulisan yang kita bikin. Atau, minimal editing ini terjadi dengan sendirinya ketika kita menemukan kesalahan penulisan dalam tulisan kita. 

Sebut saja misalnya ketika mau menulis kata “hukum” tiba-tiba tulisan kita jadi “hokum”. Persoalan kecil seperti ini seringkali sangat mengganggu dan memang harus diperbaiki atau diedit.

Aktifitas mengedit juga bukan sekadar memperbaiki kata per kata atau kalimat per kalimat. Lebih jauh dari itu, aktifitas editing perlu dilakukan untuk membubak atau menata ulang ide maupun pemikiran yang kita maksudkan. 

Sebagai contoh, ketika saya menulis bab empat, awalnya ide di bab tersebut belum ada. Setelah membaca literatur dan berdiskusi dengan pembimbing juga teman, akhirnya muncullah ide yang tertuang dalam bab empat tersebut. 

Ini karena memang terdorong oleh inspirasi dari luar, yaitu referensi yang saya baca atau diskusi teman, juga inspirasi dari dalam yaitu hasil tulisan saya setelah say abaca berulang dan saya edit.

(Sebuah Pengalaman Menulis Buku)
Kiriman: Subandri Simbolon
Penyunting: Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter