Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Cogito Ergo Sum

Cogito Ergo Sum
"Cogito ergo sum" atau dalam bahasa sehari-hari bisa diterjemahkan "aku ada karena bisa mikir" adalah nafas pemikiran Réné Desartes.

Dalam perkembangan ilmu Filsafat, semboyan di atas memang sering dipandang sebagai cara yang parsial dalam memahami eksistensi holistik manusia.

Namun demikian, hampir tak dapat dipungkiri bahwa pikiran manusia lah yang mengubah jaman demi jaman, era demi era, dan hari demi hari.

Banyak dari kita yang setuju dengan pandangan bahwa "setiap jaman punya pemikiran sendiri". Belum lagi anggapan bahwa konsep pemikiran itu selalu berubah dari waktu ke waktu.

Dulu, misalnya pemberontak dan para penganut pemikiran radikal sangatlah ditentang publik dan pemerintah. Tapi kini, pemikiran nyeleneh hinggal banal justru semakin menjamur hingga tak terkendali.

Dulu DII/TI, Permesta, RMS dst, di jaman awal kemerdekaan dipandang sebagai komplotan pemberontak oleh pemerintah Indonesia.

Teyapi, kini, FPI dan kelompok sejenis justru berkawan dengan instansi tertentu dari pemerintah.

Begitu juga di era Soekarno hingga Orba. Saat itu menghina pancasila dan UUD 1945 sama denfan memproklamirkan diri sebagai pemberontak yang siap ditembak mati. dipandang wajar, bahkan cagub yang pro mereka pun justru didukung sebagian warga.

Namun, kini semua orang atau kelompok justru seakan boleh bertindak apa saja atas nama Tuhan-nya, termasuk menghina para pahlawan, simbol negara, bahkan lagu-lagu bertema nasionalisme.

Aneh bukan? Apa jaman sedang terbalik? Tentu bukan. Pola pikir manusia lah yang semakin aneh dan ganjil.

Padahal, cogito ergo sum-nya Descartes tak boleh dilepaskan dari kemampuan logika sebagaimana terjadi hari-hari ini.

Sebaliknya pola pikir orang/kelompok yang radikal justru dibangun di atas logical fallacy atawa logika yang salah.

Di titik inilah logika berpikir itu sangat penting. Selain lewat proses pembelajaran di sekolah/universitas dan pergaulan dengan masyarakat sekitar, logika juga bisa dibangun lewat kesadaran diri yang tinggi.

Akhirnya, hanya orang yang bisa berpikir logis dan punya kesadaran diri tinggi lah yang mampu mengubah sejarah.

Makanya kalau disuruh sekolah ya sekolahlah. Kalau dikuliahkan, ya janganlah lebih banyak berdemo di jalanan. Juga saat bekerja, janganlah meracuni pikiranmu dengan logical fallacy, melainkan tetaplah menjaga identitas diri.


Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter