Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

"Dik, Apa Saya Tak Berhak Tinggal di Negeri Sendiri?"

Dik, Apa Saya Tak Berhak Tinggal di Negeri Sendiri
Aduh, dik. Rasanya belum seminggu aku mengeluh soal kerinduanku untuk sejenak ber-swa foto di bekas istna yang pernah kutinggali 10 tahun ( baca: http://bit.ly/2kG1dPj ), eh kemarin ini ada beberapa orang yang "demo" di depan ruma mewahku di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan ( baca:http://bit.ly/2kjXKVC )

Sebetulnya sih aku tahu bahwa demo itu hak rakyat. Itu telah kutegaskan dalam pidato politikku menjelang demo 411 tahun lalu. Tapi itu tak lantas berarti rakyat harus berdemo di kediaman mantan raja yang telah 10 tahun membuat mereka selalu prihatin.

Jadi, bukan tanpa alasan aku terus-menerus mengeluh di media sosial, terutama di akun Twitterku.
Pertama, seperti sudah pernah kusinggung, entah mengapa banyak pihak percaya bahwa akulah penyokong dana rencana makar 411 dan aksi superdamai 212.

Saat itu aku berkali-kali menyangkal. Tapi apa yang terjadi? Adik malah tetap sibuk bekerja tanpa mempedulikan doa berisi tuduhanku di akun twitterku.

Kedua, saat skenario penyingkiran teman sipitmu sedang berjalan lewat pengadilan "terencana", kau tak mengeluarkan dictum agar ia segera dibatalkan jadi calon pemimpin ibukota. Adik malah hanya diam . Tak hanya itu, mantan wakilmu di ibukot itu malah "seenak udel" membeberkan fakta bahwa aku pernah mengirimkan pesan lewat telepon kepada mantan penasihatku di MUI.

Semua warga yang punya televisi atau punya akun sosial pasti tahu bahwa aku telah mengeluhkan hal ini. Memang aku tak mengeluhkan isi percakapanku. Tentu karena pihak kompetitor anakku itu pasti sudah tahu.

Maka aku mencoba menggugat sisi lain, yakni bagaimana mungkin sahabatmu itu tahu kalau aku telepon. Itu makanya aku mengeluarkan jurus lamaku, yakni konferensi pers dan mengeluhkan keprihatinanku di media.

Jokowi tetap kerja dan Cuekin SBYApa adik tanggapi hal itu? Tidak. Persis ketika adik tak menerima pesanku agar adik mengundangku ke istana kerajaanmu. Kau menolak sembari menyindirku tak gentle, bahkan bak anak SD yang selalu mengadu kepada ayahnya saat berantem dengan adiknya.

Lalu, apa yang terjadi berikutnya justru membuatku tambah kecewa sebagai seniormu.

Lihatlah, sobat sipit itu justru perlahan-lahan merangkak naik dan dukungan semakin mengalir kepadanya. Sementara anakku secara meyakinkan justru semakin keok dan terlihat bloon saat debat.

Mungkin ini semacam karma-ku. Sebelum demo 411 tahun lalu aku menggulirkan pernyataan "Jangan sampai Ahok kebal hukum" dengan pengandaian bahwa hanya para mantan raja dan mantan ratu sajalah yang boleh kebal hukum.

Namun kenyataannya aku malah diserbu rakyatmu. Ya, rakyat yang dulu kusebut sebagai rakyatku itu. Mereka tak hanya menyerangku di media, tetapi juga berlarian meninggalkan putera kesayanganku dan mendekat ke mantan wakilmu tahun 2012-2014 itu.

Terakhir, aku mengeluhkan soal keberhasilan sobat akrabmu mempreteli permainanku dalam upaya memuluskan jalan anak sulungku di #PilkadaDKI2017, Ia tahu aku menelepon. Bahkan aku kuatir semua gerak-gerikku untuk menjatuhkannya justru telah dikeahuinya.

Maka aku cepat-cepat mengadakan jumpa pers untuk membuncah keprihatinanku, dengan harapan adik menonton/mendengar atau sekedar tahu lewat orang-orang dekat adik. Tapi apa yang terjadi? Adik malah tak menghiraukan permintaanku. Bukannya mencari pelaku penyadapan telepon atau menekan BIN yang menjadi intel resmi pemerintah.

Adik malah terkesan tak peduli dengan proses penyadapan isi percakapan "mesra"-ku dengan mantan watimpresku.

Sebaliknya, kepada awak media yang suka usil, adik malah bilang agar aku tanyakan saja langsung ke orang yang membongkarnya, dan bukan malah dikit-dikit lapor kepada raja.

Caramu memang diluar perkiraanku, dik. Kalau aku, di saat seperti ini biasanya langsung mengadakan jumpa pers dan dengan mimik sedih berhias kantong mata yang tebal akan mengatakan, "Sebagai orang nomor satu di negeri ini, saya sangat prihatin."

Sementara adik malah tak melakukan caraku. Belum lagi, curhatku di Twitter dan media sosial, tak sekalipun adik balas (reply) atau cuit ulang (retweet), atau sekedar berkirim rasa kangen (like) via pesan langsung (direct message) di Twitter.

Tanggapan adik juga sangat ringkas dan terkesan tak menghormati seniormu. "Jangan tanya ke saya. Tanya saja kepada mereka yang menggulirkan isi penyadapan itu."

Beneran loh, dik. Aku tak bisa menerima jawaban di atas dari seorang pemimpin menggantikan aku sejak tahun 2014 lalu. Padahal aku telah bilang berkali-kali kalau aku jauh lebih berpengalaman darimu. namun adik tak sekalipun mengikuti saran dan caraku, kecuali saat menghormat bendera saat upacara penaikan dan penuruan bendera.

Sungguh tak mudah bagiku menerima sikapmu itu, dik. Selama 10 tahun aku telah memerintah dan selama itu pula aku telah membangun pencitraan seorang pemimpin tertinggi negara, tetapai tak satu pun citra itu kau tampilkan dengan sempurna

Fakta yang terjadi justru sebaliknya. Tak hanya model pencitraan yang sirna, tetapi juga para pengikutmu semakin hari justru semakin berkurang.

Satu per satu dari mereka malah semakin menjauh. Sangkin kepengennya untuk menjauh, mereka pun akhirnya memilih "menikmati hidup" di hotel prodeo.

Itu sih enggak enggak masalah bagiku, dik. Toh mereka itu hanya pengikutku yang telah "mendapatkan bagiannya" dariku.

Namun, di sisi lain., aku sungguh tak bisa menerima fakta bahwa anak tercintaku itu justru semakin hari semakin grogi dan semakin sering kebablasan saat omong di depan umum dan gereja. Lihatlha anakku semakin sering mengumbar janji, termasuk janji yang tak masuk akal.

Akhir kata, aku tak bisa terima sikapmu itu, dik. Apalagi tawaranku untuk bertemu dan berbicang dengamu kau tolak dengan cara halus. Itu kekecewaanku yang pertama.

Kedua, saat aku memancing agar adik intervensi pengadilan sobat, adik malah cuek seakan tak mau peduli. Bahkan kudengar berkali-kali kalau adik tak akan mencampuri urusan pengadilan.

Sementara kekecewakan ketigaku adalah saat ada orang demo ke rumah mewahku. Aku sudah curhat lagi di Twitterku tentang betapa terganggunya aku dengan demo itu. Namun, adik sendiri belum ada pernyataan untuk membelaku sebagai seniormu.

Sebegitu jijik-kah adik samaku sehingga adik tak pernah menemuiku seperti para ketua partai, mantan presiden dan wakil presiden, atau saat adik sendiri malah selalu terlihat padu dan akrab dengan lawan abadiku, ibunya partai Banteng Moncong Putih itu?

Entahlah. Rasanya aku sudah mulai kehabisan langkah untuk memenangkan pertandingan ini. Anak kesayanganku justru semakin tak percaya diri. Bisa jadi ia tak akan mampu menerima kekalahan.

Tentu, sebagai seorang ayah, adik tahu betapa anakku akan sakit hati pada ayahnya karena janjinya untuk menjamin kemenangannya justru terkendala karena kecerdesan kalian berdua, ya adik sendiri dan mantan wakil adik di ibukota itu. Belum lagi karirnya telah kuhentikan tiba-tiba.

Ah, adik memang jahat... jahat... jahat...
Adik tak pernah ngertiin perasaan mas-mu ini.


Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter