Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Cinta Membuncah Keberanian Hani

Cinta Membuncah Keberanian Hani
Ilustrasi: Koleksi Pribadi Lusius Sinurat
Aku teringat penuturan Hani, sahabatku paling tau aku luar dalam. 

Ia seorang ibu muda yang cantik di saat ini. Bahkan menurut penuturan teman-temannya, Hani termasuk gadis yang diminati oleh kaum adam saat masih SMA.

Ia memang tak menonjol dari segi prestasi. Bahkan beberapa teman dekatnya bilang kalau ia justru sering nyaris tidak naik kelas. 

Bodohkah Hani? Tidak juga. Ia hanya bandel. Ya, seperti kebanyakan gadis lain yang dibersarkan ditengah keluarga broken home.

Benar saja. Hani bertumbuh dalam kemiskinan. Konon katanya, saat masih SD ia harus berjualan kue buatan ibunya ke sekolah. Ibunya, Sumiati memang jago memasak kue. Minimal itu terbukti setiap kali kue jualan Hani selalu cepat ludes dibeli teman-temannya.

Sebetulnya sih keluarganya tak miskin amat. Ayahnya punya usaha jahit dan berpenghasila lumayan juga. Hanya saja, sebagaimana dituturkan Hani, sang ayah terlalu doyan buang-buang uang untuk kesenangannya, antara lain untuk berjudi dan menyenangkan perempuan lain.

Simon, ayahnya memang ganteng. Foto-foto mudanya yang dipajang di rumah Hani seakan membenarkan hal itu. Sayangnya ketampanannya itu justru dimaksimalkan untuk melanjutkan bakat playboy-nya. Padahal saat itu ia sudah menikah dan sudah punya 4 anak remaja.

"Bokap emang cakep pisan. Itu ibu-ibu di sekitar rumah mesti pada ngintip dan ngintil saat bokap keluar rumah. Beberapa tante-tante genit bahkan pernah bilang ke gue kalu mereka rela ninggalin suaminya asal bokap mau kawinin mereka ," kenang Hani saat berbincang denganku.

Sebenarnya Sumiati, ibunya juga tak kalah cantik kok. Hanya saja, setelah punya anak dan harus ikut pontang-panting cari duit akhrinya Sumiati tak sempat lagi mengurus dirinya.  Ini sangat kontras dengan Simon, suami Sumiati. Bila Simon selalu tampil parlente, Sumiati malah awut-awutan tak jelas.

Bahkan ketika di rumah sekalipun Simon selalu tampil rapih. Ia tak seperti ayah dari teman-temannya Hani, yang suka duduk di beranda rumah dengan kutangnya. Tidak. Simon selalu necis. Ia selalu pakai celana jeans dan kaos ketat. Dengan model rambut a la John F. Kennedy dan selalu tampil percaya diri.

"Lu bisa bayangin dong, gimana tante-tante pada doyan sama bokap gue. Sementara nyokap sendiri kusut coy. Tubuhnya bau kue dan wajah keriputnya tak pernah lagi dilapisi bedak seperti dulu. Boro-boro pake lisptik, bibirnya malah kering karena ketergantungannya sama rokok," Hani mencoba menggambarkan kepribadian ibunya saat ia masih kecil.

Sayangnya ketampanan ayahnya yang tak diikuti oleh penampilan ciamik dari ibunya. Ini justru membawa petaka bagi keluarga mereka. 

Simon diam-diam punya istri simpanan. Ini berarti waktunya untuk tidur di rumah semakin hari justru semakin berkurang. Ia harus berbagi waktu dan ranjang dengan istri mudanya, yang menurut Hani jauh lebih fresh dari ibunya, Sumiati.

*****

Dalam situasi inilah Hani dan 3 saudaranya yang lain dibesarkan. Bahkan akhirnya mereka harus tercerai berai karena ayah-ibunya akhirnya berpisah juga. Dua saudarnya ikut sang ayah, dan ia dan kakaknya ikut ibunya.

Kehidupan Hani pun mulai berantakan. Di masa remajanya, ia bertumbuh nyaris tanpa kasih sayang seorang ayah. Di sisi lain, ibunya sangat sibuk mencari nafkah dan mendidik mereka dengan sangat keras. Tak heran ketika ia dan kakaknya tak sempat mengalami masa-masa indah bersama sang ibu.

Hani dan kakaknya di satu sisi sangat mencintai ibunya. Tapi di sisi lain, Hani justru tak suka dengan ibunya yang selalu menceritakan kejelekan ayahnya. Secara tak sadar, karena saban hari diceritakan tentang kejahatan ayahnya, di hatinya pun muncul pemberontakan terhadap kaum lelaki.

Ada semacam dendam dalam dirinya kepada kaum pria; dan itu tak lain karena dogma sang ibu. Dio sekolah, saat masih SMP ia sudah mulai menjalankan beberapa taktik untuk menaklukkan kaum pria. Dengan modal kecantikan yang ia punya, ia bahkan tak kesulitan mempermainkan anak lelaki lain. 

Banyak cowok di sekolahnya yang jadi korban. Ia bisa gonta-ganti pacar dalam sebulan, bahkan dalam waktu tiga hari. Hani seakan tahu bahwa di usia remaja, kecantikan adalah modal utama menggait cowok.

Tak hanya saat masih SMP, Hani bahkan meneruskan kebiasaannya gonta-ganti pacar hingga SMA. Beberapa pria bahkan sampai stres dibuatnya. Ada satu cowok yang sangat menyukainya bahkan menebar gosip di sekolahnya, bahwa Hani sudah tak perawan lagi, karena sudah beberapa kali melakukan hubungan suami istri dengannya.

Kalapkah Hani dengan isu itu? Tidak. Ia justru senang menjadi rebutan. Kemampuannya menata kata-kata dan penampilannya yang selalu prima justru membuat cowok lain semakin berdatangan. Hani ini jinak-jinak merpati. Ia selalu menarik ulur untuk "jadian" dengan cowok. Ia bahkan sesukanya memutuskan pacarnya secara tiba-tiba dan diluar dugaan. 

Keberhasilan nya itu sangat ia nikmati. Ia puas dan selalu membayangkan wajah ayahnya yang telah menyakiti hati ibunya. Hani seperti membalas rasa sakit hati ibunya kepada ayahnya saat ia dengan seenaknya memutuskan pacarnya atau ketika ia gonta-ganti pacar sesukanya. 

Hani memang selalu menjadikan dirinya sangat mahal, tetapi dengan pendekatan alam merpati yang jinak di awal tapi terbang kemudian. Hanya saja ia tak menyadari bahwa kebiasaannya itu telah menyita banyak waktunya. Hingga sekolahnya berantakan. 

Saat SMP nilai di rapor-nya bahkan banyak merah. Tak hanya itu, sejak SMP hingga SMA ia sering nyaris tinggal kelas. Bahkan ketika SMA ia harus "napi"alias naik-pindah ke sekolah lain karena tak naik kelas. 

Selain karena keadaan ekonomi ibunya yang saat itu sangat minim, persoalan lain juga memicu rendahnya semangat Hani untuk sekolah. Bagaimana tidak, ia sering dilempar sana lempar sini oleh ibunya untuk memenuhi biaya sekolahnya. Ia harus meminta tolong kepada tantenya yang kaya untuk membantu biaya pendidikannya. Kendati lebih sering dicibir, Hani tetap tegar.

"Kebayang kalau enggak ada tante yang bantu. Bisa jadi gue gak bisa sekolah sampe SMA. Mana di sekolah Katolik lagi. Mahalnya minta ampun. Minimal bagi gue saat itu," kata Hani mengenang "kebaikan" tantenya.

Dari keluarganya yang lian juga Hani akhirnya bisa mengikuti kursus Bahasa Mandarin ke Beijing. Bisa jadi itu bukan tujuan hidupnya. Ia hanya ingin melarikan diri dari rumah, dari 'gelapnya dunia yang ia lihat di rumahnya'. Hanya belakangan ia berpikir bahwa Bahasa Mandarin itu juga sangat dibutuhkan di ngerinya. Maklum tahun 90-an belum banyak orang Indonesia bisa berbahasa Mandarin. 

Benar saja, tak lama setelah lulus kursus di Beining, ia bekerja sebagai penterjemah untuk beberapa pengusaha yang memang melakukan ekspansi bisnis hingga ke negeri Tirai Bambu sana. Berbagai kesepakatan antara perusahaannya dengan pengusaha asing pun tercipta berkat kemahirannya menjadi penterjemah. 

Karir Hani pun melejit dan gesit. Selain kemahirannya berbahasa Mandarin, seperti sudah ditururkan sebelumnya, Hani juga memang cantik. Ini menjadi alasan mengapa teman-temannya 'sirik' alias iri padanya. Belum lagi bosnya sangat dekat dengan dia, bahkan sering diajak kencan bareng di luar sana.

Diam-diam si bos menyukainya. Ia semakin sering diajak dalam pertemuan-pertemuan penting dengan pengusaha lain. Ia bahkan sering dipercaya menemani tamu dari luar negeri. Tentu saja Hani menyukai pekerjaan tambahan seperti itu. Ia selalu dapat tips disamping gajinya yang cukup lumayan.

Hingga dalam berbagai kesempatan ia harus ikutan berpesta dengan para bos tadi. Ia pun jadi terbiasa minum dan merokok. Behkan, dengan posisi dan beban kerjanya yang seringkali diluar waktu kerja normal turut membuatnya stres. Lagi, minuman dan rokok adalah obatnya. 

Ia bahkan ketagihan, hingga ia tak bisa melepaskan diri dari ketergantunannya pada minuman dan rokok. Apalagi disaat stress, ia pun mulai mencoba ganja sambil mabuk-mabukan di rumah. Kadang juga bersama teman-temannya di bar, diskotik bahkan di karaoke hotel. 

"Itu adalah masa kelam hidup gue. Ngisap ganja, mabok, bahkan nge-seks dengan teman-teman itu udah jadi hal biasa. Kalau ingat itu, gue jadi pengen muntah. Tapi mau gimana lagi, itulah yang terjadi dengan hidup gue. Itu masa lalu yang sebenarnya gak pengen gue ingat,' katanya dengan mata berkaca-kaca.

Dendamnya kepada kamu lelaki sepertinya tak pernah terpuaskan. Bahkan ketika ia telah berhasil mendapatkan banyak uang dengan kebiasaannya gonta-ganti pasangan. Demi uang yang berikutnya bisa ia gunakan untuk "teler" ia rela tidur dengan para pria buncit itu.

"Tapi sori. Gue bukan pelacur. Gue gak cari pelanggan. Gue yang dicari sama mereka. Lagian gue juga milih-milih waktu itu. Bahkan dengan teman-teman gue juga melakukannya atas dasar suka sama suka. Ya, buat nyenangin hati dan melepas lelah aja deh," tuturnya sembari menutup wajahnya karena merasa malu. 

Hingga suatu ketika ia harus menemani seorang pengusaha dari Vietnam. Dengan kemampuan bahasa Mandarin yang oke, ia pun selalu dimintain bosnya menemani sang tamu. Belakangan antara dia dan si pengusaha tadi terjalin kedekatan. 

Ia sadar bahwa sang pengusaha muda tadi tak mungkin serius berhubungan dengan dia. Walaupun kadangkala pikiran nakalnya juga timbul, yaitu pengen cari suami yang kaya raya. 

"Aku bahkan tak peduli dia udah tua atau jelek sekalipun. Yang penting statusnya jelas. Kalau duda ya udah resmi cerai atau lajang sudah jelas berapa penghasilannya," begitu pengakuan Hani mengenang masa lalunya.

Tapi di sisi lain, Hani sangat tahu kalu cukong-cukong gaek itu sudah terbiasa berbohong. Modal mereka hanya uang, termasuk dalam mendapatkan perempuan sesuai selera mereka. Mereka akan dengan mudah bicara akan menceraikan istrinya kalau Hani mau menjadi istrinya. 

"Ya, bukannya semua lak-laki pada dasarnya begitu?" tanya Hani sambil melirikku. 
Aku hanya tersenyum sembari menganggukkan kepala sebagai pertanda setuju.

*****
Jauh di dalam lubuk hatinya, Hani sebetulnya berontak dengan situasinya ketika itu. Hanya saja kebutuhan akan uanglah yang membuatnya tetap bertahan. Gambaran tentang kemiskinan di rumahnya selalu menggiring imajinasinya untuk menikah dengan pengusaha. Tak peduli sebagai istri ORI, istri KW alias bini gelap; yang penting ada iaminan untuk hidup mewah dan selalu punya uang untuk dibelanjakan.

"Pertemuan dengan pria Vietnam tadi adalah awalnya. Kami akhirnya berpacaran dan dalam waktu singkat kami langsung menikah. Setahu saya, dia memang pengusaha sukses seperti yang selalu dikatakannya saat kami kencan. Tapi taunya.....," Hani tiba-tiba menghentikan omongannya.

Tampaknya Hani tak ingin menceritakan tentang kebohongan suaminya itu. Baginya, biar bagaiamanapun hingga detik ini sang suami masih bersama-sama dengan dia. Hanya saja, ia juga tak tahan juga dengan suaminya yang ia sinyalir punya simpanan juga. 

"Dia selalu bilang gue kagak bisa hamil dan kasih anak sama dia. Dia sering mengancam kalau dia yang cari uang dan bila suatu saat dia punya anak dari wanita lain, dia enggak boleh disalahkan," Hani kembali menitikkan air mata mengenang kepedihan hidupnya.

Hingga suatu waktu Hani dan suami memutuskan mengadopsi anak. Minimal dengan adanya anak pertengkaran mereka akan semakin berkurang. Begitu juga perhatian mereka akan teralihkan ke anak disaat ada godaan untuk saling menghujat.

*****
Keberadaan anak itu memang turut memengaruhi kehidupan rumaha tangga mereka. Perlahan tapi pasti, usaha suaminya membaik, hingga bisa menyewa rumah dan menyicil mobil. Tapi, lagi-lagi, namanya anak adopsi, sang suami sulit untuk menerimanya sebagai anak.

Baru setelah 5 tahun menikah Hani mulai mengenal gereja, hingga dibaptis Katolik. Saat itu, ia mulai punya kesibukan lain selain di rumah. Sejujurnya ia tak lagi mencari pelarian ke bar, cafe atau diam-diam mengisap ganja sambil mabuk di rumahnya. 

Dari awalnya sebagai pelarian, berbagai aktivitas di gereja justru banyak memengaruhinya. Pergaulan dengan teman-teman seiman, perbincangan informal dengan para pastor dan frater ternyata banyak menggiringnya menjadi wanita yang lebih baik. 

Hingga menjelang usia ke-20 pernikahannya pada tahun depan, ia sungguh menyadari kasih Tuhan baginya, bagi keluarganya. Anak yang mereka adopsi bertumbuh normal dan kini menjadi tumpuan hidup mereka. Rumah dan kendaraan sendiri sudah punya. 

Bahkan, dua tahun belakangan ia sudah bekerja di salah satu perusahaan asuransi. Kini ia tak lagi merasa dilecehkan. Ia merasa hidupnya sangat berharga. Itu sebabnya ia selalu beramal dan memberi sebagian dari penghasilannya untuk orang yang membutuhkan. 

Kini hidupnya tak lagi kosong. Hidupnya kembali dipenuhi oleh cinta dari dan kepada Tuhan, dan keberaniannya untuk mengabdi kepada Tuhan semakin hari semakin ia cintai pula.

lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter