Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Bekasi "In Between"

bekasi in between
Dokumentasi: Internet
Posisi "in between" (di antara) memang tidak enak. Ini seperti baik tapi enggak baik. Atau seperti orang jahat tapi sebetulnya bukan orang jahat.

Dalam termionologi masyarakat Batak ada istilah "i holang-holang na" yang artinya sama dengan in between tadi.

Bahasa politiknya status quo, suatu keadaan di mana situasi yang tidak jelas dibiarkan karena menguntungkan si penguasa.

Apa pun istilahnya, segala sesuatu yang berada dalama posisi "di antara" itu pasti tidak enak. Dalam bahasa para motivator handal, ini adalah posisi abu-abu (grey area) yang tak jelas memihak siapa, pun tak jelas menolak siapa.

Kota Bekasi ini ada di antara dua kota besar, Jakarta sebagai ibukota dan Bandung sebagai pusat mode. Maka wajar bila orang Bekasi kadang seperti orang Jakarta berkelindan dengan kekuasaan, tetapi juga merasa orang Bandung yang selalu awas menjaga penampilan.

Secara kultur, Bekasi juga menjadi rada mirip Jakarta yang dihuni berbagai suku. Tetapi juga harus disadari, orang-orang yang kini tinggal di Bekasi adalah orang yang sejak awal berhasrat tinggal di ibukota.

Baca: Keindahan Kota Bekasi

Tahun 2001, sebagai mahasiswa FF Unpar, saya bersama beberapa teman mahasiswa live in di Bekasi, tepatnya di Perumahan Kemang Pratama. Ini komplek perumahan elit saat itu, tetapi berada di perkampungan masyarakat. Antara komplek dan perkampungan, seperti biasa dibatasi pagar.

Menilik istilah beberapa Comic a la Stand Up, Bekasi itu adalah "Jakarta coret", karena sebagian warganya kerja dan mencari nafkah di Jakarta tetapi tinggal di Bekasi. Memang banyak persoalan urban yang ganjil yang terjadi di Bekasi. Seakan-akan begini. Banyak dari warga Bekasi dulunya orang yang ingin merantau ke Jakarta. Tetapi kegagalan di ibukota menjadikannya harus menyingkir ke pinggiran.

Ini seperti Tanjung Morawa, Tanjung Selamat, Tembung, atau Pancur Batu di Kota Medan. Mereka ada di perbatasan peradaban, antara desa dan kota, tetapi serentak mereka lebih nyaman disebut sebagai orang Kota Medan. Demikian juga dengan Bekasi yang sejak awal hingga kini adalah pusat industri, tepatnya sebabai tempatnya pabrik-pabrik berdiri megah degan deretan gudang penampung produknya.

Terakhir saya ke Bekasi pada tanggal 9-10 Desember 2016 lalu, tepatnya ke Cikarang, Kabupaten Bekasi, tempatnya 3 group perusahaan Toyota berada. Saya sempat juga jalan-jalan sekitar Kota Bekasi. Ya, banyak kemajuan infrastruktur di sana.

Baca: Tempat Wisata di Bekasi 

Bidang properti bahkan sangat menjanjikan. Perumahan elit semakin banyak, demikian juga sekolah berasrama (boarding school), Rumah sakit bertaraf dan bertarif internasional, bahkan juga dihiasa upermal-supermall yang penuh gemerlap warna lampunya.

Tapi bila Anda berjalan ke pinggiran bekasi, tepatnya di wilayah kabupaten Bekasi, maka Anda akan menjumpai perkampungan yang bahkan kumuh. Anehnya perkampungan itu sering bertetangga dengan perumahan elit. Memang kondisi itu sepintas memajukan perabadan mereka. Ya, minimal lebih mudah searching map di mbah Google.

Dengan tata ruang kota yang amburadul, Bekasi pun sering menjadi tempat persembunyian para gang narkoba, pembunuh bayaran, bahkan para teroris. Di kota inilah terjadi konflik SARA banyak terjadi. Percampuran kultur dan religi ternyata tak bisa sebening Juice Martabe ala Medan, yang menyatukan markisa dan terong belanda dalam satu rasa nikmat.

Di Bekasi identifikasi sering menjadi persoalan. Orang Sunda dan Betawi yang mungkin lebih lama tinggal di sana mengidentifikasi diri sebagai orang asli dan umumnya masih bertani. Di sisi lain, orang Batak, Tionghoa, Ambon, Flores, Manado, Jawa, Aceh, Makassar, Padang, dan sebagainya juga tak mau kalah dan mengatakan diri sebagai "warga Jakarta yang tinggal di Bekasi"

Baca: Orang Batak di Bekasi

intoleransi di bekasi
Dokumentasi: Internet
Pertumbuhan penduduk yang tinggi menjadikan konflik dan pergesekan sosial antar kelompok suku dan agama semakin tak terhindarkan.

Uang. Uang. Uang...Ya, uang adalah sumber konflik itu. Faktanya, para pendatang itu biasanya jauh lebih 'berhasil' dari orang lokal.

Begitu juga para perantau yang datang ke Bekasi, secara ekonomi memang mengungguli orang lokal. Ini juga memengaruhi konstelasi politik. Siapa yang berkuasa dan bagaimana memainkan kekuasaan itu. Kata orang Batak yang selalu lolos dari tilang Polisi Bekasi, "Hepeng do mangatur negara on."

Bisnis pendatang semakin berkembang hingga mendatangkan banyak inverstor, baik dari Jakarta, Bandung dan beberapa kota lain. Mereka pun membangun beberapa pabrik di sana dan karyawannya banyak dari Jawa Tengah, Jawa Timur dan sebagian dari Sumatera Utara dan Flores.


Bersamaan dengan itu lahirlah pemukiman baru, blok-blok baru yang dikapling para pengembang. Permuhan kelas cluster hingga beverly hills pun mulai menjamur. Aneh bin ajaib, mereka tergolong sangat mudah mendapatkan izin dan hampir selalu mendapat lahan yang luas. Cluster, regenzy, entah apa saja nama level perumahan tadi, lama kelamaan semakin menutupi perkampungan dengan tembok-tembok angkuh mereka.

Ketika orang-orang di dalam pagar sedang menikmati hidup dengan pesta, orang diseberang tembok lain justru sedang sibuk memikirkan apa yang bisa mereka makan besok.

Nyatanya kelas sosial tadi juga memengaruhi cara orang menjalankan kewajiban agamanya. Mesjid, gereja, pure atau vihara yang berdiri megah ditengah perumah elite, ternyata tak boleh sembarangan digunakan oleh masyarakat diluar komplek. Padahal mereka juga Islam, Kristen, Budha, Hindu, bahkan Khong Hu Tsu.

Konstelasi ekonomi-sosial ini tak terhindarkan. Pengkotak-kotakan diri masyarakat berdasarkan status ekonomi pun lamat-lamat dalam waktu secepat kilat akan melahirkan konflik sosial.


Gereja Katolik adalah korban paling empuk. Bagaimana tidak, gereja Katolik tak pernah membangun sebuah gereja hanya untuk kaum elit, atau hanya untuk kaum miskin.

Baca: IMB sudah Dikantongi Gereja St. Clara Belasi

intoleransi di bekasi
Dokumentasi: Internet
Pembangunan Gereja, di mana pun letaknya, harus disesuaikan dengan pembagian wilayah yang ditentukan oleh Pemimpin Gereja itu sendiri.

Misalnya, Gereja St. Klara Bekasi mengunduk ke propinsi gerejani, Keuskupan Jakarta, bukan Bandung atau Bogor. Tetapi sebagian wilayah bekasi menginduk ke Keuskupan Bogor, dst.

Artinya, pembangunan Gereja Katolik tak serta merta karena adanya fasilitas dari Pengembang proverti. Walaupun de facto, karena sulitnya mendapat tanah, pihak keuskupan sering mencari jalan keluar dengan bersinergi dengan pihak Pengembang tadi.

Namun, Anda juga harus tahu kalau Gereja St. Arnoldus Bekasi itu berada tak jauh dari terminal bus bekasi. Gereja ini berada di tengah hiruk pikuk kota. Nah, karena begitu sulit mendapatkan izin dari penguasa Bekasi, termasuk di tingkat propinsi Jawa Barat, maka jumlah gereja pun dibatasi.

Namun, mengingat pertumbuhan jumlah umat Katolik semakin meningkat, maka sesuai undang-undang, mereka juga berhak menjalankan ibadah sesuai agamanya.

Gereja mengambil jalan tengah. Jalan tengah ini sebetulnya juga menyusahkan umat. Bagaimana tidak, satu gedung Gereja (paroki) sering diperuntukkan bagi umat berjarak puluhan kilometer dari rumahnya.

Baca: Walikota Bekasi yang Toleran

Jadi, sangat masuk akal ketika gereja yang dibangun selalu lebih besar. Walaupun sebetulnya, melihat jumlah umat dan jarak tempuh untuk beribadah harus dibangung 3 atau 5 gereja. Namun, karena perizinan yang sulit, juga karena masyarakat sekitar yang telah menjadi korban kemajuan Bekasi tadi, maka dibangunlah stau gereja yang besar.

Di titik inilah penolakan terhadap pembangunan gereja sering dilihat sebagai persoalan ukuran gereja, dan bukan pada fungsinya. Artinya, ada juga jalan keluar lain untuk mengatasi tuntutan segelintir orang sekitar ini. Misalnya penguasa Bekasi membuat instruksi, "Udah bangun saja beberapa gereja yang lebih kecil. Soalnya karena satu, kelihatannya gereja kalian akan terlihat besar."

Ya, beginilah kondisi Bekasi saat ini, kota/kabupaten yang berada pada posisi "in between": lebih maju mungkin iya, tetapi pemikiran lebih primitif juga bukan.

Baca: Warga Muslim Tak Persoalkan Pembangunan Gereja Bekasi

Solusinya apa? Berbagi rezekilah kepada mereka yang miskin dan membutuhkan. Sebab, itulah gerejamu yang sesungguhnya. Ibarat seorang pemuda yang menyelamatkan nyawa seorang gadis, selalu ada kemungkinan si gadis akan menyerahkan dirinya kepada si pemuda.

Demikian juga umat St. Clara Bekasi, berbagi kebaikanlah kepada masyarakat sekitar, terutama mereka yang tinggal di daerah kumuh di sekitar tempat tinggalmu. Niscaya mereka sendiri yang akan bergotong royong membangun gereja untukmu.

Kalau masih ditentang, berarti perbuatan baikmu belum cukup. Kalau Yesus berkata, "Aku hadir dalam penderitaan orang miskin dan terpenjara", maka saat ini, Yesus pun berpesan ke umat Katolik di seantero Bekasi, "Aku hadir di antara orang-orang Bekasi yang hidupnya berada "di antara", di wilayah abu-abu."


Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

2 komentar

Posting Komentar

Komentar via email ke [email protected]






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter