Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Pekerja Tetap vs Tetap Bekerja

Pekerja Tetap vs Tetap Bekerja
Ilustrasi: Lusius Sinurat
Ketika seorang pejabat publik ditanya "Apa kerjaan tetapmu?" maka ia harus hati-hati menjawab.

Bila ia mengatakan pekerjaan tetapnya adalah gubernur, maka warga yang dipimpinnya bisa berasumsi kalau ia memang sengaja mencari uang sebanyak-banyaknya selama 5 tahun menjabat gubernur.

Bila ia mengatakan perkejaan tetapnya adalah pengusaha kelapa sawit dan ingin menjadi bupati, maka warga yang mendengarnya akan mengambil kesimpulan, "Pantesan aja dia ngotot jadi gubernur. Biasa deh, biar lanjar bisnis sawitnya."

Apa pekerjaan tetap Anda? Apakah presiden, gubernur, bupati/walikota hingga kepala desa itu dapat dikatakan pekerjaan tetap?

Bisa ya, tetapi juga bisa tidak.

YA,
karena undang-undang mengatakan bahwa seorang pejabat publik seperti presiden, gubernur, walikota dan bupati harus melepaskan diri dari pekerjaan sebelumnya. Bila ia pengusaha dan selama ini menjadi Presiden Direktur di perusahaannya, maka ia harus meninggalkan jabatan tadi bila ia terpilih jadi presiden, gubernur, bupati atau walikota.

Katanya ini demi menghindari konflik kepentingan atau tarik-menarik antara kepentingan negara dan kepentingan pribadinya.

TIDAK. karena menjadi pejabat publik biasanya hanya sebentar. Ia hanya dapat jatah "kerja" selama 5 tahun. Bisa lebih hingga 10 tahun. Tapi itu tergantung rakyat mau memilih atau tidak memilihnya.

Dalam konteks pesta demokrasi, pertanyaan yang menyeruak dari publik pun tak jauh dari ranah "pekerjaan" tadi. Kepada calon pemimpin misalnya, orang akan bertanya, "Wah, kasihan dia. Udah capek-capek jadi calon, kalah pula. Udah gitu uangnya habis pula. Belum lagi ia telah kehilangan pekerjaan. Ntar dia mau kerja apa?"

Atau pertanyaan kepada calon yang sekaligus juga petahana: "Sepanjang 5 tahun ini dia sudah hidup sebagai pejabat yang kaya dengan penghasilan di atas rata-rata. Kerjaannya juga gampang. Cuma perintah sana perintah sini, tandatangan sana dan tandatangan sini, beres. Uang masuk banyak. Kira-kira apa kerjaannya ntar kalau dia kalah dan tak menjabat lagi? Kalau pun kerja dia pasti tak mendapat gaji sebanyak yang ia dapatkan saat jadi pejabat."

***
Pertanyaan ini menjadi sangat penting, karena banyak orang salah memahami apa perbedaan "pekerjaan tetap" dengan "tetap bekerja". Sayangnya, dunia yang kini digerakkan kaum kapitalis sudah terlanjur mengatakan bahwa "seseorang dikatakan punya pekerjaan tetap" justru ketika ia mendapat sejumlah gaji yang jumlahnya tetap.

Akibatnya, orang yang berebutan mencari pekerjaan tetap, bahkan ketika pekerjaan tersebut sebetulnya tak tepat untuknya, "Apa saja aku pasti kerjakan, mas. Yang penting kerjaan itu tetap saupaya ada pemasukan yang tetap."

Padahal bukan memiliki pekerjaan tetap yang terutama dalam hidup ini. Sebab jauh lebih penting adalah ketika Anda masih tetap mampu bekerja.

Orang yang hanya fokus pada PEKERJAAN TETAP memang akan mendapatkan upah yang tetap, tetapi orang yang TETAP BEKERJA akan mendapatkan upah yang diterima oleh pekerja tetap yang hanya mengandalkan upa bulanan.

lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter